Suar

Jiwa Bertemu Jiwa dalam Lukisan Affandi

Kita sering dibuat kagum dengan kepiawaian seorang seniman menggambar secara realistis serupa hasil jepretan kamera beresolusi tinggi, atau menyaksikan seorang seniman dengan ide-ide unik dan gila di luar batas nalar, atau seorang seniman yang mendapat liputan luas dari media seperti seorang selebritis. Tapi, dengan semua kelebihan dan kekuatannya itu, hanya segelintir dari mereka yang diberi gelar maestro seperti pelukis Affandi.

Kita pun lantas berpikir, adakah Tuhan berlaku adil, seorang seniman yang punya segalanya –bakat, keunikan, popularitas—tidak mendapat kedudukan yang dimiliki seorang pelukis yang karyanya acak-acakan, berpakaian kaos oblong dan sarung, dan tidak mendapat liputan luas seperti era media saat ini. Atau barangkali Tuhan punya ukuran lain dalam menempatkan posisi seseorang dalam kehidupan dan sejarah?

Tanpa bermaksud membaca “pikiran Tuhan”, sepertinya menarik membaca Affandi dari sudut pandang yang berbeda demi mengungkap sisi lain sosok seniman satu ini. Intan apakah yang tersimpan di balik penampilannya yang kusam? Mutiara apakah yang tersembunyi di balik karyanya yang acak-acakan? Mari kita buka satu demi satu wawasan tentang sosok satu ini.

Untuk menjadi seniman besar tidak hanya dibutuhkan keterampilan dasar seperti menggambar bentuk dan potret, tetapi juga kemampuan berpikir secara konseptual, yaitu membuat filosofi berupa pemahaman tertentu tentang seni dan aspek lain dalam kehidupan manusia. Nilai lukisan tidak terletak pada bahan dan bentuk yang terdapat di atas kanvas, tetapi pada muatan pemikiran yang tersemat pada karya tersebut.

Affandi memiliki dua hal itu sama baiknya. Ia memiliki bekal teknik realis jempolan, seperti terlihat pada sketsa-sketsanya serta karya monumentalnya yang berjudul Ibu. Lukisan tersebut menunjukkan kelas Affandi sebagai seorang jawara dalam teknik realistik.

Lebih dari itu, lukisan realis Affandi bukan hanya persis dengan modelnya, tetapi juga mampu menangkap jiwa dan karakter dari model tersebut. Bolehlah karya Affandi itu disebut sebagai realisme yang mendalam karena mampu meangkap ruh dari objek, bukan sekedar bentuknya. Ketika melukis seseorang, Affandi tidak melihat dari luar melainkan dari dalam kepribadian orang tersebut. Tentu saja, hanya sedikit pelukis yang mampu mealukan teknik semacam itu.

Lukisan potret diri Affandi

Teknik realisme yang mumpuni tersebut dilengkapi dengan kemampuan berinovasi secara konseptual lewat penjelajahan pemikiran hingga di alam abstrak ekspresinisme. Abstraksi Affandi merupakan perkembangan lebih lanjut dari karya realismenya, yaitu mencari sari-pati dari karakter objek yang dilukis. Dalam hal melukis Ibu, Affandi lebih menekankan pada ruh dari ibu daripada kemiripann bentuknya. Dengan ekspresionisme, Affandi melukis sebagai pancaran dari jiwanya, bukan logika dan keterampilan kinestetik dari tangannya. Dengan demikian, Affandi tengah mempertemukan “jiwa dengan jiwa” dalam karya-karyanya, yaitu jiwa seniman yang diekspresikan saat melukis dengan jiwa objek yang dibangkitkan oleh sang seniman lewat karyanya.

Bukankah terdapat pelukis abstrak yang lain, misalnya Jackson Pollock dan Kashimir Malevich, lalu apa istimewanya Affandi? Jackson Pollock melukis dengan menggunakan alam bawah sadar murni di mana cat ditaburkan di atas kanvas tanpa dikontrol oleh otak dan tangannya. Cara kerjanya seperti melukis dengan alam mimpi, trauma, harapan, dan sebagainya. Ia menampilkan hal itu sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang sangat menekankan rasionalitas, tujuannya agar dunia bawah sadar memiliki posisi dalam sejarah di era modern ini.

