Puisi

Malam Kelabu Teluk Palu

Lukisan Widiyatno | Foto: Widiyatno
Malam Kelabu Teluk Palu

Gunung Gawalise kabut bergulung
Memulun hasrat pengelana dalam rapat kain sarung
Parigi-Moutong. Tapi tidak. Di dermaga terapung,
bagai penggembala tua di kandang lembu Donggala,
tegak aku memandang pekat kabut semesta.

Dalam doa yang tak sirna oleh derita
kabut dan segala yang datang, perlahan
menjelma jadi cahaya
membuat nyala malam dalam diriku,
malam kelabu Teluk Palu.

“Teluk Palu, tak usah malu
dengan lampu-lampu ala kadarmu
Di negeri ini segalanya memang serba sekedar
atau padam. Namun masih ada kabut dan sinar bulan!”

Maka kabut menjelma jadi lampu-lampu kerang mutiara
Bulan dan bintang-bintang membuka kelopaknya
Di sepanjang pelupuk teluk
yang lantas gemetar menahan sebak air mata.

Kabut itulah: titik air di gunung percik garam di laut
jadi mata air bagi cahaya dan kata-kata. Jangan takut
cahaya lampus, berita kusut, deritaku juga.

Lukisan Widiyatno | Foto: Widiyatno

“Ya, kutahu, tak jauh dari sini, 221 km ke timur
sebuah kota masih terkepung huruf-huruf jelaga
hitam tak terbaca. Sunyi dan sedih
terapung-apung tak tahu ujungnya!”

Apakah dapat kunikmati sop kaledo
dan hangat kopi Lorelindu
dalam percintaan murungku ini?
Sebab mata sendu para penunggu warung pun
seperti mata dadu di meja para petaruh
terguncang, dihempaskan.

“Beginilah, Abang, kita orang
meninggalkan kampung di lereng gunung,
karena pundak Tosalogi, leluhur penghibur kami,
kian miring, kian miring, menanggung beban yang tak kelihatan
o, nasib hitam manise, pinang kami di Pantai Talise!”

Kupandangi langit putih susu yang menaungi hening
derita bumi. Di baris doa yang nyaris sirna
ditimpa gelap berita, kuminta cahaya, susah-payah,
menjaga segala yang redup, di bumi kami menumpang hidup.

Maka dari balik awan bulan sepotong, bintang-bintang,
kerang mutiara, apa saja yang tak lampus oleh derita,
menyalalah, menyalalah lebih terang!

Lihatlah, kabut cahaya dari titik air Gunung Gawalise
dan riak bergaram Teluk Palu
mengirim kata-kata liar kepada gadis-gadis
penjual jagung bakar dan penyanyi lagu Kaili
Di dermaga terapung dan tepi jalan.

Aku pun bangkit dari kabut semesta diri
Setabah penggembala di kandang lembu Donggala
aku lahirkan puisi ini di dermaga kayu tua.

/Palu-Yogyakarta, 2011

To Top