Humor

Sejarah Kentut: Dari Tawa Hingga Membuat 1000 Orang Meregang Nyawa

Kentut. Barangkali kata tersebut tabu untuk dibahas, atau terlalu memalukan untuk diperpanjang menjadi sebuah artikel berisi 500 kata. Tapi tunggu dulu, baiknya hentikan dulu bayangan tentang kentut sebagai hal yang tabu.  Karena menurut beberapa orang, masyarakat dan kebudayaan tertentu, kentut menjadi sebuah lambang yang memiliki pesona tersendiri. Bagaimana bisa disebut hal yang memalukan jika kini kentut diabadikan dalam serial buku anak-anak di Amerika Serikat berjudul “Fart Squad”?

Berlainan dengan apa yang dipahami di kebudayaan Nusantara, kentut dipercaya memiliki nilai spiritualnya. Manicheanisme merupakan sebuah keyakinan yang populer di akhir Zaman Antik, di mana Santo Agustinus dipercaya sebagai salah satu anggota. Setiap anggotanya meyakini bahwa kentut merupakan aksi pembebasan “cahaya” ilahi dari dalam tubuh. Dan barangkali, menurut salah satu tulisan Robin Lane Fox, “Manichaenisme merupakan satu-satunya keyakinan di dunia yang mempercayai kekuatan penebusan dosa dari kentut”.

Namun sebenarnya, Machieanisme bukanlah satu-satunya kelompok klasik yang memberikan perhatian lebih terhadap fenomena kentut. Ahli klasik Andrew Fenton mengungkapkan, filsuf Pythagoras mengkhawatirkan jiwa manusia bisa keluar melalui kentut. Dan sebagai seorang ahli klasik, dengan senyum kecutnya, Andrew mengungkapkan bahwa hal tersebutlah yang melatarbelakanngi pengharamanan buncis bagi pengikut sektenya.

Ketakutan masyarakat klasik makin diperkuat dengan beberapa kisah, dan memang lebih dari satu, yang menjadikan kentut sebagai salah satu latar belakang dimulainya peperangan. Menurut sejarawan Yunani Kuno, Herodotus, sebuah kentut menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang berpuncak pada pemberontakan rakyat terhadap Raja Mesir Apries. Pada abad-abad pertama di Jerusalem, gaung cerita kentut menggema dengan horor. Sejarawan Josephus mengisahkan seorang prajurit Romawi tanpa sopan santun menurunkan celananya di depan umum, lalu menungging sambil berkata “sesuatu  yang bisa dibayangkan dengan gaya tersebut”. Insiden ini terjadi sebelum hari raya Paskah, dan menyebabkan kericuhan yang berakhir pada kematian lebih dari 10.000 manusia.

Peristiwa terbaru akibat kentut, meski tidak dilakukan secara terbuka dan hanya digunakan sebagai analogi saja, terjadi saat rapat parlemen Kanada. Peristiwa bermula tatkala salah satu anggota parlemen dari Partai Konservatif menuding pemerintah memperlakukan provinsi Albera “layaknya kentut di dalam ruangan”. Kala itu, pemimpin Partai Hijau mengajukan keberatan atas penggunaan analogi yang digunakan  karena dianggap kurang pantas. Hingga akhirnya kejadian tersebut berbuntut panjang di dunia maya, ketika netizen mulai memberikan tanggapannya.

Tentu saja kentut tidak hanya berkonotasi buruk dan pemicu peristiwa buruk pula. Pakar Sejarah Ilmu Alam dari Universitas Notre Dame, Dr. Jessica Baron, menyampaikan bahwa sejumlah ilmuwan pada zaman kuno pernah berspekulasi untuk menemukan relasi antara kentut dan sex. “Kenyataannya, fisikawan dari abad kedua, Galen, menyamakan kentut atau makanan yang bisa memicu kentut dengan zat perangsang, sebagaimana yang dipercaya oleh para pengikut Galen. Hugo Fridaevallis, seorang Galenis tulen dari bidang fisika, menuliskan kentut dalam jurnalnya di tahun 1569. Dirinya menjelaskan bagaimana produksi gas buang saat ereksi, dan jug merekomendasikan makanan penghasil angin (dalam hal ini asparagus) sebagai alat bantu pengantin baru pada malam pertama.”

Hal yang menarik dari kentut ternyata tidak hanya dari nilai spiritualitas atau pemicu konflik berkepanjangan saja. Menurut catatan sejarah, penggunaan kentut sebagai bahan humor telah ada sejak tahun 1900 SM. Adalah bangsa Sumeria yang pertama kali menggunakannya dalam sebuah pepatah yang kira-kira bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi, “Sesuatu yang sudah lama tak pernah muncul; seorang wanita muda tak mengentut di pangkuan suaminya”. Tema yang sama muncul kembali dalam tulisan-tulisan naskah drama karya Aristophanes, lalu dilanjutkan oleh Shakespeare, Chaucer, Mark Twain dan dalam cerita “Seribu Satu Malam”.

Dalam beberapa kasus, humor kentut dianggap terlalu memalukan sebagai konsumsi publik. Dalam terjemahan bahasa Inggris naskah “Seribu Satu Malam” abad 19, semua sub-cerita yang menjadikan kentut sebagai bahan candaan dihapuskan, kecuali naskah-naskah terjemahan Richard Burton. Novel karya Mark Twain yang berlatarbelakang masa Elizabeth I diterbitkan secara anonymous karena kentut turut serta dalam cerita. Dan yang paling mutakhir, tahun 2014 lalu, distributor film Columbia Pictures menunda rilis film The Interview hanya karena menangkap adegan kentut pemimpin besar Korea Utara, Kim Jong Il.

Perihal kentut tampaknya bermakna longgar di Indonesia. Sering kita jumpai acara-acara komedi di Televisi menampilkan atau memberikan, adegan kentut sebagai salah satu ramuan bumbu terakhir. Tentu saja itu terjadi dalam kondisi parodikal. Salah satu contohnya adalah penggunaan kentut sebagai judul dan tema dalam film drama-komedi garapan Aria Kusumadewa yang dirilis tahun 2011. Saat film ditayangkan di televisi, yang terjadi bukanlah kernyit jijik atau perasaan tidak enak karena menganggap hal tersebut tabu untuk dibahas dalam film berdurasi 60 menit. Barangkali, masyarakat Indonesia lebih empan papan dalam memaknai dan memperlakukan kentut, sehingga horror-horor yang disebutkan di atas pun jarang kita temui dalam khazanah sejarah lokal maupun nasional.

To Top