Suar

Good Night, and Good Luck: Jurnalisme, Propaganda dan Kontrol Pikiran

Manusia modern pada kesehariannya telah dihadapkan pada permasalahan (dis-)informasi media massa sehingga menjadi sulit sekali bagi mereka untuk membedakan berbagai ragam tingkatan realitas. Hingga saat ini pun, banyak orang tidak menyadari fenomena ini atau hanya sekadar enggan untuk mengkritisinya. Padahal, bila ditelusuri lebih jauh, banyak sekali pembelokan makna yang sengaja dilakukan oleh pelaku media massa demi menyusupkan pesan-pesan khusus yang seringkali berhubungan dengan hegemoni pihak tertentu. Empat fungsi media massa untuk memberi informasi (to inform), mendidik (to educate), mengajak untuk berpikir/melakukan sesuatu yang khusus (to persuade) dan menghibur (to educate), menjadi pertanyaan besar yang perlu kita kaji secara lebih serius. Benarkah media massa kini efektif dalam mengemban keempat fungsi di atas? Atau apabila itu berlaku sebaliknya, bagaimana awal semua itu terjadi?

Tulisan ini berusaha untuk mengekspos permasalahan tadi dengan memfokuskan cakupannya ke area media massa jurnalistik, walaupun hadir pula sebagai referensi besarnya adalah film Good Night, and Good Luck karya sutradara George Clooney, yang merepresentasikan dunia pers pasca Perang Dunia II. Di sini penulis akan memberikan perbandingan contoh-contoh kasus yang kontekstual, seperti: sejarah singkat munculnya media propaganda dan pers, propaganda Nazi Jerman, munculnya propaganda modern Amerika Serikat saat Perang Dunia I dan tokoh jurnalis Walter Lippmann yang bereaksi terhadap hal itu, tumbuhnya stigma negatif dan ketakutan picik terhadap paham komunisme pada masyarakat AS pasca Perang Dunia II dan sebuah kasus yang mempertentangkan seorang jurnalis AS pada era itu yang bernama Edward R. Murrow dengan Senator McCarthy.

Poster propaganda dalam Revolusi Bolshevik Rusia

Alasan mengenai jangkauan geografis-politik pada belahan dunia Barat pada awal abad ke-20 tidak lain adalah karena gencarnya manuver para pemimpin negara dan pemuka media Barat dalam membentuk persepsi dunia untuk dapat menundukkan publik secara ideologis & politik-ekonomis. Secara historis, Barat sejak awal telah memprakarsai berbagai bentuk kegiatan propaganda dan pengendalian massa yang secara krusial sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia hingga saat ini.

 

Sejarah pengendalian massa pada awal abad ke-20 melalui media jurnalistik

Pers, Demokrasi dan Propaganda

Sejarah dunia pers, seperti yang dikatakan Jurgen Habermas, adalah sebuah cerita tentang penetapan dari fiksi yang diperlukan, ‘lingkungan publik’. Dalam lingkungan publik, opini publik membentuk dirinya sendiri dari pengalaman orang-orang yang memiliki akses untuk itu dan dari informasi yang ditunjuk sebagai area kumpulan dan wilayah debat. Lingkungan publik, menurut Habermas, adalah suatu lingkungan yang pada fungsi dan praktek sebenarnya diperuntukkan bagi masyarakat borjuis. Hingga hari ini, penelitian menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi kita ternyata mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elit, dan tak mempedulikan sebagian besar warga.

Tak dipungkiri lagi, media pers telah menjadi sebuah komoditi ekonomi-politik. Sebagai sebuah komoditi, penentuan akan apa yang ditampilkan, disuguhkan atau dikomunikasikan sangat bergantung pada sasaran konsumtif dalam arti elitis. Dalam hal ini, pers tidak lagi menyentuh kepentingan masyarakat umum untuk meraih informasi yang mencerdaskan dan mencerahkan, akan tetapi yang justru ditekankan adalah bagaimana pers sebagai media massa dijadikan suatu alat yang efektif untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan bagi pihak-pihak otoritas tertentu.

