Suar

POTRET DANGDUT: dalam sebuah Refleksi Otokritik

syahrazade.com

Beberapa waktu lalu, 19 September 2017, karya saya “Potret Dangdut” mendapat kehormatan untuk diujicobakan perdana di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) oleh Jakarta City Philharmonic (JCP) – wadah yang menurut saya tidak main-main. Dengan proses dan permenungan yang tidak sebentar, akhirnya mendapat apresiasi yang cukup baik dari banyak pihak, –tanpa berlebihan– sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi saya yang notabene ‘pemula’ dalam penciptaan musik.

Saya tidak ingin terus-terusan terhanyut (baper) dalam suasana romantisme atas penghargaan tersebut. Saya ingin karya saya bisa lebih ‘hidup’  lagi. Karya  saya tersebut bisa dikritik, di-nyinyir juga boleh – sah-sah saja dan itu yang saya tunggu-tunggu. Justru saya lebih seneng, ketimbang disanjung2 melulu, di-Wow2- kan, atau bahasa tren sekarang ‘viral’. Dan seketika kembali ke kampung dapat julukan “wah sudah jadi atris, go Jakarta…dsb.”. Memang apa itu epistemologi artis? Artis atau selebritis? Apakah keberhasilan sebuah karya itu hanya diukur dr ketenaran? TIDAK. Menjadi penyakit akut jika sudah punya nama melanglang buana, jika ia tak lagi punya kesadaran untuk terus “belajar”. Begitu pula saya, mungkin saja penyakit itu bersarang dalam diri saya tapi saya ndak sadar,  walaupun sering koar-koar sebagai penganut paham “belajar tanpa akhir” – bisa jadi.

Saya mendasari pemikiran dalam karya saya “Potret Dangdut”, bahwa dangdut bukan sekedar musik “an sich” (berbicara hanya atas dirinya sendiri), tetapi dangdut berhubungan erat dengan ranah di luar estetikanya secara kompleks. Baik itu persoalan sosial, agama, ekonomi, politik, bahkan kebudayaan. Maka, saya percaya bahwa di dalam musik dangdut antara dimensi intra-musikal dan ekstra- musikal          saling   terkait  satu   sama lain.

Dengan catatan, kedua aspek ini membutuhkan riset dan elaborasi lebih mendalam untuk memformulasikan dalam sebuah tesis penciptaan musik.

***

Orkes Melayu (OM), barangkali sebagian kita belum banyak yang ngerti kenapa dilabeli “ORKES” (label barat) dalam musik-musik Melayu (musik timur)? Berkembang lagi ada orkes keroncong, ada orkes dangdut pula – walaupun agak jarang dinamakan “orkes dangdut”. Pula, teman-teman dangdut nampaknya lebih suka dengan sebutan OM (Orkes Melayu) daripada OD (Orkes Dangdut) meski yang dilantunkan lebih dominan irama dangdutnya, bahkan irama Melayunya sedikit atau malah jarang ditemukan.

Apabila dilihat dari rekam historisnya –sejauh yang saya ketahui– kenapa disematkan nama “Orkes” dalam musik Melayu, adalah dalam rangka “perlawanan” terhadap dominasi Barat (baca: musik kaum penjajah). Yakni untuk menyejajarkan sekaligus membedakan musik Melayu dengan musik Barat (dalam hal ini orkestra) yang dianggap seni tinggi dan adhiluhung, produk lingkungan istana. Makanya dengan cara melabelkan istilah “orkes” tersebut diharapkan musik Melayu bisa sejajar dengan musik Barat. Dalam konteks ini Orkes Melayu juga memiliki nasionalisme kultural (cultural nationalism) dalam upaya mempertahankan eksistensi musik lokal (lebih lengkapnya lihat catatan Lono Simatupang, 2013).

