Suar

Manusia Hanya Takut Kepada Saksi dan Sanksi Penegak Hukum

Penegak Hukum
Akhir-akhir ​ini​ ​sering​ ​mencuat​ ​ide​ ​pendirian​ ​Negara​ ​Agama,​ ​karena​ ​Hukum​ ​Tuhan​ ​dianggap adalah​ ​yang​ ​terbaik bagi ​manusia.​ ​Pendapat​ ​ini​ ​tidak​ ​ada​ ​salahnya. ​Lalu,​ ​mengapa​ ​setiap muncul​ ​isu​ ​pendirian​ ​Negara​ ​Agama ​​- menerapkan ​Hukum​ ​Tuhan-​ ​selalu​ ​melahirkan kehebohan?​ ​Apakah​ ​mereka ​sudah​ ​mulai​ ​tidak​ ​yakin​ ​bahwa Hukum ​ ​Tuhan​ ​adalah​ ​yang terbaik?​ ​Tentu​ ​saja​ ​tidak!

Hukum​ ​Tuhan ​tidak​ ​perlu​ ​lagi​ ​diragukan.​ ​Hukum​ ​Tuhan​ ​tetaplah​ ​merupakan​ ​Hukum​ ​yang terbaik ​bagi​ ​kita​ ​semua di​ ​dunia ​​ini. ​Persoalannya​ ​bukan ​pada ​​masalah ​Hukum ​Tuhan​ ​itu terbaik ​​atau​ ​tidak. ​Pertama, ​Hukum​ ​Tuhan ​​yang mana?​ ​Hukum​ ​Tuhan ​adalah​ ​Hukum ​yang terbaik ​​bagi ​​para ​penganut-Nya, ​yaitu ​bagi ​yang ​​meyakininya. Sementara ​itu, ​keyakinan ​agama di ​dunia ​ini​ ​tidaklah​ ​satu, ​​sehingga ​Hukum ​Tuhan ​​di ​​dunia ​ini​ ​juga ​tidaklah​ ​satu.

Dari ​sudut pandang​ ​ini, ​jadi​ ​muncul ​persoalan ​​bahwa ​“Hukum ​Tuhan ​yang ​mana ​yang ​​akan​ ​kita terapkan?” Jika  kita ​harus ​memilih, ​​apa ​pertimbangannya ​bahwa​ ​Hukum ​Tuhan ​yang ​satu ​itu lebih​ ​cocok​ ​atau​ ​lebih ​baik ​​dari ​yang lain? ​Lalu, ​bagaimana ​​dengan ​​mereka yang​ ​berbeda Hukum ​Tuhannya? ​Jika ​kita ​tanyakan ​kepada ​semua ​penganut keyakinan ​agama​ ​yang ​ada (terutama ​belief ​ ​system ​tradisi ​ ​besar ​​-​yang​ ​menganut ​​prinsip​ ​peyebaran), ​​tentunya mereka semua​ ​senang ​jika ​Hukum ​​Tuhannya ​diterapkan ​​untuk ​semua ​​manusia. ​Mungkin ​​saja ​mereka memiliki ​ ​keinginan ​ ​atau ​ ​cita-cita ​ ​yang ​ ​sama. ​ ​Dalam ​ ​konteks ​ ​ini, ​mungkin ​jawaban ​​terbaik ​bagi mereka ​​yang ​bercita-cita mendirikan ​Negara ​​Agama, ​adalah ​jika ​warga ​​negaranya ​​homogen dalam ​hal ​keyakinan ​​agama.

Persoalannya, ​​apakah ​homogen​ ​itu ​sama​ ​dengan​ ​mayoritas? ​tentu​ ​saja​ ​tidak.​ ​Misalnya​ ​saja​ ​di Indonesia, ​ada wilayah-wilayah​ ​yang ​​mayoritas ​​menganut ​​keyakinan ​agama ​tertentu ​seperti misalnya ​​Jawa ​​(Islam ​dengan berbagai​ ​alirannya), ​Bali ​​(Hindu​ ​dengan ​berbagai ​alirannya) ​atau beberapa ​​wilayah ​di ​Indonesia ​Timur ​(Katholik ​atau Protestan ​dengan ​berbagai ​alirannya). Tetapi​ ​di ​sana ​​tidaklah ​​homogen, ​​karena ​​terdapat ​warganya ​yang ​​menganut keyakinan ​yang berbeda ​dengan ​yang ​​mayoritas, ​dan ​jumlahnya ​juga ​tidak ​bisa ​dibilang ​sedikit, ​dan ​mungkin juga menyebar ​​di ​​beberapa ​wilayah ​administratif ​​yang ​ada ​di ​​sana ​-belum ​lagi​ ​dengan​ ​adanya berbagai ​​aliran ​dari masing-masing ​​keyakinan.​ ​Jadi, ​​homogen ​​itu ​tidak ​​identik dengan mayoritas.​ ​Itulah ​yang ​mungkin ​menyebabkan mengapa ​Tuhan ​​menurunkan ​​Kitab ​(pedoman hidup ​​untuk ​manusia) ​adalah ​Hukum ​Kebaikan, ​bukan ​Hukum Kemaksiatan. ​Jika ​​Tuhan berpegang ​kepada ​​mayoritas, ​​tentu ​​Tuhan ​akan ​​menurunkan ​Kitab ​Kemaksiatan, ​sebab hanya 25 ​​manusia ​​(Nabi ​ ​-jika ​​ini​ ​yang ​​kita ​​yakini) ​sebagai ​manusia ​​yang ​patuh ​kepada ​Hukum ​Tuhan, sedangkan ​ ​sisanya​ ​selalu ​​melanggar ​Hukum ​Tuhan. ​Selain ​itu, ​masih ​​dalam ​konteks ​​yang sama​ ​-mengapa ​Tuhan ​menurunkan Hukum-Nya ​lebih​ ​dari satu? Dalam​ ​hal​ ​ini,​ ​hanya​ ​Tuhan yang ​tahu.