Poster propaganda dalam Revolusi Prancis

Noam Chomsky dalam bukunya yang berjudul Necessary Illusions, memperingatkan masyarakat bahwa meskipun TV dan koran sering menggunakan kata-kata bombastis seperti “demokrasi”, “kapitalisme”, “kebebasan berbicara” dan “persamaan”, masyarakat jarang sekali mendengar diskusi tentang apa sebenarnya arti kata-kata tersebut dan bagaimana peranannya dalam kehidupan masyarakat. Profesor James Carey dari Columbia University menyatakan bahwa pihak pers telah mengembangkan “sebuah jurnalisme yang membenarkan pengatasnamaan publik, tapi publik tak memainkan peran apa pun sebagai audiens“. Jurnalisme yang seharusnya mengedepankan idealisme untuk mengkritisi peristiwa telah jatuh terjerembab di hadapan bisnis komunikasi dalam skala global. Carey melanjutkan, “problemnya adalah Anda melihat jurnalisme menghilang ke dalam dunia komunikasi yang lebih besar. Apa yang Anda dambakan adalah membangkitkan lagi jurnalisme dari dunia yang lebih besar itu“.

Sebenarnya permasalahan-permasalahan tersebut tidak akan menjadi perdebatan para ahli apabila kita tidak berbicara dalam konsep demokrasi, konteks kepentingan publik dalam lingkungan yang demokratis. Kita sebagai masyarakat yang sadar akan pentingnya hidup dalam udara demokrasi, tentu saja patut mengkritisi ini. Hal itu dimaksudkan agar “kita bebas untuk berpikir apa saja yang kita mau dan membaca atau melihat atau mendengar apa yang kita mau“. Menurut John Dewey, mengatur urusan publik secara efisien bukanlah tujuan sebenarnya dari demokrasi. Tujuannya justru untuk mengembangkan potensi sepenuhnya dari masyarakat. Dengan demikian, demokrasi adalah hasil akhir, bukan cara. Solusi untuk problem demokrasi bukanlah menyerah terhadap kekurangannya, melainkan berupaya meningkatkan kecakapan pers dan pendidikan publik. Kini, demi melihat kata “Kontrol Pikiran” bila dikaitkan dengan masyarakat demokratis tentu saja hal itu menjadi tak wajar. Menurut Chomsky, masyarakat yang demokratis adalah masyarakat di mana publik mempunyai alat yang cukup berpengaruh untuk berpartisipasi dalam mengatur urusan-urusan mereka sendiri.

Konsepsi lain demokrasi, Chomsky menyebut, adalah publik harus dihalangi dalam usahanya untuk mengatur urusan mereka, dan alat-alat informasi harus senantiasa dikontrol secara ketat. Memang definisi ini terdengar janggal, tetapi hal inilah yang justru berlaku secara umum. Jurnalisme tidak lagi menyediakan informasi yang independen, aktual, akurat, komprehensif dan dapat dipercaya yang secara esensial dibutuhkan masyarakat untuk hidup merdeka secara aktif.

Dengan tumbuhnya kesadaran akan ketidak-demokratisan itu, pada sisi lain berkembanglah pesimisme terhadap demokrasi. Sebagai contoh dapat kita lihat di tahun 1920-an di Eropa. Saat itu pemerintahan demokratis di Jerman dan Italia telah ambruk, atau setidaknya di ambang kehancuran. Negara-negara otoriter menggunakan teknologi baru dan media propaganda baru untuk mengendalikan pikiran publik. Masyarakat dalam sejarah telah mengalami pencucian otak secara besar-besaran.

