Suar

Mitos di Dunia Pendidikan Formal

Mitos di Dunia Pendidikan Formal Suatu saat saya terkejut membaca status facebook anak saya, “Why’s education so f***ing expensive and difficult. I feel like I needed to be a CEO of a d**n company and study 25/7 just to get a d**n decent college. Org biasanya kuliah biar pinter n bisa tajir/sukses. Tapi le me berasa kyk hrs pinter dan tajir biar bisa kuliah”.

Lama saya merenungkan status fb anak saya. Apakah ini hanya pemikiran anak saya saja tentang dunia pendidikan. Atau, ini mewakili dia dan teman-temannya? Atau, bahkan mewakili sebagian besar anak didik, juga para orang tua dan para guru? Ada dua hal yang yang membuat saya berpikir dari status fb tersebut. Pertama, biaya pendidikan itu mahal. Kedua, Pendidikan menjamin kesuksesan hidup (dan menjamin untuk bisa kaya) seseorang. Untuk hal yang pertama, mungkin masih bisa dimaklumi dan bisa menjelaskannya ke anak saya dan temannya dengan lebih mudah, ketimbang memberikan pemahaman tentang perihal yang kedua.

Saya bisa menjelaskan bahwa pemerintah, sampai saat ini, sedang mengupayakan agar biaya pendidikan tidak mahal. Dan, saat ini sudah ada upaya pemerintah dalam dunia pendidikan dengan program-program sekolah gratis, juga dengan berbagai program beasiswa – baik untuk tingkat SD, SLTP dan SLTA, serta Perguruan Tinggi. Bahkan akhir-akhir ini, sudah banyak pula program beasiswa dari pihak swasta. Semoga saja, dikemudian hari “dunia pendidikan menjadi murah”, meskipun saat ini skema bebas biaya dan beasiswa masih dengan persyaratan yang tidak mudah untuk dipenuhi, sehingga belum mampu menjangkau semua anak miskin.

Namun, hal yang kedua ini terus mengganggu pikiran saya. Mengapa anak-anak didiik dan para orang tua, bahkan para guru mempunyai keyakinan bahwa sekolah merupakan kunci untuk sukses dan hidup berkecukupan? Padahal kita tahu bahwa banyak orang sukses yang tidak berpendidikan tinggi, bahkan banyak kasus bahwa bawahan atau karyawan yang justru berpendidikan lebih tinggi dari atasan mereka atau pemilik perusahaan di mana mereka bekerja.

Keyakinan bahwa pendidikan formal adalah kunci sukses kehidupan sepertinya sudah tertanam begitu kuat di benak kita, tak terkecuali di dunia pendidikan itu sendiri.Keyakinan itu sudah menjadi mitos. Ini yang mungkin harus diluruskan. Tujuan dari sekolah atau pendidikan formal adalah untuk mencerdaskan otak dan dan agar berakhlak baik. Anak didik dipersiapkan menjadi anggota masyarakat yang nantinya mampu hidup mandiri dan berguna bagi masyarakat dan negaranya. Dunia pendidikan memberikan bekal beragam wawasan (bukan wawasan tunggal) agar mampu bernalar dengan baik, dan bekal ketrampilan diri supaya mampu mandiri dan berguna bagi dirinya dan lingkungan sosialnya. Bukan untuk menjadi kaya. Menjadi cerdas dan berakhlak baik dengan menjadi kaya, adalah dua hal yang berbeda. Untuk menjadi kaya, dunia pendidikan hanya merupakan sebagian kecil dari bekal-bekal lainnya yang diperlukan agar seseorang bisa menjadi sukses.

Mitos tersebut yang harus diluruskan segera, agar motif seseorang untuk sekolah menjadi sesuai dengan tujuan dari Sistem Pendidikan Nasional, yaitu “mencetak insan Indonesia yang cerdas, yang berakhlak baik dan seterusnya”. Jika tidak, maka akan berdampak luas kepada banyak hal… kurikulum, cara mendidik dan seterusnya, juga tmembuat anak didik mudah stress atau frustasi jika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan mitos yang tertanam dalam benaknya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika saat ini banyak anak didik yang stress dan frustrasi ketika mengetahui dirinya tidak lolos ujian saringan masuk Perguruan Tinggi, atau mendapatkan nilai rapor yang rendah, bahkan stress karena nilai-nilai mata pelajaran tertentu rendah. Ia akan dianggap sebgai anak yang kurang cerdas dan merasa tertutup kemungkinannya untuk bisa hidup sukses di kemudian hari.

Kita tahu bahwa seorang guru biologi, belum tentu bisa menjawab soal-soal mata pelajaran fisika atau kimia. Tetapi, seorang anak didik akan dapat sanksi jika ada nilai mata pelajaran yang jelek. Anak didik, seolah-olah diharuskan bisa dan berprestasi di semua mata pelajaran. Padahal, gurunya sendiri belum tentu, bahkan menurut pendapat saya, seorang guru juga tidak menguasai semua mata pelajaran. Demikian juga dengan para dosen di Perguruan Tinggi. Mengapa, seorang anak didik yang berprestasi di bidang melukis, tapi tidak pandai matematika atau fisika dianggap sebagai anak didik yang gagal? Demikian juga dengan anak didik yang pandai di mata pelajaran tertentu dan tidak menguasai mata pelajaran lainnya dinilai sebagai anak yang tidak berprestasi? Apakah untuk menjadi sukses, kita harus menguasai dan berprestasi di semua mata pelajaran?

Situasi dan kondisi tersebut tentunya akan menjadi beban mental bagi anak didik. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan jika banyak anak-anak sekolah yang stress. Bahkan di saat tidurpun, mimpinya sedang belajar rumus-rumus matematika, fisika dan kimia, atau menghafal sejarah. Fenomena kesurupan massal, dan maraknya bimbingan belajar (bimbel) yang mahal dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal jika diajarkan dengan baik oleh guru-guru mereka di sekolah, seharusnya mereka tidak perlu lagi ikut bimbel, juga kursus/les dengan guru mereka di luar jam sekolah.

Lalu, mengapa anak didik yang selalu disalahkan? Maka dari itu, sudah saatnya kita mengubur mitos bahwa “… sekolahlah yang pinter, supaya bisa tajir atau sukses”. Kita harus meluruskan kembali hakekat dan fungsi Sistem Pendidikan Nasional. Kita harus berhenti membuat anak didik menjadi stress gara-gara sekolah, sebab di pundak merekalah masa depan bangsa.

To Top