Buku

The Four Books:Menantang Tragedi Masa Lalu China

yan lianke-syahrazade.com

 

SYAHRAZADE- The Four Books merupakan sebuah kisah yang diilhami dari peristiwa reformasi ekonomi di era Mao yang harus menewaskan sekitar 36 juta rakyat lewat kebijakan tersebut. Great Leap Forward sebuah program yang disusun langsung oleh Partai Komunis Tiongkok, dimana tujuan utamanya adalah pembangkitan ekonomi Tiongkok lewat jalur industrialisasi secara besar-besaran serta memanfaatkan jumlah tenaga kerja dengan harga murah.

Lewat narasi yang amat apik ini, seorang penulis China, Yan Lianke menuliskan kisah tersebut ke dalam sebuah karya berjudul The Four Books. Dengan mengambil realitas yang terjadi pada masa tersebut, dimana kelaparan, penjarahan, serta penghabisan intelektualitas, dan penyalahgunaan kekuasaan dibangun lewat jalan  cerita dengan tampilan gaya tutur satire ala Orwellian.

Cerita ini secara garis besar mengisahkan akan impian ekonomi China yang terobsesi menjadi negara adikuasa dunia, dimana salah satu langkah kecilna dilakukan lewat penduduk desa dari suatu distrik diharapkan mampu memecahkan rekor sebagai penghasil tanaman biji-bijian dan baja terbesar dunia. Hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk mengejar ketertinggalan akan keberhasilan ekonomi Inggris dan Amerika Serikat yang melenggang di kancah dunia. Cerita fiksi inilah yang kemudian mendorong Yan Lianke menggarap karyanya dengan mengambil tema kegilaan, penderitaan, serta hilangnya suatu kepercayaan diri, dimana semuanya tampil dalam The Four Books.

syahrazade.com

The Four Books (Dok. istimewa)

Lewat The Four Books, Yan Lianke tak jarang memasukkan metafor yang amat cemerlang dalam ceritanya. Novel ini dibuka dengan sebuah penggambaran lanskap bernama distrik 99 yang terletak di tanggul Sungai Kuning, dimana para kriminal di distrik tersebut mendapatkan pendidikan lanjut mereka dengan kerja keras. Mereka dituntut untuk bekerja sebagai upaya memenuhi produksi biji-bijian dan besi.

Karakter-karakter yang menonjol di daerah ini adalah anak kecil, seorang pemimpin tingkat rendah di sebuah partai, komunisme serta konsep reward-punishment, dan para intelektual. Tiap orang tersebut mendapatkan beban pekerjaannya masing-masing. Setiap orang dalam kamp tersebut juga berlomba-lomba untuk mendapatkan reward dengan cara mencari kesalahan terhadap rekan sekamp, dan tak disadari pula bahwa sebenarnya mereka telah diadu untuk saling mencurigai satu sama lain.

Pada akhirnya setiap orang di distrik tersebut akan merasa bahwa orang lain adalah penjahat dan muncul bayang-bayang ketidakpercayaan antar sesama. Semua orang merasa diawasi dan merasa dipersempit hak kebebasannya. Sekilas kisah ini mengingatkan kita pada karya George Orwell 1984, dimana setiap pikiran warga negaranya dikendalikan oleh partai yang berkuasa. Setiap ucapan disadap, tak ada naluri seksual antara suami-istri, bahkan urusan pernikahan pun ditentukan  oleh partai.

Dengan The Four Books Yan Lianke mencoba menguak akan gambaran pada masa transisi  tradisional Cina dari era kekaisaran menuju era baru yaitu komunisme. Yan Lianke mencoba menceritakan akan penderitaan manusia di masa tersebut. Ia mengantarkan pembaca pada akhir yang pahit, dimana pada akhirnya cuaca buruk dan kelaparan melahirkan para penjahat melakukan tindak kanibal. Mereka pun mencuri dan menjual apapun sebagai usaha untuk bertahan hidup.

Lewat novelnya tersebut, Yan Lianke berhasil menjadi finalis untuk Man Booker International Prize 2016, dimana pada tahun tersebut novel The Vegetarian karya penulis Korea Selatan, Han Kang yang berhasil menyabet gelar tersebut. Yan Lianke merupakan salah satu penulis kehormatan China yang mendapatkan larangan. Dia menghabiskan dua dekade sebagai penulis propaganda militer, namun karir tersebut akhirnya harus raib setelah ia mempublikasikan karyanya berjudul The Joy Living.

Dalam kata pengatar  novel tersebut, Yan Lianke menuliskan bahwa The Four Books merupakan sebuah kerja kreatifnya yang didasari tanpa ambisi dan tanpa mempedulikan prospek diterbitkan, meskipun sebelumnya ia memimpikan karyanya dapat diterbitkan di negerinya sendiri. The Four Books merupakan sebuah pembuktian Yan sebagai penulis modern China yang dilarang, dimana novel ini menangkap aspek kehidupan Cina yang sulit untuk dibayangkan, diterka, terlebih dipahami oleh orang asing.

The Four Books juga merupakan sebuah pembuktian akan keberanian Yan Lianke menantang tragedi masa lalu China, dimana ia menghadapi sejarah dan berperan sebagai seorang penulis yang memegang teguh kewajibannya menuliskan jutaan orang yang meninggal tanpa pengakuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top