Propaganda Nazi Jerman

Selama masa tahanannya, Adolf Hitler menyadari bahwa partai Nazi yang ia dirikan sempat menurun daya masif-nya. Akan tetapi hal itu dapat segera ia atasi setelah masa penahanan itu. Hitler melancarkan propaganda yang bertajuk Tausendjahriges Reich. Kata “Reich” ia adopsi dari buku karangan penulis konservatif Arthur Moeller van den Bruck pada 1922. Propaganda yang begitu tajam dan membius ini secara sistematik ditujukan untuk menghancurkan kekuasaan pemerintahan Weimar yang dianggap bertanggungjawab menandatangani Perjanjian Versailles 1919. Perjanjian yang mengakhiri Perang Dunia I ini dipaksakan oleh Sekutu terhadap Jerman pada Juni 1919. Perjanjian ini juga menetapkan berdirinya Liga Bangsa-Bangsa.

Salah satu hasil perjanjian ini adalah Jerman kehilangan semua daerah jajahannya. Rampasan perang yang berat dipaksakan kepada Jerman dan pasukan Jerman dikurangi sebanyak-banyaknya. Kemarahan Jerman atas kekasaran perjanjian inilah yang menjadi salah satu faktor terkuat kebangkitan Nazisme Jerman. Bangsa ini dianggap perlu bangkit dari keterpurukan besar melalui pemupukan benih “patriotisme” yang secara produktif dapat disemaikan melalui propaganda.

Salah seorang juru propaganda Nazi yang terkenal saat itu adalah Dr. Joseph Goebbels, yang dengan kehandalannya mempengaruhi orang lalu diangkat menjadi Menteri Propaganda. Goebbels menyebut, “Propaganda itu akan diterima dengan baik oleh rakyat manakala disampaikan secara populer sesuai dengan daya serap rakyat dari tingkat intelektual paling rendah sekali pun“. Teknik jitu kepiawaiannya itu diberi nama argentums ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik big lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebar-luaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin hingga kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Terdengar sederhana namun terbukti efektif kekuatan pengaruhnya. Dalam buku Manufacturing Consent, Chomsky dan rekan penulisnya, Edward S. Herman, menguraikan apa yang mereka sebut sebagai “model propaganda”, melukiskan kekuatan “tak terlihat” yang menjamin bahwa media massa akan memainkan peran propaganda, menyebarkan informasi yang bias, alih-alih berita, dan mematuhi perintah tuan mereka, bahkan tanpa diminta. “Propaganda…“, lanjut Chomsky dan Herman, “semata-mata memobilisasi dukungan untuk kepentingan istimewa yang mendominasi negara dan kegiatan privat. Dan…penghilangan, penekanan dan pilihan mereka atas apa yang akan disampaikan dalam media acapkali paling gampang dipahami…dengan menganalisanya dalam pengertian itu“.

Politik cuci otak Nazi sendiri lazim dikenal dengan sebutan Gleischschaltung, yang dapat diartikan sebagai ‘sinkronisasi’. Hasil dari politik ini mulai terasa hasilnya pada tahun 1938. Saat itu unsur-unsur legislatif dalam pemerintahan Jerman, mulai dari pusat hingga daerah, mampu dikuasai oleh Gauleiters (orang-orang pilihan dalam pemerintahan Hitler). Penguasaan sektor-sektor pengambil keputusan ini dilakukan agar seluruh kebijakan pemimpin Partai Nazi dapat dilaksanakan sebagaimana dikehendaki. Secara luar biasa mereka bisa menanamkan di benak rakyat Jerman, bahwa Nazi adalah satu-satunya partai politik yang boleh berdiri dan Nazisme adalah satu-satunya ideologi yang harus dianut. Nazi menyensor seluruh media massa, buku-buku, siaran-siaran radio, film dan bentuk media komunikasi lainnya. Semua hal yang bertentangan dimusnahkan. Buku-buku yang tidak selaras dengan paham Nazisme segera dibakar. Nazi dari segala lini sangat protektif dan represif terhadap segala hal yang berpotensi menimbulkan pembangkangan atau bahkan dalam sekadar wacana kritis.

