Fiksi

Tuhan dan Hal-hal yang Selesai

The Thankful Poor (1894), Henry Ossawa Tanner

Khotbah Jumat Paling Pendek

Kami punya khotib Jumat yang tak suka berkotbah panjang, karena itu ia disukai terutama oleh anak-anak muda yang ke masjid biasanya masih memakai seragam sekolah. Khotib itu sendiri masih muda, tapi fasih ucapannya, boleh jadi ia lulusan pondok pesantren entah di mana.

Selalu ia berkotbah pendek, sangat pendek, dan sepanjang pengetahuan saya, boleh jadi khotbah Jumat terpendek yang pernah ada. Atau meminjam sebuah kalimat berulang dalam cerita silat bersambung di sebuah koran ibukota,”teramat sangat pendek seolah tak ada lagi yang akan lebih pendek.” (Biasanya kami, para jemaah, terbiasa mendengar ceramah panjang, yang membuat kami terangguk-angguk, sulit membedakan apakah paham atau ngantuk).

Ia ucapkan puji syukur ke hadirat Allah, sholawat kepada Kanjeng Nabi, lalu pernyataan rendah hati yang mengharapkan semoga khotbah ini berguna, terutama bagi “diri saya sendiri”.

“Semoga kita jadi orang yang pandai bersyukur karena dengan bersyukur kita selamat di dunia hingga akhirat lewat pintu kubur. Dunia penuh tipu daya. Barangsiapa yang tertipu maka ia akan tak berdaya. Demikian khotbah ini,” itu satu cuplikannya. Ia lalu mendaras doa-doa pada khotbah kedua. Karena bacaan doanya lancar, maka khotbah kedua juga tak minta waktu banyak.

Jemaah bernafas lega, bilal segera melantunkan iqomah, sholat Jumat dimulailah. Sang Khotib langsung sebagai imam, dengan bacaan yang fasih tentu saja, sehingga sholat kami selesai pas ketika khotib di masjid kampung sebelah baru mengakhiri khotbah panjangnya.

Tentu jadwalnya mengisi khotbah di masjid kami sudah ditentukan, sesuai giliran para khotib. Bisa sekali sebulan atau lebih. Yang jelas, jika ia naik mimbar, kami semua merasa senang meski sering dibuat telat karena kadang saat kami masih di jalan ia sudah menutup kotbahnya. Banyak yang mengubah haluan ke masjid lain atau diam-diam balik ke rumah.

Tak ada yang keberatan, seolah memang demikianlah aturan mainnya.

Berdoa di Facebook

Seseorang menulis doa di dinding facebook-nya sekaligus mengunggah foto seseorang lain (mungkin anggota keluarganya) yang terbaring di sisi slang infus. “Ya, Tuhan, berilah hamba jalan terbaik….” Seperti biasa ada yang me-like (tak tahu apakah suka ada yang sakit atau suka doanya), satu dua berkomentar pendek, “Amiin…” atau “Semoga cepat sembuh…”

Dan ia terkejut ketika tengah malam sebuah akun bertanda “Tuhan” nyelonong masuk dan berkomentar, “Doamu Kukabulkan.” Ia tak berhasrat melacak atau sekedar membuka akun itu, melainkan menerima dengan lapang dada bahwa doanya alangkah makbul, sebab keesokkan hari, ia sudah menggunggah foto si sakit sedang tersenyum.

Falsafah Kretek

Melihat kawan-kawannya mudah dapat dana dari manajemen sebuah pabrik rokok dengan mengatasnamakan “Kelompok Pecinta Kretek”, ia agak menyesal tidak merokok. Memang tak ada aturan bahwa pecinta kretek harus merokok, namun tanpa pernah jadi penikmat kretek, rasanya kurang afdol jika membuat program pula tentang rokok.

Untuk bergabung dengan tim kampanye anti-rokok, ia merasa kurang seksi, kurang kiri. Satu-satunya cara ialah ikut merokok. Mula-mula ia beralasan merokok jika kepedasan atau kedinginan, lama-lama ia mulai tak mengindahkan keadaan. Berapa waktu kemudian ia sakit dan datang konsultasi ke rumah Mas Tomy—ahli pengobatan alternatif yang memadukan ilmu kedokteran barat dengan ketabiban timur. Menurut Mas Tomy, paru-parunya panas sebelah.

