Suar

 Masyarakat sebagai Guru + di Sekolah Dasar

syahrazade.com

Dalam perspektif khusus, guru secara formal adalah mereka yang mengajar di jenjang  pendidikan dengan kriteria tertentu. Dalam perspektif umum, guru adalah siapa pun yang mampu memberikan ilmu dan pengetahuan sebagai bekal kehidupan. Untuk memberi dasar kesadaran belajar sepanjang hayat sejak tingkat Sekolah Dasar, maka kesadaran perspektif akan guru ini harus diimplementasikan.

Kesadaran belajar sepanjang hayat berarti kesadaran bahwa belajar tidak hanya ketika berada di kelas atau menempuh jenjang sekolah. Ketika kelas selesai, mereka memasuki “kelas” yang lainnya. Ketika lulus sekolah, mereka memasuki “sekolah” lainnya. Seorang siswa Sekolah Dasar boleh jadi, karena banyak faktor, berhenti sekolah. Namun dengan bekal kesadaran ini, mereka tidak akan berhenti belajar. Kenyataan yang berkebalikan; seorang siswa boleh jadi sekolah, tetapi sebenarnya dia tidak belajar, melainkan hanya mengerjakan tugas-tugas dari gurunya. Ketika kelas berakhir, mereka menganggap “belajar” juga telah berakhir.

Dalam perkembangan era global, sumbangsih pendidikan di Sekolah Dasar yang paling dinanti adalah memberi pondasi pada generasi milenial untuk memiliki kesadaran terus-menerus belajar dan mengembangkan dirinya menyambut tantangan masa depan. Kecepatan perkembangan dunia, menuntut kemampuan untuk mengaktualkan kemampuan di setiap generasi. Kemampuan ini meliputi daya adaptasi dalam multidimensi, multikultural, dan multilingual. Oleh karena itu, perlu sejak dini ditanamkan kesadaran belajar dari “multiguru” yang berasal dari masyarakat.

Multiguru dari Masyarakat

Dengan kaidah umum bahwa siapa pun yang memiliki ilmu dan pengetahuan dalam bidang-bidang keahliannya bisa menjadi guru, maka dari sinilah konsep “multiguru” mudah untuk diterapkan di berbagai Sekolah Dasar di Indonesia. Multiguru tidak berpijak pada perspektif khusus guru secara formal-institusional, melainkan konsep guru secara umum. Kenyataan bahwa sebagian besar Sekolah Dasar menerapkan guru kelas tidak menjadi masalah dalam penerapan multiguru, sebab guru kelas sifatnya formal-institusional, sementara multiguru melibatkan masyarakat setempat secara informal-sosiokultural.

Sekolah Dasar melibatkan masyarakat bukan hanya melalui sistem Komite Sekolah, melainkan juga melalui struktur bawah sadar institusional. Sekolah Dasar berada di tengah-tengah masyarakat dan mendidik anak-anak masyarakat di sekitarnya. Sekolah Dasar memerlukan strategi agar lembaga pendidikan ini hadir bukan hanya sebagai bagian dari adanya kewajiban wajib belajar. Bukan pula hanya sebagai bagian dari penyedia layanan kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Apabila kehadirannya hanya sebagai penyedia layanan jasa pendidikan, maka dampak yang diperoleh akan terus berbuntut panjang.

Dampak yang muncul akibat penempatan cara pandang Sekolah Dasar sebagai penyedia jasa layanan pendidikan yakni represi sejumlah orang tua siswa terhadap guru—termasuk percikan konflik akibat dugaan tindak kekerasan dalam mendidik, serta sikap yang menganggap belajar urusannya guru, sekolah, dan pemerintah. Dari sudut lain, siswa berada dalam ruang sempit belajar; dengan perspektif bahwa belajar harus di sekolah, pada jam tertentu, menggunakan seragam sekolah, memakai alat-alat sekolah dan sikap-sikap terbatas yang lainnya, yang cukup beresiko melahirkan pola pikir berkelanjutan tentang belajar itu sendiri.

