Puisi

Hutan Perawan

The Garden of France, Max Ernst (1962)

 

Sebuah hutan menghampar dalam diri
Menguasai daratan kesadaran
Mengepung lautan ketidaksadaran
Aum serigala dalam dada
Jerit gagak dalam jiwa:
Jiwa yang kesepian
Hutan perawan binatang liar

Di hutan perawan ini
Hidupku dan hidupmu dipertemukan
Bagai sungai-sungai bertemu lautan
Kesepianku dan kesepianmu bermesraan
Serupa matahari dan tumbuh-tumbuhan

Tak ada seorang pun
Sanggup memasuki hutan perawan ini
Binatang-binatang liar terlampau buas
Menyambut para asing yang datang

Tapi mereka yang bersetia pada kesunyian
Akan mendapatinya sebagai hutan sejuk penuh keindahan
Kupu-kupu warna-warni bersayap harapan
Burung-burung dengan mata tabah ketulusan
Juga bunga dan pohonan
Yang tak pernah memiliki dendam

Di sini aku dapati diriku yang sebenarnya
Aku temui hidup yang semestinya
Meski di hutan ini aku sendiri bagai Adam
Aku tak harus meminta kepada Tuhan
Untuk mencipta Hawa bagi kesendirian
Untuk mencipta manusia lain dari tulang rusukku

Aku hanya akan meminta agar Tuhan
Mencipta huruf bagi kata, nada bagi suara
Agar dengannya aku dapat menulis puisi
Menggubah nyanyian, lagu-lagu pujaan:
Menyingkap segala kegaiban yang terperam
Di balik akar tumbuhan dan sorot mata binatang

Bila tak dikabulkan
Aku akan meminta kepada Tuhan
Agar mengutukku menjadi serat dalam batang pohonan
Atau menjadi putik dari bunga yang menunggu mekar
Atau menjelma seekor burung
Beterbangan dari dahan ke dahan
Menghikmati denyut kesunyian tiap-tiap ciptaan

Tapi bila itu pun tak dikabulkan
Aku hanya akan menjelma jerit gagak dalam jiwa
Aum serigala dalam dada
Pada hutan kesunyianmu yang luas dan betapa

To Top