Buku

Kehidupan Pada Dimensi Keempat: Menjelajah Ruang, Melintas Waktu

syahrazade
Kehidupan Pada Dimensi Keempat: Menjelajah Ruang, Melintas Waktu

Judul: The Time Machine

Pengarang: H.G. Wells

Penerbit: Octopus

Tahun: 2016

Ada suatu masa ketika orang-orang percaya khayalan melebihi kenyataan. Karya fiksi sebagai dunia rekaan mampu mempengaruhi pemikiran dan perasaan manakala ia mampu mewakili atau mengisi kekosongan dunia batin. The War of the Worlds (1895) karya H.G. Wells pernah menggemparkan penduduk Amerika lantaran mereka meyakini keberadaan makhluk asing ketika Orson Welles menyiarkan The War of the Worlds yang dibuat naskah drama di stasiun CBS di Amerika pada tahun 1938. Penduduk Amerika begitu percaya dan ketakutan bahwa alien akan menginvasi bumi. Keadaan begitu kacau dan mencekam, mereka takut pada khayalan.

Pada tahun 1902, majalah Nature mengulas tentang penjelajahan masa depan, “The Discovery of the Future” tertulis di halaman muka majalah tersebut. Bukan kebetulan, H.G. Wells pun mengisi majalah Nature edisi ke-65 tersebut. Berikut bagian akhir dari tulisan panjang H.G. Wells yang dimuat di majalah Nature.

“Akan tiba hari, satu hari dalam hari-hari yang terus berganti, ketika makhluk, makhluk yang kini berdiam dalam pemikiran kita dan bersembunyi dalam daging kita, akan berdiri di bumi ini seperti orang yang berdiri di atas bangku, lalu tertawa dan mengulurkan tangan mereka di antara bintang-bintang.”

syahrazade.com

(Dok. Istimewa)

Apa yang dikatakan Wells di majalah Nature merupakan suatu ungkapan optimis terhadap suatu masa di mana segala yang diciptakan oleh imajinasi akan menjelma kenyataan atau masa depan diciptakan melalui imajinasi: perjalanan pertama ke luar angkasa, penjelajahan ke bulan, mars, dan planet-planet lain, serta penelusuran planet di galaksi jauh yang menopang kehidupan layaknya bumi sebagai upaya menyelamatkan ras manusia dari kepunahan. Kondisi tersebut sebagian telah tercapai dan sebagian lagi hanya dapat dicapai di masa depan.

Bagi Albert Einstein, manusia hidup dalam dimensi ketiga (dimensi ketiga adalah ruang yang memiliki ukuran tinggi, panjang dan lebar, dalam matematika kita sering menggunakan x, y, z), sedangkan waktu adalah dimensi keempat. Dengan kata lain, jika dimensi ruang dapat dijelajahi, maka tidak menutup kemungkinan bagi manusia untuk menjelajahi dimensi yang lain, yaitu waktu. Ungkapan optimisme H.G. Wells di atas mengarah pada penjelajahan ruang dan kemungkinan menjelajahi waktu.

Novel The Time Machine yang ditulis Herbert George Wells dibuka dengan perdebatan beberapa tokoh penting, ilmuwan, psikolog, ahli biologi, jurnalis dan editor mengenai  kemungkinan untuk menjelajah, tidak hanya ruang, tapi juga dimensi waktu. Cerita berpusat pada tokoh Penjelajah Waktu, yang mengembara ke masa depan dengan menggunakan mesin waktu. Penjelajah Waktu mendarat di tahun 802.701 lalu kehilangan mesin waktunya. Penjelajahan pun dimulai demi menemukan mesin waktu.

Pada tahun 802.701 kelas sosial terbagi menjadi dua, Dunia-Atas yang dihuni Eloi dan Dunia-Bawah yang dihuni kaum Morlock. Kaum Eloi hidup di permukaan tanah, meraka adalah kaum kaya yang pemalas dan pengangguran, mereka dihidupi oleh kelas pekerja yaitu kaum Morlock yang hidup di bawah tanah dengan cara membangun terowongan-terowongan yang membentuk dunia para Morlock. Pembagian strata sosial tidak hanya memisahkan lingkungan dua kaum tersebut, tapi juga memisahkan pola pikir dan bahasa yang berbeda. Tokoh Penjelajah Waktu tidak hanya pergi ke masa depan tapi juga pergi ke zaman purba.   

Wells mengajak kita untuk turut serta menjelajahi waktu dengan pikiran. “Kita selalu bisa beranjak dari saat ini. Mental kita, yang bersifat imaterial dan tidak memiliki dimensi, meninggalkan Dimensi Waktu fisik…” H.G. Wells, bapak fiksi ilmiah selain Jules Verne ini, meramu kisahnya dengan berbagai spekulasi yang akurat mengenai ruang dan waktu, dikemas dengan bahasa menawan, ilmu pengetahuan  dipertanyakan ulang, juga narasi yang membawa pembaca pada perenungan terhadap ruang dan waktu. Hari ini adalah hari esok bagi manusia yang hidup di masa lalu, bagi kita hari ini adalah masa lalu yang sedang ditinggalkan jengkal demi jengkal, detik demi detik, menuju masa depan  yang menyerupai cahaya samar di kejauhan.

To Top