“Kok bisa, Mas? Bukankah saya perokok pemula?”

“Justru itu. Ibaratnya sampeyan merokok ketika kretek tinggal seujung—katakanlah puntung—sehingga apinya dekat ke paru atau jantung. Sedang orang yang lama merokok sudah memulainya saat batang-batang kretek masih panjang…”

Ia bingung atas penjelasan yang terkesan dikait-kaitkan itu. Tapi tak lama kemudian, Mas Tomy bilang,”Sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu mengapa seorang yang sering berbuat onar selalu selamat, dan orang yang sesekali berbuat onar langsung tercemar.”

”O, aku paham,” katanya, lalu ia sampaikan perumpamaan—lebih tepat, pengalamannya. “Saat membakar sampah, api yang kuharap nyala sering padam, tapi saat melempar puntung rokok, apinya malah membesar. Itu yang dulu kulakukan di gudang tembakau A Kiau.”

Mas Tomy sebenarnya kaget, tapi mencoba tersenyum dan mengangguk. “Itu!”

Ternyata Dia Paling Kaya Hari Itu

Mula-mula dia merasa sebagai orang paling sengsara di dunia. Di rumah bersisa setekong-dua tekong beras. Susu dan popok bayinya habis. Anaknya yang lain mematung melihat pedagang es lilin berlalu di muka rumah.

Beruntung, istrinya dengan wajah tersenyum memintanya pergi ke atm. Ada sedikit saldo yang rencananya untuk menambah biaya bulanan si sulung di pondok.

“Pakai dulu, Bang, biaya Buyung nanti pikirkan lagi. Amir, sini, Nak, doakan ayahmu ada rezeki,” kata istrinya sambil menggamit bahu si bocah. Si bocah mengangkat tangan, berdoa.

Diiringi doa anaknya, berangkatlah ia ke atm, meski tahu saldonya tak seberapa. Tapi cukuplah beli lauk serta mencari susu dan popok bayi ukuran sedang. Ia bahkan tak berkenan melirik jumlah saldo di layar, saat mesin atm mengembalikan kartunya sambil mengeluarkan sedikit uang.

Ke luar dari atm, ia disambut pengemis yang tampak menderita. Bahkan penderitaan membuatnya tak perlu lagi mengangkat tangan minta belas kasihan. Maka, selembar lima ribuan diselipkan tokoh kita ke telapak tangan pucat yang menolak tengadah itu. Setelah itu ia putuskan mampir di kontrakan sahabatnya, sebab sudah dua pekan ini mereka tak saling kontak. Biasanya ada saja sms atau telepon mengenai lokasi tanah atau motor yang dijual. Sebagai calo tanah dan perantara jual-beli barang, ia dan sahabatnya itu sering berbagi kabar.

Apa yang ia lihat di rumah sahabatnya itu sungguh membuatnya nelangsa—kaget karena merasa sebagai orang yang kaya. Betapa tidak. Sang sahabat, menurut pengakuannya, sudah dua hari tak makan nasi. Hanya minum air gula dan makan putik jambu yang jatuh di halaman.

“Kenapa tak sms?” tanyanya merasa bersalah.

“Tak ada pulsa,” jawab si sahabat lemah.

“Tapi kok tak diangkat waktu aku telepon?”

“Batrei hp-ku habis, pulsa listrik juga habis.”

Ia edarkan pandangan.

“Mana Ira dan anakmu?”

“Mereka minggat…”

Cukup sudah. Tak bisa ditawar lagi, hari itu ia benar-benar merasa sebagai orang paling kaya sekaligus beruntung di dunia. Betapa tidak. Ia masih memegang sedikit uang di tangan. Juga masih ada senyum istri dan anaknya yang berdoa sebelum berangkat tadi. Meskipun ia urungkan membeli susu dan popok bayi ukuran sedang, dan menggantinya dengan bungkusan kecil, toh ia sanggup membuat sahabatnya kenyang dan listrik di rumah itu menyala lagi. **

To Top