Persoalan​ ​berikutnya,​ ​mungkin ​yang ​utama, ​adalah ​bahwa pada ​​umumnya ​​manusia​ ​itu ​tidak takut ​dengan ​Hukum, tetapi ​​takut​ ​kepada ​Saksi ​Hukum ​dan ​​sanksi ​hukum ​dari ​​Penegak Hukum. ​Jika ​​kita ​berpegang ​​pada ​keyakinan akan sifat ​Tuhan​ ​yang ​universal ​(semua ​keyakinan agama), ​​bahwa ​​Tuhan ​​adalah ​Maha ​​Tahu ​dan ​Maha ​Melihat, sehingga tidak ​​ada ​yang​ bisa disembunyikan ​oleh ​manusia ​(baik ​​perbuatan ​maupun ​pikiran)​ ​dihadapan ​Tuhan. ​Maka, kehidupan ​manusia ​pastinya ​aman, ​​tentram ​​dan ​sejahtera. ​Kita ​​tidak ​​akan​ ​berani ​berbohong, mencuri​ ​atau korupsi meskipun​ ​tidak ​ada ​orang ​​lain ​yang ​melihat ​(saksi) ​dan ​​adanya ​​sanksi dari ​ ​​​penegak ​hukum. ​Ternyata, ​kebanyakan dari ​kita ​​tidak​ ​takut ​dengan​ ​Tuhan​ ​yang ​Maha Tahu ​dan ​Maha ​Melihat. ​​Lain ​persoalan ​​jika ​Tuhan ​bersedia menjadi ​ Penegak ​Hukum​ ​di ​dunia ini,​ ​sayangnya ​Tuhan menegakkan​ Hukum-Nya ​​nanti​ ​di​ ​akhirat ​​-​​tidak​ ​sekarang.

Oleh ​​karena ​itu, ​​jika ​ingin​ ​menegakkan ​Hukum ​Tuhan, ​mari ​​kita ​mulai ​​dengan ​menegakkannya atau ​​menanamnya dalam​ ​diri​ ​kita​ ​-menjadi ​bagian ​dari ​diri, ​​yaitu ​sebagai ​​pedoman​ hidup ​​kita. Bukan​ ​dimulai ​dengan ​diri ​​orang ​​lain. Hukum ​​Tuhan ​​harus ​menjadi ​kontrol ​ ​internal, ​bukan sebagai ​kontrol ​​eksternal ​(Hukum​ ​Tuhan ​ada ​di ​luar ​diri). Jika ​Hukum ​Tuhan ​​masih ​menjadi kontrol ​eksternal ​​(hukum ​apapun), ​​maka ​sejatinya ​​kita ​sebenarnya ​tidak ​takut terhadap ​hukum tersebut,​ ​tetapi ​lebih ​takut ​​kepada ​saksi ​hukum ​dan ​​sanksi ​​hukum​ ​dari ​penegak ​​hukum. ​Kita seharusnya ​​takut ​melanggar ​hukum ​yang ​kita ​yakini ​-bukan ​karena ​takut ​ada ​orang ​​​ ​yang ​​tahu atau ​melihat perbuatan​ ​kita. ​Hal ​ini ​mengingatkan ​​kepada ​warga ​​Muslim ​di ​salah ​​satu ​desa ​di Jawa​ ​Barat ​di ​mana ​rumah mereka ​tidak ​pernah​ ​terkunci ​​dan ​​semua​ ​tetangganya ​bebas keluar-masuk ​​rumahnya,​ ​tidak ​​ada ​​pagar, ​dan ​jika panen, ​seringkali ​hasil ​panennya ​ditinggal ​di tengah ​​jalan ​karena ​mungkin ​kelelahan ​sewaktu mengangkutnya -tapi ​ ​tidak ​​ada​ ​yang kehilangan. ​​Mereka​ ​takut​ ​mencuri, ​bukan​ ​karena​ ​takut​ ​ada ​orang ​lain ​​yang ​melihatnya, ​tapi takut karena ​Tuhannya ​pasti ​​melihat ​dan ​mengetahuinya. ​ ​#SelamatHariSantriNasional #HariSantri ​ ​Nasional

To Top