Fiksi

Negeri Para Dukun

Lukisan karya Nasirun | Foto: Srisasanti Syndicate

APAKAH sebenarnya Ki Rubusa sudah mati atau belum? Orang-orang terus menerka.

Ki Rubusa punya pekerjaan turun-temurun. Ada yang meyakini kalau Ki Rubusa mewarisi kesaktian ayah, kakek, maupun eyang buyutnya yang lebih susah mati ketimbang kaya mendadak. Usia mereka bisa sampai seratus tahun lebih. Namun, ketika usia Ki Rubusa baru setengah abad, entah mengapa ia menghilang. Begitu juga dengan nasib orang lain yang seprofesi dengannya. Hampir dalam waktu bersamaan, mereka lenyap ditelan tanda tanya. Sepertinya istri Ki Rubusa merahasiakan sesuatu dalam senyumnya.

“Rubusa mati dimakan ilmunya sendiri!” terang seorang kuli bangunan kepada tukang cat sambil menyantap nasi kucing di angkringan.

“Jangan ngawur! Ia terlalu sakti buat mati buru-buru. Kau masih ingat kemampuannya mengubah jenis kelamin anakku? Ketika itu dokter hampir memastikan istriku mengandung janin perempuan kan?”

“Tapi sudah setahun dia hilang, Bung!”

“Mungkin bertapa.”

“Dari cerita embahku, kakeknya Rubusa yang jauh lebih sakti darinya saja, tapanya paling lama tiga bulan. Itu juga di kamar sendiri, bukan di antah berantah.”

“Ini kan jaman modern. Siapa tahu dia tapa di atas gedung pencakar langit, atau di bioskop malahan?”

“Itu lebih ngawur lagi! Kalau dia tapa di tempat seperti itu, tentu sudah disiarkan di tv. Sekarang hampir semua tempat umum ‘kan isinya kamera!”

“Istrinya santai-santai saja tuh. Itu bukan ekspresi wanita ditinggal mati suami.”

“Jelas saja santai. Ditinggali warisan banyak, kok.”

“Memangnya kau pernah tanya langsung?”

“Jelas pernah. Hampir semua orang di sini pernah menanyakannya. Aku yakin ‘kau juga pernah tanya. Dan dia tak memberi jawaban apa pun, bukan?”

“Jawab, kok! Dia jawab pakai senyuman.”

“Sudahlah, Bung. Semua orang juga dapat jawaban sama.”

“Kalian ini ribut saja. Makanya baca koran,” sela penjual angkringan yang sejak tadi menyimak percakapan.

“Memangnya koran lebih meyakinkan ketimbang dukun?”

“Jangan nerocos saja kamu ini. Dengar dulu, siapa tahu kematian Rubusa diberitakan di koran.”

“Bukan berita kematian. Tapi tentang hilangnya dukun-dukun di negeri ini.”

“Duh, Gila! Lalu pemerintah bagaimana? Bukannya Ki Rubusa menghilang sebulan setelah keluar: Undang-undang Paranormal?”

“Memangnya Undang-undang Paranormal itu isinya bagaimana sih?”

“Panjang lebar. Salah satunya begini, ‘Dukun dan paranormal atau sejenisnya wajib dilindungi dan melindungi negara secara khusus.’ Yang kubaca sih begitu. Soalnya menteri pertahanan negara kita sekarang ini ‘kan dukun juga.”

“Jangan-jangan para dukun yang hilang itu karena jadi tumbal ilmunya Pak Menteri?”

“Hush! Jangan nuduh ngawur begitu. Mulutmu bisa sumbing tiba-tiba lho! Akhir-akhir ini banyak perampok yang tangan dan kakinya mendadak kiting. Bahkan, berita paling ramai saat ini adalah tentang seorang pejabat korup yang perutnya bunting. Setelah dicek pada laboratorium, ternyata perutnya isi magic jar!”

“Ya, malah bagus itu. Biar kapok. Dikiranya cari duit gampang? Enak saja, kerjanya cuma tidur di kursi rapat kok sugih. Kita yang kerja keringatan dan beresiko kesetrum, kena paku, dan kejatuhan genting saja cuma dibayar dua puluh ribu sehari.”

