Fiksi

Perempuan yang Sedang Mendengkur — Cerita Rella Mart

Flaming June, Frederic Leighton

Pekerjaan yang harus kulakukan tiap hari bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak cukup hanya dipelajari dengan ribuan teori serta praktek saja, latihan bertahun-tahun belum tentu membuat seseorang mampu melakukan pekerjaan yang sekarang ini kugeluti. Doktrin yang kuat dan penyampaian yang tepat tiap saat banyak membantu membulatkan batin untuk menunaikan tugas ini.

Tapi sungguh sial, jaman sekarang ini banyak masyarakat yang tak mempercayai para pekerja seperti aku ini, walau tentu saja di antara kami sendiri, posisi sepertiku laksana puncak dari sebuah kehormatan. Tak semua orang bisa melakukan meski pun posisinya di atasku. Sudah kubilang, dibutuhkan lebih dari sekedar teori, doktrin dan latihan khusus, pangkat tak menjamin tapi jadi jaminan khusus.

Minotaur, karya Pablo Picasso

Di mana ada suasana di suatu daerah yang menimbulkan kekacauan, akulah orang pertama yang akan berangkat untuk menyelesaikan semuanya. Semuanya? Mungkin tidak juga, tapi hampir semuanya iya. Tugasku sudah pasti menyebabkan tingkat stress paling tinggi di diriku sendiri. Oleh karena itu, di mana aku berada apapun yang aku butuhkan, apapun yang keluar dari mulutku, hampir tak ada yang tak terkabul. Orang-orang di sekitarku akan berlarian membuat segala sesuatu ada untukku. Bahkan jika mungkin harus membentak Tuhan akan dilakukan pula agar tidak ada hambatan. Aku tak pernah menyukai jawaban yang diawali kata mungkin, barangkali, kira-kira, kalau tidak salah, apalagi tidak tahu. Semua pertanyaan dan permintaan yang keluar dari mulutku harus dijawab dengan kepastian, semuanya!

Betapa penting tugasku, betapa berartinya diriku bagi orang banyak, dan betapa tak disadari orang di luar kelompok kami, tidak akan pernah disadari, karena tugasku adalah tugas rahasia. Hanya orang-orang tertentu dari kelompok kami yang tahu. Kau tahu, apa hukuman bagi orang yang tak diharapkan tahu akhirnya tahu? MATI. Ya, mereka harus mati, binatang pun harus mati jika telinganya mendengar atau menangkap lewat mata apa yang kulakukan.

Pekerjaanku membuatku membuka mataku sendiri, kenapa kejahatan selalu ada, dan jawabannya sangatlah sederhana, karena kejahatan memang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Bukan karena seorang bernama Niccolo Machiavelli pernah hidup, dia hanya membuat teori pemantapan saja, tapi bukan pencetus kejahatan. Bahkan Fi’raun yang muncul lebih dulu hanya salah seorang tokoh legendaries yang sadar akan pentingnya kejahatan untuk sesuatu yang bukan tanpa alasan. Ini hanya masalah kesadaran atas kebenaran yang terlambat saja atau di luar itu adalah adanya misi yang jelas atas suatu paham. Aku ingin menjelaskan alasanku mengatakan ini, tapi tak mungkin cukup kuurai saat aku sedang menanti seorang wanita yang akan kutemui setelah ini.

Aku bukanlah seorang yang biasa menggunakan perasaan, pekerjaanku tak membuatku jadi demikian. Aku adalah pembunuh berdarah dingin yang bersertifikat, aku kebal hukum. Luar biasa, pekerjaanku membuatku jadi manusia setengah dewa. Tapi jangan salah, akupun jadi sasaran target operasi beberapa pihak yang dirugikan oleh akibat pekerjaanku. Fotoku menghiasai dompet para pendendam, jadi lebih penting untuk tidak dikejar dari pada mengejar seorang kekasih. Sepertinya pistol dengan pelatuk yang siap tembak berada di ujung kepalaku tiap saat. Tapi percayalah, aku mampu membalik dalam hitungan detik ke kepala mereka dan membuyarkan isi otak mereka hingga memburai.

Flaming June, Frederic Leighton

Betapa rumitnya hidup dengan pola yang berbalik-balik ini bagi orang awam. Mulanya terasa berat, tapi sekarang malah jadi hal yang sangat mengasyikkan. Jika anak kecil punya play station, maka inilah hiburanku yang nyata dan mendebarkan. Aku tak pernah gagal, hanya hampir gagal, kadang aku pura-pura gagal tapi tentu tidak jadi gagal, dan ini yang memicu adrenalin santapan pokokku. Ya, hidupku selalu berkaitan dengan politik lingkaran setan negara ini.

