Puisi

Petang Penuh Pujaan ~ Puisi Frischa Aswarini

SEEKOR BURUNG BISU

/1/
Subuh itu di puncak cemara
seekor burung termangu
seperti lupa lagu paginya

seolah linglung
mungkin setengah limbung
hanya sesekali digerakkan paruhnya
di ketinggian sana

tahun baru sudah menyala
dalam kembang aneka warna
semalam dirayakan kala pesta

/2/
wahai burung bermata remang
apa yang buatmu kesepian
sedihkah kau karena usia
bakal merontokkan sayap, angan
dan segala yang kau punya?

subuh ini aku sedang ingin berdoa
mari, biar kusebut untukmu salah satunya
walau selalu aku tak tahu
kapan mukzizat akan tiba

apakah setelah dentang
lonceng kuil yang pertama
khusuk mantra pendeta
atau sesudah sebuah puisi tulus hati
usai dituliskan?

/3/
beberapa waktu
setelah tahun baru
akhirnya kutahu
burung itu
sudah lama bisu

setiap subuh
ia kembali ke tempat itu
terdiam di atas cemara
meraba kicauan ibunya di udara

Kini giliranku yang termangu
subuh ini menantinya
di bawah pohon itu
seekor burung
yang selalu hinggap
di atas mimpiku

 

Di Bahu Raksasa, foto Ahmad Syafiq

 

PETANG PENUH PUJAAN
: Desa Tenganan

Bila ini sudah waktunya,
maka menarilah
sebagaimana biasa
seperti dedaunan
pada bukit dan hutan kayu

Atau tirukan suara kuda itu
yang menyisakan penggal jejak
di dinding batu
desa tua ini

di mana seekor lebah
tertidur lelah
di ujung atap
mengigau tentang kemilau embun
yang jatuh di rambutmu
di petang
penuh pujaan ini

Menarilah bagai
setangkai ranting
di mana alunan surgawi
mungkin menghanyutkanmu
ke mata air

Kembali pada ruh
Kepada tubuh
tak tersentuh

yang menyelipkan namamu
di celah indah sebatang pohon
tempat tinggal para leluhur

Sentuhkan jarimu
pada genang cahaya
dan junjunglah doa ini
hingga tak ada dewa
yang memberimu dosa

ujarkan pula padanya
tentang wangi dupa
dan asap bunga
yang mengawankan angan
masa depan seorang belia
atau seekor lebah tua setia
yang mati sia-sia

Menarilah saudaraku
seperti nyanyian surgawi
seperti ingatan pada leluhur
yang tak kuasa
tiada

To Top