Sebagai contoh, apabila pola menyempit ini terus diterapkan tanpa mempertimbangkan keberadaan multiguru adalah siswa tumbuh dengan menganggap apa yang dipelajari di kelas, baru akan berguna ketika nanti mereka lulus. Akan terus belanjut ketika menempuh pendidikan tinggi dengan menganggap bahwa ilmu dan pengetahuan yang dipelajari baru bisa diterapkan kalau sudah mendapat ijazah. Akibat yang terjadi, terjadi lonjakan pengangguran intelektual besar-besaran akibat pola pikir mendasar yang keliru. Bonus demografi Indonesia di masa depan tidak bisa disambut dengan meriahnya kompetensi dan kreativitas, melainkan rasio persaingan kerja yang semakin tinggi, terutama dalam kasus perebutan kedudukan menjadi pegawai negeri misalnya.

Sejak dini hal-hal tersebut harus dideteksi, terutama sekali di lingkungan Sekolah Dasar, yang merupakan pondasi utama sistem pendidikan nasional. Salah satu cara yang memungkinkan penanaman perspektif berkemajuan ini adalah dengan menerapkan konsep multiguru.

Konsep ini mengajak masyarakat berperan aktif bukan hanya dalam penyelenggaraan pendidikan Sekolah Dasar, melainkan juga dalam proses pembelajaran di sekolah dasar itu sendiri.

Memanfaatkan Guru +

Guru + tersedia dengan melimpah di masyarakat. Siapakah guru + itu? Apa perbedaannya dengan guru formal?

Guru + mengikuti perspektif bahwa setiap orang yang memiliki suatu ilmu dan pengetahuan dapat menjadi guru. Perbedaannya dengan guru formal adalah bahwa guru formal diatur dengan suatu sistem tertentu. Keberadaan guru + ini sangat banyak di sekitar Sekolah Dasar. Guru + bisa berasal dari beragam profesi yang ada di masyakarat sekitar Sekolah Dasar itu berada. Dalam beberapa kesempatan, sejumlah Sekolah Dasar memang ada yang telah mendatangkan guru yang berasal dari alumni yang telah sukses atau ahli seni dan sejenisnya, namun sifatnya masih temporal. Konsep guru + sifatnya harus kontinu.

Sekolah Dasar bekerjasama dengan komite dapat memetakan anggota masyarakat yang berpotensi terlibat dalam program guru +. Misalnya, dikelompokkan berdasarkan profesi. Hal ini apabila berkiblat pada penyiapan generasi Indonesia emas yang memerlukan diferensiasi profesi dan spesifikasi kerja untuk memecah konsentrasi perebutan lahan kerja dan profesi yang tidak banyak berubah. Dampak panjang dari konsentrasi profesi ideal ini dapat dengan mudah dipetakan sejak dalam pertanyaan tentang cita-cita kepada anak sekolah dasar. Cita-cita mereka dapat dengan mudah dikelompokkan hanya menjadi beberapa item.

Kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, yang membuat Presiden Joko Widodo meminta agar kampus-kampus mulai membuka jurusan-jurusan baru yang aktual. Semuanya dimulai dari Sekolah Dasar. Cita-cita adalah peta. Meski banyak yang tersesat, tetapi banyak pula yang menuju peta tersebut. Akibatnya, institusi perguruan tinggi kelak hanya menyediakan fakultas dan jurusan yang menampung peta minat siswa sejak Sekolah Dasar. Efek lanjutannya, sumber daya manusia kita melimpah dalam satu bidang, dan menyempit dalam bidang yang lain, bidang pertanian misalnya. Berapa jumlah siswa Sekolah Dasar yang bercita-cita menjadi petani?

Dalam konsep guru +, petani dihadirkan sebagai bagian dari guru itu sendiri. Apabila kondisi Sekolah Dasar berada di sekitar laut, maka nelayan juga terlibat. Pendek kata, semua profesi penting yang ada di masyakarat, dilibatkan sebagai guru setelah dipetakan bersama antara sekolah dengan komite sekolah.

Mengapa harus masyarakat? Mengapa bukan lulusan-lulusan keguruan yang dilibatkan menjadi guru +?