Sementara seniman Kashimir Malevich, yang dikenal dengan pemikiran suprematisme, lebih tertarik mengembangkan rasionalitas tersebut hingga ke tahap spiritual. Ia melukis abstsrak dengan bentuk-bentuk geometri formal seperti dalam matematika yang merupakan ukuran dari modernitas. Namun, bentuk-bentuk tersebut digubah sedemikian rupa sehingga menjadi transenden atau berhubungan dengan alam pikiran yang tak terbatas. Singkat kata, jika Pollock menghadapi modernitas dengan cara melawannya, Malevich dengan cara melanjutkan modernitas hingga ke tahap terjauh dan menemukan esensinya yang paling murni dan transenden di dalamnya.

Dengan gaya melukis Pollock yang “berserah pada alam bawah sadar”, manusia menjadi sosok yang sepenuhnya dikuasai oleh dunia hasrat dan mimpi. Sedang dengan gaya Malevich, manusia sepenunya merupakan subjek pemikir yang mampu mengontrol dunia dengan rasionalitasnya. Dua pemahaman tersebut sama-sama mengambil posisi ekstrem dan bersifat ideal sehingga lebih sebagai pembayangan daripada gambraan riil tentang kehidupan.

Dalam lukisan Affandi, kita menemukan gambaran yang lebih membumi dan konkret. Pada karya-karya abstrak Affandi masih terdapat figur yang jelas sebagai gambraan bahwa manusia adalah makhluk rasional dalam kehidupan sehari-hari. Hidup ini nyata dan tidak sepenuhnya berisi mimpi dan hasrat seperti Pollock. Namun, dalam figur-figur tersebut juga terdapat jiwa yang ditangkap pancarannya lewat ekspresi jiwa sang pelukis, sebagai gambaran bahwa manusia dengan sesama dan dunianya memiliki relasi yang bersifat mental dan spiritual.

Pemikiran spiritual Affandi tersebut, yang konkret dan membumi, berbeda dengan Malevich yang melangit. Objek lukis Affandi adalah hal-hal yang dekat dalam kehidupan sehari-hari: ayam, bunga, pantai, laut, gunung, potret diri dan teman-temannya, kuda. Pada semua hal yang lumrah itu Affandi menangkap aspek spiritual dan transenden, sesuau yang hanya bisa dilakukan oleh sangat sedikit orang, terlebih di era serba virtual sekarang ini. Ketika ditanya kenapa tidak melukis pesawat terbang sesuai perkembangan zaman, Affandi menjawab bahwa tumbuhan kedelai yang tumbuh karena tersiram matahari baginya sudah cukup estetis sebagai objek seni. Apa adanya alam ini sudah estetis bagi Affandi.

Konsep atau pemikiran Affandi tentang seni rupa tersebut lahir dari praktik, pergulatan dan pengalaman yang panjang sebagai seorang pelukis dengan teknik, material dan gagasan-gagasannya. Pemikiran tersebut melekat dalam karya-karyanya, dapat dilihatnya di sana, di atas kanvas. Berbeda dengan tidak sedikit seniman konseptual kontemporer di mana pemikiran atau konsepnya ditempelkan, dikait-kaitkan, pada karya sehingga seringkali tidak menjadi sebuah kesatuan.

Di samping melekat pada karyanya, pemikiran Affandi tersebut juga memiliki pengaruh besar di luar bidang seni, misalnya terkait psikologi, sosiologi, dan spiritualitas. Sampai di sini ia adalah seorang filsuf yang bicara dengan lukisan, jika melihat pemikirannya yang memiliki implikasi luas hingga di luar bidang seni.

Sampai di sini kita menjadi tahu betapa sedikit pelukis potret yang menacapai tahap ini, sama sedikitnya dengan seniman konseptual, dan lebih sedikit lagi seorang seniman yang semata populer. Keterampilan dan spekulasi pemikiran hanya alat bantu untuk mencapai tahap itu, sedang media lebih sebagai pewarta–bukan pencipta—seorang seniman besar  yang membangun sebuah pemahaman tertentu tentang manusia dan kehidupannya.

Itulah yang membuat goresan-goresan Affandi dihargai sangat tinggi. Banyak lukisan lain dengan gaya menyerupai karya Affandi, tetapi harganya jauh lebih murah. Tentu saja, mengingat karya-karya tersebut, di samping tidak memiliki kekuatan seperti karya-karya Affandi, juga hanya merupakan peniruan gaya daripada penemuan dan penciptaan baik bentuk maupun filosofinya. Meski begitu, setiap karya seni mengandung keindahan yang membuat hidup ini menjadi lebih layak dijalani, bahkan walau karya itu hanya berupa pemandangan, dengan gunung berapi, sawah ladang, dan sungai yang mengalir menuruni lembah dan memotong sawah-ladang di ruang tamu atau keluarga.

To Top