Dalam dunia pendidikan, pengawasan juga dilakukan terhadap pelajaran yang diberikan guru-guru di sekolah. Sebaliknya, mereka memaksakan kecintaan kepada Nazi secara konsisten. Akibatnya, para siswa tertuntun untuk turut menyensor semua hal yang bertentangan dengan Nazisme.

Propaganda Nazi tercatat telah memakan banyak korban. Selama 12 tahun kekuasaannya, dilaporkan sebanyak 11 juta orang disiksa dan dibunuh. Mereka umumnya adalah kaum minoritas (Yahudi, Gipsy, Slavia), lawan politik (kaum liberal, komunis), kaum homoseksual dan para penyandang disabilitas.

Walaupun Nazi harus menerima kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, Hitler dan Nazi sanggup membayar seluruh kepedihan tersebut dengan merealisasikan seluruh janji yang pernah diidealisasikan sejak awal. Cita-cita yang dimaksud adalah membangun kembali kejayaan Imperium Jerman Kuno yang pernah berkuasa di Eropa sejak abad ke-18 hingga 1918, dan menaikkan harkat rakyatnya sebagai ras Arya, ras yang menurut mereka superior di dunia. Nazi dan angkatan perangnya berhasil merebut hampir seluruh wilayah daratan Eropa, kecuali Swiss, Spanyol, Listenstaina (Liechtenstein), Swedia, Portugal, Andorra, Vatikan dan Pegunungan Ural. Sejumlah hasil besar yang diraih melalui teknik canggih media propaganda.

Munculnya Propaganda Modern Amerika dan Walter Lippmann

Pada tahun 1916, di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, Woodrow Wilson memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Rakyat AS saat itu sangat anti-perang dan merasa tak ada alasan untuk terlibat dalam ‘Perang Eropa’ yang sedang berlangsung. Pemerintahan Wilson lalu membentuk komisi propaganda resmi pemerintah Creel Commission, yang hanya dalam jangka waktu 6 bulan, berhasil mengubah publik Amerika menjadi massa yang histeris dan haus perang, yang bertekad untuk menghancurkan semua yang berbau Jerman. Massa anti-perang berputar haluan untuk melibatkan diri di medan perang melalui cara ditakut-takuti dan dibangkitkan fanatisme kebangsaan yang berlebihan.

Metode untuk mencapai tujuan tersebut antara lain adalah dengan menghembuskan rumor tentang kekejaman bangsa Jerman (Hun). Sebagian besar cerita itu dibuat oleh kementerian propaganda Inggris yang menyembunyikan keinginan untuk “mengatur pemikiran dunia”. Padahal, mereka ingin mengendalikan pemikiran masyarakat intelektual Amerika, yang kemudian akan merealisasikan propaganda Inggris itu, yaitu masyarakat Amerika turut berperang melawan Jerman. Usaha ini pada prakteknya sangat berhasil. Dapat diambil kesimpulan bahwa propaganda pemerintah jika didukung oleh kelas berpendidikan dan tak terjadi penyimpangan, maka pengaruhnya akan sangat besar. Dengan menerapkan prinsip ini, publik otomatis akan bertindak persis seperti apa yang diinginkan negara. Edward Bernays, seorang tokoh terkemuka pada era kemunculan industri hubungan masyarakat (humas), mengatakan bahwa bujukan adalah inti dari proses demokrasi, “seorang pemimpin seringkali tidak perlu menunggu sampai rakyat mengerti… Para pemimpin yang demokratis harus memainkan peran mereka dalam merekayasa persetujuan untuk meraih tujuan-tujuan sosial yang membangun“.