Masyakarat adalah tempat di mana siswa berasal dan siswa kembali dari sekolah. Bukan hanya kembali setelah jam belajar, tetapi juga kembali setelah masa belajar formal itu habis. Mereka akan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Sebuah sinyal bahaya apabila pendidikan terpisah dari derita lingkungan dan masyarakatnya; juga apabila pendidikan justru hadir sebagai masalah masyarakat melalui kesulitan meraihnya, serta ketidakbergunaan penerapan hasilnya sebagai sarana kerja dalam membangun kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Penerapan Guru +

Anggota masyakarat yang telah disepakati oleh sekolah dan komite sekolah menjadi guru + kemudian diberi ruang dan waktu untuk mengajar siswa. Profesi-profesi ini diusahakan yang benar-benar dekat dengan masyarakat di sekitar Sekolah Dasar, sehingga menjadi berbeda-beda antarsekolah tergantung kondisi sosio-kulutral masing-masing. Anggota masyarakat yang terlibat juga yang dekat dengan siswa dalam kesehariannya. Ini tentu bukan suatu masalah, sebab sebaran Sekolah Dasar sudah menyentuh wilayah-wilayah desa dan kelurahan di tanah air.

Guru + ini misalnya seorang petani. Sekolah menyediakan waktu dan ruang agar petani mengajar siswa-siswa, baik dengan berbagi pengalaman bertani di ruang kelas, maupun praktik bertani sederhana dan mengamati pertanian di kebun-kebun para petani. Demikian juga apabila yang dilibatkan adalah nelayan, tukang kayu, penjahit, penjual di pasar, dokter, perawat, bidan, tukang tambal ban, tukang reparasi alat elektronik, tukang pijat, dan beragam profesi masyarakat lainnya di sekitar Sekolah Dasar yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Dengan bekal dari profesi yang ada di masyarakat, maka wawasan siswa terkait kehidupan dan masa depan menjadi luas. Ada yang mengira bahwa mengapa tukang pijat bisa menjadi guru +? Bukankah itu lebih baik daripada tukang  pijat +? Bukankah di era modern keterampilan ini menjadi salah satu bagian dari profesional yang berkembang di bidang akupuntur, terapis para atlet, dan lain sebagainya. Profesi tukang kayu juga demikian. Bukankah furnitur Indonesia terkenal di luar negeri dan salah seorang yang berkecimpung di bidangnnya kini mampu menjadi Presiden Republik Indonesia? Tukang jamu juga telah memasuki pasar masa depan dengan model jamu saset instan dan lain sebagainya.

Petikan Manfaat Guru + Berbasis Masyakarat

Ketika wawasan ini dibukan sejak dini kepada siswa, mereka akan memperoleh banyak hal.

Pertama, mereka mengerti bahwa profesi dalam masyakat semuanya penting. Ibarat semua komponen dalam mesin. Dengan cara pandang ini, siswa akan memiliki etika hidup, etika sosial, dan etika pribadi terhadap berbagai profesi tanpa memandang tinggi-rendahnya strata yang dinilai dari ukuran gaji dan jabatan; ini terjadi akibat masih kurangnya pendidikan kesadaran multidimensi. Dengan cara guru +, cerminan sosial di kelas menjadi tidak bias. Anak-anak yang berasal dari keluarga yang profesinya dipandang hanya kelas rendah tidak menjadi rendah diri dalam belajar di kelas. Kepercayaan diri dalam belajar akan memupuk optimisme dalam menggapai masa depan yang gemilang.

Kedua, dengan menerapkan multiguru berbasis guru + siswa mempelajari multikultural sejak dini. Gelaja penerimaan pada kondisi majemuk sedang dalam pertaruhan di mana mayoritas seringkali menekan minoritas. Sikap permusuhan yang mengedepankan suku, ras, agama, dan antargolongan dimulai dari sempitnya perspektif hidup dalam masyakarat. Padahal, masyakarat dibangun dengan beragam suku, ras, agama, dan antargolongan. Sangat mustahil manusia sebagai makhluk sosial dapat hidup memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kesadaran ini ditanamkan sejak Sekolah Dasar melalui guru +. Bukan hanya multikultural, tetapi juga multiprofesi. Di dalamnya juga melihatkan pembelajaran tata krama dan etika hidup bermasyarakat yang bisa disampaikan oleh profesi lurah atau ketua RT atau ketua PKK atau tetua adat di masyarakat tempat Sekolah Dasar tersebut berada.

