Puisi

Tiga Sajak Abdulla Tuqai — Penyiar Tatarstan

Woman of Allah. Shirin Neshat

PERJANJIANKU

Kembalilah, ya jiwaku yang tenang! Bertobatlah pada Tuhanmu!
Kini kau harus kembali pada-Nya, dan ikuti perintah-Nya!
Kawan, kerabat, katakan pada para mullah:
Bahwa mereka akan membaca dua syair ini di kuburku.
Orang-orang tak beriman akan sangat heran mendegar kata-kata terakhirku:
Lihatlah betapa keyakinan dan al-quran memenuhi jiwaku!

Woman of Allah. Shirin Neshat

PENGARUH

Di saat paling sulit dan keras dalam kehidupan;
Jika aku terbakar dalam api rindu dan kepedihan:
Cepat kubaca sebuah bagian indah dari al-quran,
Seluruh luka direnggut oleh tangan gaib yang terulur dari jiwa.
Bahkan seluruh keraguan terbang dari hati dan aku pun mulai menangis:
Dengan tangisan suci kuurai mutiara di pipi;
Hatiku sungguh bersih, kubaca iman dan menjadi seorang mukmin;
Rasa nyaman melingkupi: aku terbebas dari beban berat menghimpit ini;
Ya Allah! Segala yang kau larang sepenuhnya tertolak dan rusak, ucapku.
Aku pun bersujud dan berkata “Allah Maha Benar! Allah Maha Besar!”

1908

Woman of Allah, Shirin Neshat

TUHAN MAHA BESAR

Ya tampan, ya permata, ya anak kecil tanpa dosa!
Betapa dalam kasih sayang Tuhan, bersandarlah pada-Nya!
Ya Tuhan! Tunjukan padaku jalan terang bumi ini;
Ia pemurah, memiliki kasih sayang lebih besar tinimbang orangtuamu!
Jiwamu masih murni; tak ada pikiran kotor di dalamnya,
Lidahmu masih bersih, tak pernah mengucap kata-kata tercela.
Tubuh dan jiwamu sungguh bersih, demikian pula seluruh tubuhmu!
Engkaulah remah-remah malaikat; wajahmu putih bersih!
Berdoalah, lepaskan semua ikatan dan bersujudlah menghadap kiblat,
Ketahuilah bahwa dari jiwa yang murni terbentang jalan lurus ke singgasana Tuhan!
Ya tampan, ya permata, ya anak kecil tanpa dosa!
Betapa dalam kasih sayang Tuhan, bersandarlah pada-Nya!

1901

Abdulla Tuqai (1886-1913) adalah sastrawan Tartar. Ia merupakan seorang penyair dan kritikus. Tuqai yang mati muda selalu dianggap sebagai sastrawan terbesar Tartar. Anggapan demikian muncul lantaran keberhasilan Tuqai mendobrak tradisi sastra Tartar dengan menggunakan bahasa yang lebih segar dan modern dalam karya-karyanya. Di Indonesia, posisi Tuqai—sekaligus umurnya yang pendek, 27 tahun—mengingatkan kita pada Chairil Anwar.

To Top