Keberhasilan propaganda ini menimbulkan berbagai macam reaksi dari berbagai pihak. Salah satu kelompok yang “terkesan” adalah para ahli teori demokrasi liberal dan pemuka media, salah satunya adalah Walter Lippmann. Dia adalah wartawan terkemuka Amerika, seorang yang kritis terhadap kebijakan dalam dan luar negeri, serta seorang teoris demokrasi liberal yang terkenal. Lippmann terlibat dalam mengkritisi komisi propaganda ini dan termasyhur karena keberhasilannya. Ia menyebutkan bahwa ‘revolusi seni berdemokrasi’ dapat digunakan untuk membuat suatu ‘persetujuan buatan’, yaitu mengadakan persetujuan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh publik dengan menggunakan teknik propaganda. Menurutnya ini penting karena ‘kepentingan bersama dapat mengecoh pemikiran publik dan hanya dapat dipahami dan dikelola oleh sebuah ‘kelas para ahli’ yang berasal dari ‘para penguasa’ yang cukup cerdas untuk menalar.

Lippmann menegaskan bahwa dalam keadaan di mana demokrasi berfungsi dengan baik selalu terdapat kelas masyarakat. Pertama, terdapat kelas masyarakat yang memegang peran aktif dalam menjalankan hubungan-hubungan umum, mereka adalah kelas para ahli. Merekalah yang menganalisis, melaksanakan, mengambil keputusan dan menjalankan segala hal di bidang politik, ekonomi dan sistem ideologi. Mereka secara representatif hanya sedikit. Secara alamiah, siapa pun yang setuju dengan gagasan seperti ini secara otomatis menjadi bagian dari kelompok kecil tadi, dan bergabung untuk membicarakan apa yang dapat dilakukan untuk orang lain.

Kedua, “orang lain” itu, yang tidak termasuk kelompok kecil, adalah mayoritas dari populasi, merekalah yang disebut Lippmann sebagai ‘the bewildered herd‘ atau ‘kawanan yang tersesat’. Menurut Lippmann fungsi mereka adalah menjadi “pemirsa”, bukan sebagai “pemain” dalam melakukan pekerjaan berpikir, merencanakan dan memahami kepentingan bersama. Dalam lingkungan negara demokrasi, sesekali mereka diizinkan untuk meminjamkan kekuatannya kepada salah satu anggota kelas para ahli. Mereka diberi peluang untuk berikrar “Kami ingin Anda menjadi pemimpin kami” atau “Kami menginginkan Anda menjadi pemimpin kami”. Namun, setelah dia meminjamkan kekuatannya pada salah satu anggota kelas para ahli, mereka harus mundur diri dan kembali menjadi “penonton”. Itulah keadaan di mana demokrasi berfungsi dengan baik.

Pada tahun 1921, Lippmann menulis dalam bukunya yang berjudul Public Opinion (Opini Publik), bahwa publik tak ubahnya penonton teater yang “datang di tengah babak ketiga dan pergi sebelum tirai terakhir turun, mereka tinggal secukupnya untuk memutuskan siapa pahlawan dan siapa tokoh jahatnya”. Ia tekankan bahwa orang kebanyakan tahu dunia secara tidak langsung, melalui “gambaran yang mereka buat di kepala mereka”. Problemnya terletak pada gambaran yang ada di benak orang-orang ini sangat terdistorsi dan tak lengkap, gambaran ini dirusak oleh kelemahan pers yang tak dapat diubah. Yang tak kalah buruk, kemampuan publik untuk memahami kebenaran –bahkan jika kebenaran itu datang– sering terkalahkan oleh bias, stereotype, kelalaian dan ketidakpedulian audiens.