“Setuju, Bung. Negeri ini bakal tenteram kalau semua kejahatan dapat hukuman setimpal. Penjahat bakal pikir ratusan kali kalau mau tetap nekat. Anak gadis tak perlu lagi kuatir jajan angkringan sendirian malam-malam. Pernah ada penculik masuk koran karena kesaksiannya yang mengagetkan…”

Si tukang angkringan mengambil salah satu koran bekas bungkusan nasi kucing dan membacakannya, “Ia hampir saja memperkosa korban. Tapi ketika melepas celana, si Penculik mendapati kelaminnya telah lepas dan melekat pada kain celana.”

PEMERINTAH menjamin kelangsungan hidup keluarga setiap dukun yang ikut serta dalam proyek negara. Mereka berhak memperoleh fasilitas seperti layaknya pejabat pemerintahan. Rumah dinas, mobil plat merah, dan tunjangan keluarga. Tentu pemberian itu tak seberapa jika dibandingkan dengan hasil kerja para dukun yang luar biasa jarang pulang rumah.

Ki Rubusa dan para dukun lainnya telah beres memasang sihir di setiap wilayah negara. Tak perlu lagi kamera pengintai atau penjagaan pos-pos keamanan. Segalanya terpantau dengan baik oleh mata gaib. Petugas keamanan kini tugasnya hanya memberi informasi mengenai titik-titik rawan kejahatan. Hal itu membuat beberapa petugas keamanan yang dirasa kurang kompeten dibebastugaskan.

Setiap sebulan sekali Ki Rubusa memimpin perkumpulan di sebuah gua yang separuhnya tergenang air laut. Atas mandat sang Menteri, mereka berdialog dan mengisi pasal-pasal dengan mantra. Siapa pun yang melanggarnya akan langsung merasakan efek gaib mantra sesuai tenggang waktu hukuman yang disepakati.

Tahun demi tahun tingkat kejahatan di negeri itu menurun drastis. Pengadilan jadi sepi. Pengacara dan hakim banyak yang menganggur. Lebih dari separuh jumlah polisi dan tentara di negeri itu dicopot dari jabatannya. Nasib para dokter pun tak lebih mujur. Gelar mereka tak kunjung mengembalikan modal besar sewaktu mereka kuliah dulu. Jelas saja, mayoritas pasien mengeluhkan penyakit-penyakit mistis yang tidak bisa disembuhkan dengan hapalan teori seorang dokter.

Para dukun terpilih ikut mengerjakan proyek pembangunan beberapa jembatan. Rata-rata melintang sepanjang seratus kilometer, menghubungkan pulau-pulau di negeri itu. Triliunan mur-baut disedot dari tubuh-tubuh manusia. Segalanya dikerjakan dukun atas bantuan ilmu gaib dan para jin. Jika orang-orang di negeri itu tak segera menunjukkan kualitasnya sebagai manusia terampil, segala pekerjaan manusia tentu akan diambil alih oleh para jin.

Beberapa kejadian tersebut membuat orang-orang kini semakin akrab dengan imajinasi, fiksi, dan ketidakmungkinan yang nyata. Anak-anak SD mulai jarang bercita-cita sebagai dokter atau polisi ketika ditanya oleh guru. Sebagian besar dari mereka ingin jadi dukun, sebagian lainnya ingin jadi pelukis, fotografer, pendongeng, atau penyair.

Media cetak dan elektronik ketika itu begitu minim bahan berita kejahatan untuk diliput dan ditulis. Beberapa media cetak gulung tikar. Sedangkan media yang masih bertahan, hampir setiap hari kolom-kolom mereka dipenuhi dengan dongeng, foto, gambar, komik, dan puisi-puisi.

Sebuah era baru telah tercipta. Masyarakat aman dan tenteram. Namun, masih ada satu tugas lagi bagi Ki Rubusa dan dukun-dukun lainnya. Ki Rubusa memperingatkan sang Menteri serta rekan-rekannya untuk waspada. Mata gaibnya tengah menyaksikan bahwa—di luar gua tempat mereka menyusun rencana—beribu-ribu mantan tentara, mantan polisi, dokter-dokter bangkrut, dan para pengangguran lainnya angkat senjata. Mengepung mereka dengan mulut-mulut kering mengaga.

“Bukankah semua kejahatan sudah kalian beri mantera?” Sang Menteri memutar pandangan heran. Sejenak ia berpikir dalam kemurungannya, Tapi apakah revolusi itu sebuah kejahatan?[]

Yogyakarta, 24 April, 2013

To Top