Lalu apa hubungannya dengan wanita yang akan kutemui ini? Ini hanya salah satu servis yang diberikan orang-orang di kelompokku padaku. Boleh kubilang, para wanita ini adalah amunisi bagiku. Aku bukan orang yang lembut, biasa dengan kelembutan, atau mau berlembut-lembut, tapi masih membutuhkan kelembutan yang ganas, dan itu bisa kutemui lewat makhluk bernama wanita.

Aku tak pernah meminta wanita dengan spesifikasi tertentu, dan aku tak pernah kecewa dengan apa yang mereka siapkan untukku. Mereka membayar mahal untukku, sehingga aku selalu mendapatkan yang terbaik. Mulanya aku ragu, apakah di daerah terpencil ini, wanita terbaik masih bisa didapatkan, mengingat seluruh jalur transportasi dan komunikasi sedang siaga satu.

“Bagaimana?”

“Tenang saja, masih ada yang terbaik. Tapi wanita itu masih tidur dibilik belakang. Baru sampai satu jam yang lalu, tampaknya dia kecapekan, maklum perjalanan agak sulit,” seorang bawahan mencoba menjelaskan.

“Tepatnya sangat sulit sekali, dia tak tidur sepanjang jalan, ketakutan pula rupanya, penduduk memuntahkan peluru sesuka hatinya,” yang lain menimpali.

Tak penting semua itu bagiku, juga keterangan tentang wanita itu. Tak ada kehidupan yang penting bagiku kecuali tugas utama pekerjaanku, membunuh sasaran setepat-tepatnya. Aku juga tak suka cerita cengeng dan lagu cengeng.

“Antarkan aku kesana sekarang.” Yang lain buru-buru berjalan di depanku dan mengantarku ke bilik tempat di mana wanita itu berada. Ingatlah, aku adalah pembunuh berdarah dingin dan bersertifikat, dan semua orang takut padaku.

Sampai di depan bilik, mereka semua meninggalkanku memasuki bilik itu sendiri. Sebuah ranjang yang cukup bagus untuk tempat persembunyian seperti ini, tentunya sangat luar biasa, aku tak ambil pusing memikirkan darimana mereka mendapatkan semua ini, juga seorang wanita yang luar biasa cantik tergolek di atasnya.

Tapi, belum lima detik kuamati wanita itu, kupingku diserbu suara dengkuran yang cukup berat dan keras dari mulut yang agak menganga di depanku. Rasanya suara dengkuran itu tak sesuai bila dibandingkan dengan kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya. Kalau mau lebih jujur, tak sesuai juga wajah lembutnya dimiliki seorang wanita dengan pekerjaan sebagai seorang pelacur.

Ya, aku hanya butuh waktu lima menit untuk mengatakan yang sesungguhnya bahwa wanita yang tergolek dengan dengkuran yang sangat keras itu mempunyai wajah selembut Bunda Maria, Ibu Theresia, Nenekku, Ibuku atau wajah wanita setengah malaikat lain yang banyak dikenal orang sedunia. Wanita itu belum mengeluarkan sepatah kalimat pun, bahkan dengkurannya masih membahana di ruang ini, tapi dia telah menundukkan sebagian dari egoku untuk menguasainya, seperti yang biasa kulakukan terhadap wanita-wanita yang dibeli untukku.

Pundaknya ikut bergetar lembut saat dengkurannya mengalun, menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan suara dengkuran lagi melalui mulutnya yang sedikit menganga. Kurasakan kelelahan baik secara fisik dan psikologis dari alunan dengkurannya.

Tak kusadari aku telah lebih dari satu jam melihatnya, memperhatikan tanpa beranjak kemanapun bahkan tak membuat gerakan sekecil apapun, aku tak tega membuatnya terbangun. Akupun tak ingat lagi bahwa birahiku harus segera tertunaikan demi amunisi yang bakal mengikis ketegangan lain dalam otakku.

Wajahnya membawa diriku mengembara ke alam yang lama sekali tak kusentuh, ada rasa seperti pulang kesebuah kampung halaman, kelembutan yang entah mengapa jadi sangat penting, rasa terharu yang malu kuakui, seperti menemui sebuah kejadian yang biasa dinamakan de javu….

Flaming June, Study

Tas kainnya teronggok dibawah ranjang berjajar dan sepatu sandal dengan model sederhana. Caranya berdandan tidak menampakkan laiknya seorang pelacur. Di sini pula aku telah digaulinya dengan ganas, di atas ranjang ini, bukan pada tubuhku, tapi menyayat tepat di dadaku. Tak pernah kurasakan perasaan seperti ini bahkan ketika aku membunuh puluhan manusia sekali pun. Tidak setragis bagaimana pantulan wajah wanita itu. Rasanya kesombongan atas apa yang kulakukan tak ada apa-apanya dengan apa yang telah dilakukannya.