Tetapi dampak implikasi ideologisnya, nampaknya musik lokal (dangdut) terlanjur mengalami stigmatisasi secara sistemik. Tidak sedikit yang mendudukkan vis a vis antara dangdut dan musik klasik orkestra, atau musik-musik lainnya yang dianggap berkelas. Ini adalah perdebatan umum antara musik tinggi vs musik rendah, musik istana vs musik rakyat. Di sini, penulis sekaligus pencipta karya secara subyektif berupaya melepaskan diri dari perdebatan yang tidak produktif semacam itu. Penulis meyakini bahwa persoalan mendasarnya ialah hanya terletak lebih pada relasi hegemoni kekuasaan, (mungkin) bukan ranah estetis saja. Kenapa seni/musik dianggap tinggi, sebab ia di-uri-uri (dilestarikan) istana, dan biasanya tidak lain hanya sebatas kepentingan legitimasi kekuasaan. Begitu pula sebaliknya dengan musik yang dianggap seni/musik rendah, biasanya selalu disematkan pada seni-seni yang berbau kerakyatan. Di sini penulis bukan menampik sepenuhnya pandangan tersebut, tetapi penulis lebih meyakini bahwa tinggi-rendah sebuah karya musik lebih tergantung pada bagaimana mengembalikan musik pada ranah ‘seni bunyi’ secara substantif. Dan, bagaimana musik memiliki kontribusi yang besar dalam membangun sebuah peradaban kemanusiaan.

Nah, kembali lagi pada dilematika musik dangdut. Dalam perkembangannya dangdut selalu berbenturan dengan berbagai aspek yang disebutkan di atas, baik sosial, agama, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Akibat benturan-benturan tersebut, menyebabkan musik ini seringkali terombang-ambing seiring berjalannya waktu. Sehingga misi sosial musik dangdut semakin absurd, saya pikir ini momentum untuk merefleksikannya kembali terkait cita-cita utama yang tertanam dalam musik “rakyat” ini ke depan, yakni misi kemanusiaan.

Kalau dangdut sudah terlanjur terkonstruksi sebagai “musik rakyat”, kita juga berhak mempertanyakan ulang, seperti: siapa yang merekonstruksi? Atas tujuan apa dan untuk kepentingan apa? Kalau seorang Profesor Andrew N. Wintraub (2010) mengidentifikasi dalam tiga kategori: “dangdut adalah rakyat”, “dangdut untuk rakyat”, dan “dangdut sebagai rakyat”. Bagi saya analisa tersebut cukup menarik, sekilas menggambarkan bahwa dalam dangdut menarasikan sistem masayarakat yang ideal dan cukup demokratis.

Lalu apakah identifikasi itu telah/akan berjalan mulus sesuai yang diimpikan? Saya lebih percaya bahwa seni pada dasarnya adalah –meminjam ungkapan Smiers (2009)– “arena perjuangan”. Kadang kita mengamati seni selalu identik dengan masa-masa terbaik dalam hidup, momen-momen harmonis, keindahan, menyenangkan, dan menghibur. Itu memang benar. Tetapi ada hal lain yang tidak bisa disangkal, bahwa seni adalah arena pergulatan batin, konflik-konflik sosial, dan persoalan status dalam diri manusia, yang saling tarik menarik secara lebih ketat dibandingkan ranah komunikasi sehari-hari. Begitu pula musik dangdut, yang bagi penulis tidak semata persoalan panggung hiburan saja, tetapi juga bergulat dalam ranah realitas kehidupan yang lebih kompleks.

Maka dari itu, sampai sini dapat kita pertanyakan Apakah dangdut dapat menjadi garda depan dalam mengawal aspirasi dan kesadaran kritis masayarakat? Walaupun ini membutuhkan sikap lebih pada keberpihakan, dan saya pikir amat utopis. Ataukah justru akan ‘selalu’ mengekor pada sekelompok kepentingan tertentu, yang hanya akan menempatkan dangdut untuk alat hegemoni, meninabobokan, atau bahkan bisa jadi senjata pemusnah nilai-nilai humanisme? Penulis bukan dalam rangka menjawabnya. Penulis percaya bahwa dangdut sebetulnya mempunyai modalitas utama, yakni lagu-lagunya memiliki ikatan yang kuat dengan memori kolektif dari basis massa yang cukup besar. Tinggal para tokoh dan pelaku-pelakunya saja mau mengarahkan dangdut ini kemana.

***

Di awal, penulis berharap bahwa karya “Potret Dangdut” agar bisa lebih„hidup‟ lagi. Bagaimana caranya? Apakah hanya dengan cara mementaskannya dengan orkes-orkes ternama dari panggung ke panggung karya musik akan selalu hidup? Belum tentu. “Kritik”, bagi penulis, merupakan prasyarat utama untuk menghidupkan sebuah karya musik, selain menjaga eksistensinya di panggung. Kenapa kritik musik begitu penting? Sebab melalui kritik musik karya seni dapat berdialektika secara lebih luas serta kontekstual dengan berbagai sudut pandang dan disiplin pengetahuan. Ini yang belum banyak ditradisikan dalam kehidupan akademis musik kita.