Ketiga, yang paling pokok adalah menjadikan siswa terbiasa dengan belajar dan cara belajar. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang menerima konsepsi bahwa ternyata bisa belajar dari siapa pun, tidak harus dari guru formal. Cara demikian akan membangun pola pikir bahwa mereka kelak akan belajar pada siapa pun sesuai dengan minatnya. Inilah salah satu kunci yang harus digenggam dalam konsep belajar sepanjang hanyat.

Belajar sepanjang hanyat akan menepis keberadaan masyarakat yang jumud dan mudah dibodohi oleh berita bohong atau keterangan palsu atau penipuan politik melalui korupsi, kolusi, dan nepotisme. Belajar sepanjang hanyat akan melahirkan masyarakat kritis. Dan masyarakat kritis adalah modal penting dalam menegakkan negara demokrasi. Tanpa masyarakat kritis, demokrasi akan berputar di tangan pemilik modal politik dan penguasa isu yang mengombang-ambingkan keadaan, yang membuat sistem sosial bergejolak dan bergejala hanya untuk meraih kekuasaan bagi segelintir orang saja—bukannya mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keempat, masyarakat yang dilibatkan akan mengubah paradigma tentang Sekolah Dasar sebagai jasa penitipan belajar anak. Masyarakat menjadi ikut memiliki sekolah itu sendiri. Masyarakat memiliki siswa-siswa yang ada di dalamnya. Masyarakat ikut bertanggungjawab terhadap pendidikan mereka setelah keluar dari kelas sekolah formal. Intensitas siswa bertemu guru + bisa jadi lebih tinggi daripada bertemu dengan guru formal itu sendiri. Sekali pun siswa sudah lulus Sekolah Dasar, mereka tetap bertemu dengan guru + tersebut dalam berbagai keperluan di masyarakat.

Jika bangsa ini dihadapkan pada persoalan adanya garis keras dan kenakalan anak usia sekolah, maka dengan cara melibatkan masyarakat dalam pendidikan secara siklikal dapat meminimalisir kemungkinan tersebut. Tidak harus belajar penuh di sekolah dan diawasi guru formal, tetapi mereka tetap kembali dan berada dalam pangkuan guru +. Ketika mereka mau bermain ke ladang, mereka akan bertemu guru mereka di sana yang seorang petani. Begitu juga petani tersebut, ketika mereka berpapasan di jalan, meski itu tetangga atau keluarganya sendiri, dia akan disapa layaknya siswa menyapa guru formal.

Betapa mengagumkan masa depan Indonesia jika siswa menghormati petaninya, nelayannya, dan orang-orang yang selama ini dianggap yang rendahan belaka dengan sapaan penuh kasih sebagai guru kehidupan mereka. Betapa indah jika masyarakat memandang gedung Sekolah Dasar itu sebagai bagian dari hidup mereka sendiri yang harus mereka jaga, yang harus mereka isi dengan pengetahuan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Kelima, mengubah paradigma dasar pada peserta didik bahwa gelar dan nilai bukanlah puncak dari ilmu dan pengetahuan. Puncak daripada ilmu pengetahuan adalah keterampilan terkait dengan ilmu pengetahuan itu sendiri dan kesadaran sikatp menjadi bagian dari manusia di antara manusia yang lain. Hal ini dipelajari dengan memandang bahwa guru + bisa jadi bukan lulusan keguruan atau bahkan tidak lulus Sekolah Dasar, tetapi guru + ini mampu mengerti penyakit padi hanya dari warna daunnya, mengerti jenis ikan hanya dari mencecap asin air lautnya, dan seterusnya.

Guru + ini memberikan ilmu terapan kehidupan dalam masyarakat sebagai pelengkap pendidikan formal di kelas. Dengan cara demikian, siswa akan belajar bukan untuk mencari nilai, tetapi mencari keterampilan hidup, dan etika hidup. Apabila ini diterapkan, tidak ada rasa takut pada ujian nasional. Tidak ada takut gagal mencari kerja padahal dengan nilai kumulatif yang tinggi ketika di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sebab cerminan utama adalah kompetensi, bukan nilai, bukan gelar yang dicapai.

Dan ini semua salah satunya dapat dimulai dengan menerapkan guru + berbasis masyarakat dengan beragam profesi di dalamnya.*

To Top