Dalam buku itu pula Lippmann menyebutkan, “pembuatan persetujuanmenghasilkan “suatu revolusi dalam praktek demokrasi” dan menjadi “organ regular dan seni kesadaran diri dalam pemerintah populer” “Kepentingan umum”, menurut Lippmann, “akan meminggirkan opini publik sepenuhnya, dan dapat diatur oleh golongan kelas tertentu yang kepentingan pribadinya menjangkau melampaui lokalitas“. Kaum elit yang menganggap diri mereka sendiri sebagai penguasa berada dalam posisi yang berkuasa untuk memaksakan kehendak mereka dan jika kondisi sosial tidak memungkinkan penggunaan kekuatan sekadarnya untuk memastikan kepatuhan, maka “semua teknik baru untuk mengontrol, terutama melalui propaganda”, niscaya diperlukan karena “kebodohan dan takhayul (dari) massa”. Publik dihadapkan pada nilai-nilai yang menyiratkan bahwa mereka terlalu bodoh untuk memahami sesuatu. Oleh karena itu, kalangan pers yang peduli pada hak publik seharusnya memegang pendiriannya untuk membuat publik sadar akan nilai-nilai esensial dari setiap peristiwa sosial. Dalam Public Opinion, Lippmann menulis: “Berita dan kebenaran bukanlah hal yang sama… Fungsi berita adalah menandai suatu peristiwa. Fungsi kebenaran adalah memerangi fakta-fakta tersembunyi, menghubungkannya satu sama lain, dan membuat sebuah gambaran realitas yang dari sini orang bisa bertindak“.

Perang Dingin dan Red Scare: Murrow vs. McCarthy

Dunia seolah-olah mengkristal setelah Perang Dunia II ketika Amerika Serikat (AS) sebagai pemimpin negara-negara blok barat yang secara tertutup menebarkan hawa perang dingin dengan negara-negara blok komunis yang dipimpin Uni Soviet. AS secara konsisten berusaha menarik simpati negara-negara dunia ketiga melalui pemberian “pengertian” yang menyesatkan mengenai buruknya paham yang dianut oleh negara-negara lawannya. AS yang merasa telah mendapatkan banyak keberhasilan dalam Perang Dunia II, mencoba segala skema dalam upayanya untuk mengambil keuntungan dari kekuasaannya yang baru diperoleh itu. Seorang perencana Departemen Negara AS, George Kennan, pada tahun 1948, menulis sebuah dokumen ‘Policy Planning Study 23′ yang sebagiannya bertuliskan: “Perhatian kita harus dipusatkan di segala penjuru untuk meraih tujuan nasional kita yang terpenting.. Kita seharusnya berhenti berbicara mengenai tujuan-tujuan samar dan tidak nyata semacam hak asasi manusia, peningkatan standar hidup dan demokratisasi“.

Selain dalam jangkauan politik internasional, Amerika Serikat juga memperkuat kekuasaannya dengan menjadikan dirinya pelopor dalam industri humas. Saat itu sasaran yang ditentukan pemimpin-pemimpin Amerika adalah ‘untuk mengontrol pikiran publik’. Mereka banyak mempelajari kesuksesan Creel Commission-nya Woodrow Wilson lalu berlanjut dengan menciptakan Red Scare, ketakutan yang disebarkan kepada publik mengenai bahayanya paham komunisme yang dianut oleh blok Uni Soviet. Kennan, dalam suatu pertemuan duta besar AS dengan negara-negara Amerika Latin, memperingatkan para diplomat bahwa mereka harus membendung menyebarnya gagasan berbahaya “bahwa pemerintah bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyatnya”. Untuk melawan gagasan ini, Kennan berkata, “kita seharusnya tidak ragu lagi dengan adanya represi polisi oleh pemerintah lokal… lebih baik mempunyai rezim kuat dalam kekuasaan ketimbang rezim liberal jika ia terlalu bebas, longgar dan disusupi kaum komunis”. Siapa saja yang mempunyai gagasan berbahaya bahwa pemerintah bertanggungjawab terhadap rakyatnya dianggap sebagai seorang komunis oleh para pejabat tinggi militer AS.

Sementara itu, dampak dari ketakutan ini terus berlangsung di antara warga-warga AS pada saat itu. Dan hal ini terasa semakin menggigit ketika pada tahun 1952 dua orang pemuka program berita CBS ‘See It Now’ yaitu Edward W. Murrow dan Fred W. Friendly, menayangkan berita tentang seorang Letnan Angkatan Udara (AU) AS yang bernama Milo Radulovich. Kasus Radolovich dianggap telah mengindikasikan sebuah “penodaan ideologis” di tubuh AU Amerika karena alasan tidak setia terhadap negara yang disebabkan oleh beberapa label yang identik dengan paham komunis di keluarganya. Ayahnya adalah seorang pembaca setia koran-koran komunis dan saudarinya dinilai memiliki simpati yang besar terhadap komunisme. Mereka dituduh terlibat dengan ‘aktivitas-aktivitas yang sangat mencurigakan’. Awak berita program See It Now mengadakan pembicaraan dengan Radulovich mengenai keinginannya mengangkat berita ini dan reaksi yang timbul dari tindakan itu menggerakkan dua pejabat AU AS suatu kali “mendatangi” Murrow dan Friendly.

