Kawat

Pameran Tunggal, Heri Dono Mengetengahkan “Museum Wacana”

Heri Dono | Foto: WideWalls

Heri Dono, salah seorang seniman kontemporer Indonesia yang mendunia, akan menggelar pameran tunggal di Studio Kalahan miliknya mulai 7 Juni – 7 Juli 2017. Pameran teresebut bertajuk “The Secret Code of Heri Dono”. Pemeran tersebut akan berisi serangkaian acara seperti pertunjukan, studio tour, workshop dan diskusi. Hal yang tak kalah seru, Heri Dono akan membuka Studio Kalahan sebagai “museum wacana” dengan mengetanghkan gagasan-gagasan dan arsip-arsip yang menarik untuk disimak dan dikaji oleh para pecinta seni.

Heri Dono lahir di Jakarta pada tahun 1960. Sejak awal karirnya hingga kini ia telah berkeliling dunia untuk merespon undangan pameran dan workshop di berbagai negara. Heri Dono dikenal melalui karyanya yang berawal dari eksperimen dengan teater rakyat Jawa yang paling populer: wayang. Dalam pertunjukan wayang, sejumlah elemen artistik – seni visual, nyanyian, musik, pengisahan cerita, mitologi filsafat kehidupan, kritik sosial, dan humor – bergabung menjadi satu kesatuan untuk membuat pertunjukan.

The New Chair, 2002, Heri Dono | Ang Lee

Di banyak instalasi dan pertunjukannya, Heri Dono secara efektif memanfaatkan potensi performativitas dan interaktivitas sehingga karya-karyanya terlibat dalam dialog yang intens dengan publik. Dalam lukisannya, Heri Dono memanfaatkan deformasi liar dan fantasi bebas yang memunculkan karakter cerita wayang. Pengetahuan mendalam tentang film kartun anak-anak, film animasi, dan komik, membuat karya Dono selalu dipenuhi dengan karakter menakjubkan dari cerita fantastis dan tak masuk akal. Heri Dono seringkali memasukkan ucapan kritisnya mengenai isu-isu sosio-politik di Indonesia dan luar negeri.

Heri Dono telah berpartisipasi di lebih dari 270 pameran termasuk 31 bienal internasional. Dono merupakan satusatunya seniman Indonesia kontemporer yang diundang ke pameran kuratorial Biennale Venesia ke-50 di Zona Urgensi Arsenale pada 2003, Triennial Guangzhou (2011); Biennale Gwangju (2006 dan 1995); Sharjah Biennial (2005); Taipei Biennial (2004); Venice Biennale (2003); Asia Pacific Triennial (2002 dan 1993); Yokohama Triennial (2001); Havana Biennial (2000); Shanghai Biennale (2000); Sydney Biennale (1996); São Paolo Biennial (2004 dan 1996), pemenang penghargaan Prince Claus Award for Culture and Development (1998), Unesco Prize pada tahun 2000, dan Anugerah Adhikarya Rupa (Penghargaan Seni) dari Pemerintah Indonesia pada tahun 2014.

The Secret Code of Heri Dono

Kode-kode rahasia mengenai proses penciptaan karya, proses penelitian, dan ruang diskusi akan terbuka bagi publik sebagai tujuan utama dari pameran ini. Studio yang merupakan ruang pribadi seniman, menjadi semacam laboratorium seni yang menunjukkan proses berkarya, pengembangan pengetahuan baru dan dokumentasi atas miniatur sejarah.

Kode rahasia Heri Dono dipaparkan melalui penggalian arsip dokumen dan foto mulai tahun 1980 an, sketsa dan catatan pribadi, sumber inspirasi dari buku-buku yang dibaca, juga pengaruh dari pemikiran seniman lain yang hadir secara nyata di ruang kerja pribadinya. Pengolahan ide dari penelitian dan ilmu pengetahuan di luar seni juga menjadi catatan penting bagi Dono.

Museum Wacana

Ketiadaan museum seni rupa di Indonesia menjadi kekhawatiran Dono sehingga memunculkan gagasan penyelenggaraan pameran ini. Kesempatan ini menjadi eksperimen bagi Heri Dono dalam mengolah studionya sebagai contoh prototipe museum, secara spesifik museum wacana. Gagasan mengenai museum seni rupa yang mengutamakan produksi wacana dan pengetahuan tentang karya seniman Indonesia di nusantara. Di mana museum tersebut memamerkan replika dari karya para maestro seni rupa dan berbagai arsip mengenai latar belakang mereka.

Gagasan tersebut dapat dipakai sebagai pemahaman awal fungsi museum sebagai ruang membekukan pemikiran dan nilai, seperti yang diungkapkan Dono. Baginya, museum secara sederhana juga dapat dipahami dari kata ‘muse’, yaitu merenungkan atau memikirkan sesuatu secara mendalam. Kemungkinan, kesamaan antara studio yang mengacu pada kata belajar, dipakai Dono sebagai jembatan untuk mengakomodasi peran studionya sebagai prototipe museum.

Kegiatan di Sutdio Kalahan | Foto: LifeAsArtAsia – WordPress.com

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, tujuannya adalah membuat ‘museum wacana’ bagi karya maestro di nusantara, bukan museumnya secara pribadi. Melalui pameran ini, diharapkan muncul adanya berbagai respon mengenai rencana tersebut. Selain itu juga, kami berharap adanya apresiasi terhadap Studio Kalahan sebagai salah satu studio seniman yang terus membangun diri pada pengolahan arsip, dokumentasi, dan penguatan jaringan bagi institusi atau pelaku seni dari dalam maupun luar negeri.

Pameran The Secret Code of Heri Dono akan menjadi pameran yang menarik bukan semata karena beragamj kegiatan yang ditawarkan, keragaman publik yang diajak berpartisipasi, namun juga munculnya ide-ide segar yang menggugah pemikiran dan rasa ingin tahu serta keterbukaan sang seniman kepada publik untuk bersama-sama mengetahui bagaimana karya-karyanya dibuat, ide-idenya dibangun, serta bagaimana dampak dan implikasinya bagi seni rupa khususnya dan kehidupan umumnya.

To Top