Akhirnya nafas berat yang tak dapat kutahan terhembus dari hidungku, dan itu membangunkannya. Wanita itu bangun dengan tergeragap, merasa bersalah, kikuk dan salah tingkah, aku merasa bersalah membuatnya seperti itu, aku meminta maaf melalui kepala yang kutundukkan dalam dan menjabat tangannya, “Maaf, telah membangunkanmu.”

Wanita itu menatapku ngungun, tak menyangka atas sikapku. Cepat dia berbenah, minta ijin untuk ke kamar mandi sebentar lalu tak lama telah keluar dengan sebuah gaun tipis yang luar biasa merangsang. Anehnya, aku tak merasakan desiran semacam itu.

“Duduklah, di sini.” Kuseret sebuah kursi hingga berada tepat di depanku tidak terlalu dekat. Wanitu itu menurut.

“ Berapa anakmu?”

Wanita itu bingung, tapi menjawab juga, “Lima orang. Kenapa menanyakan jumlah anakku?” Aku merasa baru kali ini dia menerima pertanyaan yang aneh untuk pekerjaan sebagai pelacur. Laki-laki mana yang peduli berapa anak pelacur yang dibelinya?

“Kemana suamimu?” Sebenarnya aku ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dengan kalimat yang paling lembut, tapi rupanya gagal, karena wanita itu justru terlihat gugup. Selama ini aku memang hanya mengenal beberapa ekspresi saja, galak yang mengarah pada tegas, galak yang mengarah pada nakal, atau tertawa dengan gaya yang galak, berputar di situ saja.

“Meninggal, dua tahun silam. Awalnya hilang saat perang suku pertama di daerah ini, tapi tak pulang-pulang sampai kini.”

“Sudah lama kamu….?” aku tak tega mengatakan pekerjaannya, tapi melalui tanganku dia tahu apa yang kumaksud. Aku bertanya dan merasa sulit menciptakan sorot mata selembut mungkin seperti yang dimilikinya.

“Sejak satu tahun yang lalu…,” Wajahnya dibuang di atas lantai di bawah kakinya yang telanjang. Perasaanku biasa terasah melihat medan, berbahaya atau tidak, begitu juga melihat kedalaman yang terjadi pada wanita ini. Aku memang pembunuh bersertifikat, sama setimpalnya dosa yang bakal kutanggung dengan wanita itu dengan pekerjaannya sebagai seorang pelacur, menurut orang kebanyakan. Tapi sejak melihatnya, aku jadi sangsi dengan dogma tentang dosa Tuhan seperti yang biasa dimahfumkan. Aku melihat wanita itu sepenuhnya sebagai seorang ibu yang terlalu letih bekerja demi anak-anaknya, bukan seorang pelacur.

Blue Room, Pablo Picasso

Aku mendiamkannya lama di kursinya, sedang aku masih terlalu asyik mengikuti jalan pikiranku yang dibawa mengembara oleh wajahnya. Dia seorang Ibu yang lelah, aku tak marasa jijik dengan dengkurannya, aku terharu oleh dengkurannya yang membiaskan suara gilasan roda kehidupan yang sarat muatan.

Mungkin suaminya terbunuh olehku, tidak ada yang tahu, dia pun tak tahu makhluk macam apakah aku ini. Rasanya wanita ini tak peduli pada bahaya yang mengintai dirinya sendiri, tak peduli pada resiko, karena yang dia tahu hanya mencari uang untuk kelangsungan hidup anak-anaknya.

Sedang aku? Aku tak pernah berpikir sesederhana wanita itu, terjadi perputaran yang lebih luas dibanding yang ada dalam otaknya, tapi sesungguhnya jika mau jujur, aku sendiri tak pernah tahu apakah semua yang aku lakukan berporos pada sesuatu yang jelas kuketahui sendiri. Kebenaran yang kukenal hanya melalui doktrin yang keluar dari mulut para tukang bicara yang dibayar untuk mencekokiku tiap hari, hingga aku tak berdaya. Bukan kebenaran yang muncul dari mata batinku. Sungguh dia jauh lebih mulia dibanding dengan pekerjaan senista ini, meski dia tak pernah memiliki sertifikat terhormat seperti diriku.

Aku menyuruhnya ganti baju yang lebih sopan, lalu aku keluar ruangan dengan wajah seolah baru mendapatkan pencerahan. Orang-orang yang tahu aku baru keluar dari bilik di mana wanita itu berada menyimpan senyum nakal yang kuhafal dan isi kepala yang sepenuhnya kukenal dengan baik. Aku tak berkomentar seperti biasanya tapi menetak satu kalimat pada salah seorang, “Jaga dia baik-baik, jangan pernah kudengar wanita itu tersentuh oleh siapa pun.”

Surabaya, 17 Oktober 2007.

Untuk Sista, maafkan aku membisu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top