Humor

Jakarta, Kota Rekaan

Perkenalkan, namaku Aladdin, tokoh dalam Kisah 1001 Malam yang masyhur itu. Namaku telah bertahan dalam sejarah selama hampir satu milenium, menjadi sahabat pikiran dan jiwa orang-orang yang haus akan kekuatan khayali. Tapi, meski populer, aku belum pernah menggunakan popularitasku untuk mencalonkan diri jadi pejabat politik seperti kebanyakan manusia di alam kenyataan. Bukan karena aku tidak tertarik, tapi karena aku sadar bahwa aku hanya makhluk khayalan belaka. Aku terima takdirku ini dengan lapang dada, meski dengan sedikit sesak di bagian hati. Jika di antara kalian ada yang ingin memanfaatkan popularitasku untuk menjadi pemimpin, kalian bisa memulai dengan mengusulkan aturan yang memperbolehkan makhluk rekaan sepertiku menjadi tokoh politik. Percayalah aku akan cukup layak dan pantas untuk itu. Jika pun dianggap belum layak, aku akan memanfaatkan sumberdaya di dunia dongeng untuk memenuhinya.

Tapi, jika melihat Pilgub Jakarta kali ini (aku memihatnya dari alam dongeng, tak seorang pun tahu), sepertinya aku harus berpikir ulang apakah akan memenuhi keinginan kalian atau tidak. Pilgub Jakarta begitu meriah, fantastik, menegangkan dan kolosal, jauh lebih seru daripada kehidupanku di alam dongeng. Hiruk pikuk Jakarta itu telah mengejutkanku di alam cerita yang senyap dan kuno ini, dan membuatku cemas melihat gelombang cerita dan alurnya yang penuh liku dan jebakan. Aku begitu ingin keluar dari dinding alam khayal ini, menjadi senyatanya makhluk, mengenakan pakaian bagus, mendaftar jadi warga Jakarta, dan merasakan suasana menegangkan di kota itu.

Aladdin menjadi warga Jakarta—itu sungguh sebuah berita, mengingat popularitasku di alam legenda. Tokoh dongeng ikut Pilgub Jakarta—itu juga sebuah berita, tapi buat warga  Jakarta itu sudah biasa. Bukankah dalam Pilgub Jakarta banyak orang luar Jakarta yang ikut meramaikan dan memainkan? Bahkan walau aku adalah tokoh dongeng yang begitu populer, bagi warga Jakarta itu sudah biasa. Mereka punya lebih banyak tokoh rekaan yang jauh lebih populer daripada aku. Mereka, warga Jakarta, adalah para pembuat dan pendengar dongeng. Karya-karya dongeng mereka sungguh menakjubkan hingga terdengar di alam fiksiku.

Supir bemo di Jakarta | Lukisan karya Widiyatno

Jika aku menjadi warga Jakarta, aku akan mempelajari kemampuan mereka membuat cerita-cerita bagus dan ajaib, dengan tokoh-tokoh rekaannya yang luar biasa hidup, karakternya yang kuat, tingkahnya yang atraktif, gayanya penuh kharisma (terutama saat foto), meski kadang mengada-ada dan sesak nafas karena suka keluar dari alur cerita, lalu bopeng-bopeng dan berakhir di penjara. Cerita-cerita itu dibuat, dikisahkan dan disebarkan di Jakarta, kemudian dihayati dan percayai oleh warga kota itu hingga mereka menjadi begitu serupa dengan tokoh-tokoh rekaan buatan mereka sendiri. Mereka menjadi sepertiku—si tokoh rekaan karya pendongeng tak dikenal.

Di warung-warung dan kafe-kafe, pangkalan ojek dan busway, televisi dan telepon pintar, mall dan pos ronda, dongeng-dongeng itu diputar dan disebar, dibengkokkan dan diluruskan, ditambah dan dikurangi, diangkat dan diturunkan, diwarnai dan dibuang, dipungut dan dikembangkan lagi, seperti anak jalanan di mata para pembuat anggaran dan aktivis urban. Itu sungguh ajaib. Tak ada dalam kisahku diperlakukan seatraktif itu, sesungguh-sungguh itu. Dan itulah yang bikin aku merasa cemburu, kesal alias KZL melihat Pilgub Jakarta yang begitu dramatis dalam membuat, mengolah dan memperlakukan dongeng dan tokoh-tokoh rekaannya. Itu sungguh menakjubkan, kalau kalian cukup tahu dan sadar.

Jika diberi kesempatan menjadi warga Jakarta, aku akan menyulap diriku menjadi beberapa karakter. Di pangkalan ojek aku akan jadi penjual rokok yang sabar  ditimbun hutang para penagih hutang, di terminal aku akan jadi calo tiket yang kejam, di televisi jadi pengamat politik yang seakan tahu segalanya, di akun media sosial jadi pedagang olshop, dan di koran aku menjadi seorang ahli segala sesuatu kecuali dunia kenyataan. Ketika capek, aku akan pulang ke rumah  dan menjadi orang kaya raya, dengan koleksi mobil, kotak uang dan hiasan yang semuanya hanya rekaan belaka. Jika teman-temanku datang mereka akan takjub melihat semua kekayaanku dan bilang, “Wahai Aladddin, beri kami dongeng-dongengmu!”

