Puisi

Panggilan dari Malingping ~ Puisi Irwan A Segara

PANGGILAN DARI MALINGPING

1.
Dia yang lahir akan kembali pada ibu
Sejauh-jauh kelana ibulah tempat berpulang
Segala risau, segala remuk redam jiwa di badan
Dari jalan nasib penuh liku dan berjurang.

Malingping, di bibir pantaimu
Masa kecilku bertebaran bagai serpih pasir
Yang menempel di telapak kaki orang-orang
Tertiup angin,
Tertimpa gelap dan terang
Seperti jiwaku,
O, Malingping, ibu dari batinku.

2.
Berdiri di puncak bukit tropismu
Kusaksikan lidah laut menjilat-jilat batu karang
Permata pasirmu berkilauan
Hampir-hampir mata buta karenanya
Gubuk-gubuk kosong bertebaran di lengan jalan
Di seberangnya pematang sawah
Pinggang bukit yang hijau,
Biru yang memburu pada lautmu.

Bagaimana tak kudekap mesra dirimu
Dalam mimpi dan kerinduan
Jika pantai dan sawah
Bagai sepasang lengan yang terbuka
Mendamba pelukan.
Camar dan pipit saling melontar siul
Merayakan penyatuan.

3.
Malingping
Yang merawat pantai, aroma laut,
Asin ikan di pinggir jalan
Dan bukit-bukit
Padi-padi merunduk
Masa kanak kian lapuk
Usia dan peristiwa
Mengantarku jauh dari rahimmu.

Namun,
Berkali-kali bukit keramatmu
Sepasang lenganmu, lekuk tubuhmu,
Dua matamu mengintaiku
Dengan hijau bukit dan biru laut,
Mendatangi kerajaan mimpiku.

4.
Cericit burung membuka tirai pagi
Para petani berbondong-bondong
Dengan caping di kepala,
Cangkul di pundak, arit di genggaman
Demi mengolah tanah dan sawah-sawah
Memanen segenap impian
Persembahan bagi anak-anak masa depan.

Manakala matahari tergelincir
Dan langit memercik senja yang kemerahan
Paman dan aku ke laut
Menjaring ikan sampai tiba malam
Di bawah kerlip bintang unggunan api dinyalakan
Dingin merapatkan kerah baju kami.

Gugus bintang pun gigil di wajah langit
Dan laut surut menjelang dini hari
Jala pun bergetar seperti jemariku
Yang kian gemetar menariknya,
Ikan-ikan kegembiraan
Berontak, ingin lepas dari jaring-jaring
Paman pun turun memecah riak ombak
Ditariknya harta kekayaan,
Anugerah lautan;
Ikan-ikan menggelepar
di pasir kesabaran kami.

5.
Demikianlah
Kini aku terpisah jauh
Dari masa itu
Di jantung Malingping
Kota-kota mulai berdegup
Sawah dan kebun berganti pabrik.

Tanah Bayah yang hitam oleh batubara,
Pantai-pantai memimpikan kedatanganku
Sebelum berlabuh kapal-kapal di sekitarnya;
Pantai Bagedur yang luhur
Berkeluh kesah pada matahari
Namun matahari hanya memberi kehangatan
Ia pun menjerit dan meraung dan menangis
Lalu sungai-sungai mengalirkan tangisnya ke telapak tanganku.

6.
Sebuah buku terbuka, lembar-lembarnya
Penuh pasir kegilaanku,
Binuangeun yang semilir antara pohonan kelapa
Dan karang-karang kecil, Pasir Putih tempat
Rebah segala risau di gubuk-gubuknya,
Karang Pulo Manuk menuding langit
Seperti Sawarna yang penuh gelora
Sekali kutempuh jalannya dengan sepeda kecemasan.

Setengah dari usiaku
Dirawat sepasang tangan Malingping
Dengan jemari anginnya, air mata hujannya,
Denyut tanahnya, aroma asin lautnya
Dihantar angin zaman yang mengacaukan
Ombak-ombak kerinduanku,
Malingping melepas pakaiannya yang usang
Menenggelamkan dirinya dalam sekarat kematian,
Lalu dibangkitkan dengan tubuh gemerlapan
Lalu prasasti pekerja rodi
Terbenam dalam ingatan kakekku yang retak.
O, Malingping, ibu dari segala keheninganku,
Digemakannya rindu pada batinku dari kejauhan.

To Top