Suar

Isi Ulang Ruang Kelas

Ciri-ciri ringkas manusia modern adalah isi ulang. Pulsa, galon, listrik, bensin, parfum, sabun cair, gas, minyak goreng, dan tentu saja isi ulang ruang kelas sekolah.

Yang membuatnya menarik, anak-anak lugu berubah layaknya gelas kaca kosong bahkan datang jam dua pagi untuk berebut kursi. Seakan mereka takut kalah rajin dengan meja dan kursi yang sepanjang hari ada di dalam sekolah, meski tetap saja menjadi meja dan kursi. Dan anak-anak bersiap mangap diisi apa saja, apa maunya guru, semuanya. Mereka tidak bisa milih menu kayak di prasmana.

Ini berbeda dengan ibu-ibu mereka yang sebelumnya belanja ke tukang sayur—kecuali yang tidak. Lihat mereka getol betul memilah kangkung mana paling gemas. Terong mana paling kekar. Ikan mana paling basah. Hingga menawar dengan harga terendah dalam kondisi belum mandi. Dan yang paling penting, tidak membeli semua sayur dan bumbu yang dijual pedagang. Seandainya ujian dasar pemberlakuan kurikulum diberikan kepada mereka, maka pagi itu juga ibu-ibu lulus cum laude dan langsung mendapat ijazah.

Mengapa demikian? Dalam buku Developing the Curriculum, Peter F. Oliva ngomong bahwa dari sepuluh jari aksiomatik perancangan kurikulum, salah satunya adalah berangkat dari kebutuhan peserta didik.

Kurikulum masakan pagi ibu-ibu yang dijalankan dengan membeli apa yang dibutuhkannya saja.

Karena terasa aneh apabila bersama pembelian sayur dan bumbu dapur, mereka membeli juga kawat berduri, bros kupu-kupu, atau satu sak semen yang anehnya disediakan tukang sayur. Itu disebut kurikulum? Kurikulum secara etimologi berasal dari curricula; lintasan pacuan kuda. Sebuah jalur mencapai sesuatu. Secara terminologi kemudian melebar pada cara untuk yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Dan lebih menyempit lagi dalam proses pendidikan.

Pertanyaannya, adakah dari sekolah menampilkan lebih dahulu daftar sayuran pelajaran yang boleh dan tidak boleh diambil, sesuai dengan kebutuhan masakan bakat dan tujuan siswa?

Atau jangan terlalu jauh. Bisakah siswa memesan mata pelajaran?

Atau adakah disediakan mata pelajaran yang berhubungan dengan kehidupan nyata siswa?
Adakah pelajaran tentang bertani bagi yang sekolahnya berada di daerah pertanian?
Adakah pelajaran kelautan bagi anak-anak pantai dan di tepi laut?
Adakah pelajaran-pelajaran lain sesuai tipikal daerahnya masing-masing?
Ataukah kenyataannya, di daerah mana pun dia maka sajian menu mata pelajarannya sama?
Ibarat di rumah tangga mana pun semua menunya adalah oseng kawat berduri—semacam bihun goreng yang telah kering, misalnya?
Hal yang paling mendasar di dalam proses belajar-mengajar yakni kesadaran belajar itu sendiri.

shareslide.net

Orang mau isi ulang galon, pasti dia sadar apa yang dibutuhkannya dan akan menolak saat diisi sekarung gandum atau bensin meski sama-sama zat cair. Nampaknya sederhana, akan tetapi bisa menjadi olok-olok yang mencolok mata batin apabila dikaitkan dengan isi ulang kelas pendidikan. Analisis kebutuhan belajar ini yang menjadi puncak sistem belajar. Yang mestinya menanggung bersama adalah peserta didik itu sendiri, orang tua, sosial, dan pemerintah melalui lembaga penyelenggara pendidikan.

Yang selama ini lebih banyak berperan baru lembaga pemerintah. Mereka membuat kurikulum dengan menyamaratakan kebutuhan peserta didik dengan analisis kebutuhan yang dilakukan oleh ahli-ahli kurikulum, tetapi agaknya tidak melibatkan orang tua, peserta didik, dan kondisi sosial masyarakat itu sendiri.

Bukti paling kecil adalah tidak ada pelajaran bertani di sekolah yang lingkungannya para petani atau melaut di lingkungan laut.

Ini akan kalah dengan kurikulum masak sayur ibu-ibu di mana ibu bertanya pada anaknya kira-kira mau masak apa, dan ibu juga memilih gizi yang cocok di samping harga yang sesuai, dan tukang sayur menyarankan misalnya untuk tidak membeli daging sapi terkait kasus virus. Satu contoh lain, kita tidak memilki mata pelajaran anti korupsi, meski jelas-jelas sistem sosial kita terkena penyakit itu, namun pendidikan tidak merasa butuh dan segera merespon untuk mendesain generasi berikutnya yang bebas korupsi. Atau bagaimana toleransi harus diperkuat pembelajarannya.

Lantas dari mana analisis kebutuhan itu diberikan? Jangan keliru, para pendesain kurikulum adalah para pakar, jadi banyak teori yang mendukung mengapa sistem pendidikan kita dijalankan dengan cara demikian. Referensi mereka juga kuat, yakni kurikulum di luar negeri.

Ibarat tukang sayur, mereka kadang membandingkan kebutuhan sayur di Korea dan di jualnya di wilayah Kroya, Cilacap.

Padahal, ada kebutuhan mendasar yang di mana pun itu akan dibutuhkan, yakni kepribadian dan karakter atau ibaratnya, selalu ada makanan pokok sebtulah nasi atau jagung atau sagu. Nasi atau jagung atau sagu ini mestinya yang diprioritaskan lebih dahulu daripada membeli terong. Keluarga bahagia tidak akan makan terong selama dua belas semester sekolah, tanpa nasi atau sagu atau singkong sebagai yang utama.

Demikian juga, pendidikan dasar tentang karakter, budi pekerti, mestinya yang awal mula diterapkan, bukan menekankan pada carlistung yang semacam oseng-oseng mercon, terasa sumirngah bagi manusia dewasa, tapi bikin mencret anak kecil. Negara-negara yang menduduki peringkat pendidikan terbaik menyelenggarakan sekolah dasar dalam waktu singkat dan fokus menamkan karakter.

Kebutuhan setiap jenjang pendidikan berbeda. Yang sama yakni kesadaran mendasar bagi peserta didik, apa yang akan dia pelajari, apa yang ingin dia pelajari, dan bagaimana mempelajarinya.

Sudahkah sekolah menanyakan satu persatu apa yang ingin dipelajari peserta didik dan apa yang tidak ingin?

Atau alasan-alasan mempelajari hal-hal yang diberikan di sekolah?

Dan mendidik anak berpedapat sejak dini dan berpikir kritis sejak dini agar kelak tidak menjadi lautan masyarakat yang mudah diombang-ambingkan angin politik tanpa kepribadian?

To Top