Drawing Bemo Jakarta | Karya Widiyatno (koleksi Faber Castell Jerman)

Tentu saja, aku akan memberi mereka dongeng. Aku akan memilih jalan cerita sesuai karakter, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, pekerajaan, dan tampang orang-orang itu. Jangan sampai tertukar, karena akibatnya bisa fatal. Seorang perempuan bisa menjalani hidup sebagai laki-laki, orang kaya berperan sebagai orang miskin, orang miskin berlaku sebagai orang kaya, para cendekia menjadi tak tahu apa-apa dan orang bodoh diposisikan sebagai orang bijaksana. Aku pernah mengalami kejadian seperti itu dan aku kaget bukan main. Tapi, kata orang Jakarta, “Aduh Aladdin, cerita seperti itu mah sudah biasa…” Jakarta memang ajaib, semua bisa terjadi di ibu kota Indonesia ini.

Mereka minta cerita lain yang lebih menakjubkan, tapi aku takut karena hanya akan membuatku tambah kaget dan kaget saja sehingga aku akan dijuluki si tokoh rekaan yang kagetan. “Itu juga biasa banget,” kata mereka lagi dan aku pun dibuat semakin kaget lagi. Aku lalu lari ke kamar untuk menenangkan diri, menutupi wajahku dengan dongeng-dongeng yang lebih wajar, menyadari keberadaanku sebagai tokoh rekaan yang meski kurang tampan tapi tidak terlalu kagetan, dan meski rumah dan kekayaanku cuma rekaan tapi aku bisa bersyukur dapat bisa menutupi rasa kagetku setiap kali tagihan kredit datang. “Di kota ini itu juga cerita biasa, Aladdin. Tapi itu salah satu cerita yang kurang disukai karena terlalu dekat dengan kenyatan,” kata salah seorang tokoh rekaan itu kepadaku, si tokoh rekaan yang lain–Aladdin.

Setiap hari, begitu salah satu dari mereka berkisah, warga Jakarta bekerja di alam dongeng, berangkat pagi buta dan pulang pada tengah malam, agar mereka bisa bersikap tenang saat menghadapai penagih kredit–istilah mereka untuk “kenyataan”–pada akhir bulan. Mereka hidup di alam dongeng dengan meminjam hampir semua hal dari alam kenyataan: rumah, kendaraan, kulkas, mesin cuci, tempat tidur, telepon, baju, hingga listrik. Karena semua barang-barang itu adalah pinjaman, maka tak lain adalah sebuah rekaan. “Ini adalah sebuah sistem ekonomi rekaan terbaik, Aladdin,” kata mereka sambil menunjukkan statistik pertumbuhan rekaan. “Bahkan jika suatu saat nanti kami mati, mayat kami akan dikubur di pemakaman khayali yang indah,” katanya sambil menunjukkan sebuah foto kuburan megah yang diperoleh dari tukang kredit.

Jakarta adalah kebahagiaan dan kemakmuran dongengan dalam pengertiannya yang paling jauh, hampir mendekati garis terluar galaksi dongengan. Menurutku, kota ini hanya bisa dipimpin oleh seorang pendongeng ulung, tokoh rekaan sejati, manusia fiktif yang paling mengerti lika-liku dunia cerita rekaan yang berputar-putar dari tagihan kredit yang satu ke tagihan kredit yang lain, dari bank yang satu ke bank yang lain, dari anggaran yang satu ke anggaran yang lain, sebagai jantung yang memompa gelembung dongeng kota rekaan ini. Gelembung cerita rekaan yang terus membesar setiap detik seperti awan nuklir, di mana penduduknya hidup dengan organ dan perkakas-perkakas rekaan, demi kebahagiaan rekaan. Merekaterus berkerja dan bercerita sebagai cara agar bisa bertahan hidup di alam dongengan, sekaligus untuk menahan agar gelembung khayali itu tidak meledak di dalam sejarah.

“Pak,” kataku pada salah satu pamong praja rekaan. “Aku tidak jadi mendaftar jadi warga Jakarta,” kataku. “Lho kenapa?” katanya, dengan kata-kata rekaan. “Aku lahir dan besar di dunia dongeng, Pak. Hampir seribu tahun lamanya aku menjalani takdirku ini. Tapi, aku belum pernah melihat dongeng seperti di kota bapak ini, di mana semua hal terbuat dari cerita, dan penduduknya bisa begitu giat mendongeng demi bertahan hidup di umur yang pendek, dan setelah itu dikuburkan di makam rekaan,” kataku dengan standar kejujuran yang direka-reka. “Kalau bapak mau,” katanya sambil berbisik, “saya bisa ngasih kuburan yang nyata untuk Bapak. Bisa diatur, Pak” katanya dengan lirikan mata rekaan. “Cukup, Pak. Jangan bicara kenyataan di kota ini ini, bikin kaget saja!” Bapak itu tersenyum sebagai tanda mengerti. Aku pun tahu, itu juga rekaan belaka.

Sampai jumpa pada canda dan rekaan berikutnya dari Aladdin Mind di Syahrazade.com 

To Top