Kalau karya saya dinilai bermuatan kritis (terlalu ideologis), kiranya amat terbuka bagi banyak pihak untuk ‘menyerang’ (mengkritik) balik karya saya selagi dengan cara yang lebih konstruktif dan diimbangi semangat belajar. Kritik musik bisa meliputi aspek intra-musikal ataupun ektra-musikal. Intra-musikal dapat berupa analisa material musikal meliputi instrumentasi, melodi, harmoni, bentuk lagu, ataupun lainnya. Bisa saja eksplorasi bunyi yang saya lakukan kurang begitu maksimal. Atau, karya saya tanpa sengaja menyerupai karya yang sudah ada ketika dilihat dari alur melodi ataupun struktur musiknya secara umum.

Penulis berpikir bahwa dalam dunia penciptaan hal itu sangat mungkin terjadi, karena bagaimanapun juga tidak ada hal yang sama sekali “baru” dalam karya seni. Segala aspek material yang terorganisir di dalamnya pada dasarnya sudah ada sebelumnya, tinggal bagaimana si pencipta karya berkreasi dan berinovasi menjadi sebuah “kebaruan”, atau paling tidak bernuansa kekinian (berbeda dari yang sudah ada). Itu yang baru saya ketahui, barangkali pengetahuan saya juga yang belum begitu update.

Begitu pula bila dilihat dari aspek ekstra-musikalnya, hal ini memungkinkan bahwa karya musik dapat dibaca dari berbagai macam perspektif lain berkaitan dengan diskursus-diskursus yang lebih aktual hari ini. Sudut pandang lain amat diperlukan dalam „membaca‟ musik supaya apa yang dikatakan sebagai “bahasa universal” di dalam musik dapat terbukti. Dan juga untuk membuktikan bahwa musik cukup dinamis dan terbuka, serta kaya akan pengetahuan. Kalau penulis menyatakan bahwa dalam kasus karya saya, Potret Dangdut, dengan mengembalikannya pada hakikat „seni bunyi‟, karya musik akan dapat menemukan kembali ruh daya kritisnya. Ini juga sebagai upaya untuk menepis dan memberi pembelajaran kepada kita bersama yang selama ini lebih mementingkan aspek visual dan kadang lebih menihilkan hakikat bunyi.

Pada saat yang bersamaan, siapapun boleh menyanggah bahwa dengan pengemasan ulang musik dangdut ke dalam musik orkestra Barat secara murni, apakah masih bisa menjaga „aura‟ musik dangdut? Apakah masih bisa menyuarakan “rakyat” yang merupakan brand dari musik ini? Ataukah dengan kemasan orkestra yang lebih megah dan terkesan „mahal‟ justru memisahkan musik dangdut dari masyarakatnya, mengingat penikmat orkestra hanya dari kalangan dengan tingkat intelektualitas tertentu – biasanya juga  kalangan menegah ke atas.

Kalau yang terjadi demikian mau tidak mau dengan terpaksa dangdut mengalami apa yang dinamakan alienasi dan reifikasi, sehingga tercerabut dari massa pendukungnya (rakyat). Sama halnya dengan musik jazz yang berakar dari musik rakyat wilayah Afrika, setelah mengalami gelombang industrialisasi akhirnya menjadikan musik ini semakin „elite‟ dan hanya dapat dinikmati oleh kelas sosial tertentu. Atau, dengan karya baru ini dapat menjadi penanda gejala baru dalam fenomena musik dangdut di masa depan? Yang jelas “Potret Dangdut” hanya satu banding seribu karya dangdut yang sudah bertebaran di mana-mana, dan kiranya mustahil akan mendominasi dunia musik dangdut, wong dijogeti saja susah…!!. Penulis juga merasa yakin bahwa karya seperti “Potret Dangdut” ini akan jauh dari kata “laris/laku” dalam ranah ekonomi-politik.

Risalah kecil ini bukan bermaksud apa-apa, bukan pula untuk menyudutkan pihak sana-sini. Ini hanya sebagai sebuah refleksi pada diri penulis sendiri sebagai pembuat karya yang kiranya juga harus bertanggung jawab terhadap karya yang dilahirkannya. Catatan ini adalah sebagai ijtihad keberlanjutan karya musik yang berjudul Potret Dangdut, dengan harapan dapat menjadi medium untuk terus belajar. Bagi penulis, kesadaran untuk belajar akan sulit terbangun sebelum bisa – meminjam ungkapan Gus Dur– “menertawakan diri sendiri”.

Semoga berkenan…!!!

To Top