Buku

The Vegetarian dan Kesusasteraan Korea di Mata Dunia

Tak hanya lewat aksi enerjik para penyanyi K-Pop dan paras cantik para pemain film dramanya, kini dunia sastra Korea pun telah berhasil menjadi pemain utama dalam panggung sastra dunia. Bermula dari London Book Fair, wajah kesusasteraan mulai terangkat dan diperhitungkan di panggung sastra dunia. Jika sebelumnya, pembaca sastra dunia lebih percaya terhadap karya sastra Jepang dan Cina, maka perlahan-lahan sastra Korea mulai bangkit dan mendapatkan perhatian bagi pembaca sastra dunia.

Dengan gencarnya penerjemahan karya sastra Korea ke berbagai bahasa membukitkan bahwa sastra Korea siap mendunia. Begitupula ditambah dengan berhasilnya penulis Korea Selatan bernama Han Kang yang memboyong penghargaan prestisius sebagai pemenang Man Booker International Prize tahun 2016 lewat novelnya berjudul The Vegetarian semakin membuat nama sastra Korea Selatan mendunia.

Meski tak ada yang menyangka bahwa perempuan kelahiran Gwangju yang akhirnya membawa gelar prestisius dengan menyingkirkan nama-nama besar seperti novelis Italia Elena Ferrante, Orhan Pamuk, dan lain sebagainya, dalam novelnya Hank Kang menceritakan tentang seorang tokoh bernama Yeong-hye yang memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian.

Keputusan untuk menjadi seorang vegetarian tersebut ia dapatkan setelah kerap mendapatkan mimpi buruk yang terus menghantuinya. Pada akhirnya dari serangkaian peristiwa meresahkan tersebut datang berbagai cobaan hidup seperti perceraian, hubungan buruk terhadap orang tuanya,  dan risiko yang harus ia tanggung karena mengambil jalan sebagai seorang vegan. Jika kini vegetarian merupakan salah satu gaya hidup, namun justru dalam cerita vegetarian tersebut menjadi persoalan dan mengacaukan banyak hal.

Bukan ingin menggambarkan sebuah cerita yang mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari seorang vegan, namun The Vegetarian lebih menceritakan tentang ketakutan dan masalah psikis si tokoh yang diceritakan lewat tiga sudut pandang yang di antaranya adalah sang suami, kakak iparnya, dan kakak perempuannya. Dari ketiga sudut pandang tersebut, Yeong Hye mendapatkan pelabelan dari ketiga tokoh, dimana sang suami yang bingung, kecewa dan marah, sang kakak ipar yang penuh nafsu, dan saudara perempuannya yang merasa sedih serta bingung dari tindakan yang dilakukan oleh Yeong-hye.

Han Kang

(Dok. istimewa)

Meski hanya semacam justisifikasi terhadap tokoh, novel ini dibagi menjadi tiga bagian cerita yang di antaranya The Vegetarian, Mongolian Mark, dan Flaming Trees yang setiap bagiannya dinarasikan oleh ketiga tokoh tersebut. Dengan narasi cerita yang sangat menarik, The Vegetarian justru malah menampilkan nuansa yang sangat horror dan mencekam.

Han Kang mendapatkan ide ketika tengah menulis tentang vegetasi atau tanaman ketika masih menjadi seorang mahasiswi. Selain itu, ia juga memiliki minat terhadap kekerasan dan kemanusiaan. Novel tersebut merupakan kembangan dari cerita pendeknya yang berjudul “The Fruit of My Woman,”  yang dibuat pada 1997, kemudian ia membangun ulang narasinya menjadi sebuah novel yang lebih gelap dan mencekam.

The Vegetarian pertama kali diterbitkan di Korea Selatan pada tahun 2007 oleh penerbit Changbi. Kemudian Penerbit ASIA membeli hak buku tersebut kemudian menerbitkan sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan didistribusikan di seluruh Korea Selatan. Novel ini juga telah berhasil diterjemahkan ke dalam Sembilan bahasa termasuk Bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, China, dan sebagainya. Penerjemahan ke dalam bahasa Inggris tersebut dilakukan oleh Deborah Smith yang kemudian pertama kali diterbitkan pada bulan Januari 2015 di Inggri dan pada bulang Februari 2016 di Amerika Serikat. Hingga pada akhirnya, tepat pada Mei 2016, Han Kang lewat The Vegetarian berhasil menyabet gelar dalam penghargaan Man Booker International Prize untuk tahun 2016. Inilah salah satu prestasi terbaik Sastra Korea tampil di mata dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top