Dengan menyadari akan tingkat kesensitifan dari berita ini, bos-bos CBS menolak untuk membuat promosi mengenai program ini. Murrow dan Friendly lalu menulis cek senilai US$ 1.500 kepada New York Times untuk sebuah iklan program tersebut. Iklan itu bertuliskan:

The Case Against Milo Radulovich A 0589893.

Produced by Edward R. Murrow and Fred W. Friendly.

Mereka mengedit 5 jam rekaman wawancara menjadi program 30 menit. Disiarkan tanpa narasi atau voice over dengan sedikit pembahasan singkat oleh Murrow pada bagian akhir program. Dari acara itu dapat disimpulkan bahwa ayah dan saudari Radulovich bukanlah komunis. Ayahnya ternyata hanya membaca korban Serbia-Yugoslavia dari kampung halamannya. Murrow menyebutkan, ‘Kami yakin “sang putra tidak sepatutnya menanggung ketidakadilan yang dilakukan oleh sang ayah” meskipun ketidakadilan yang dimaksud bisa dibuktikan, yang mana dalam kasus ini tidak terbukti’. Murrow kemudian menegaskan bahwa fungsi dari angkatan-angkatan bersenjata adalah melindungi hak-hak individual.

Mulai saat itu banyak bermunculan surat-surat dukungan terhadap integritas program ini. Walaupun hal ini secara moral memihak tindakan Murrow dan Friendly, akan tetapi pada akhirnya mereka sadar bahwa program ini memicu reaksi panas dari pihak yang kontra. Program televisi yang memiliki kualitas debat ini secara esensial adalah sebuah konteks, bukan teks politik, dan Murrow yang mengkritik AU AS dinilai sebagai lawan politik dari pihak yang dimaksud. Radulovich saat itu segera dipindah-tugaskan. Orang-orang dari Senator Joseph McCarthy, seorang pejabat yang berpengaruh saat itu, merekayasa foto-foto yang menampilkan Murrow sedang mengadakan aktivitas-aktivitas “kiri” pada sekolah musim panas di Moskow pada tahun 1935. Murrow tidak langsung bereaksi terhadap tuduhan itu. Di akhir tahun 1953, Murrow pergi ke Korea untuk menyiapkan sebuah tayangan film dari kehidupan dan karir Senator McCarthy.

Pada 9 Maret di tahun berikutnya, dengan disponsori dan dibiayai sekali lagi oleh Friendly dan Murrow tanpa menarik keuntungan dari logo CBS, program itu disiarkan dengan pembahasannya yang sangat tajam. Dengan pemaparan yang baik walau tanpa komentar atau narasi, program ini meng-jukstaposisi-kan shot-shot (rekaman gambar) dari pernyataan-pernyataan kontradiktif McCarthy, penyebutan-penyebutan yang tak terbukti, penampilan saksi-saksi yang berkesan dibuat-buat dengan keringat dan suara parau mereka, penghinaan terhadap institusi tinggi negara, pelabelan yang sama sekali keliru, sindiran yang ceroboh dan pendustaan yang tak kenal malu. Murrow, dengan pembawaan tenang  dan nada bicara yang serius, mempertanyakan hasil dari metode-metode McCarthy dalam investigasi kesenatan yang orang-orangnya McCarthy pilih secara tak bijak.  McCarthy dilindungi dengan kekebalan yang ia dapatkan dari Dewan, dan selalu dipersenjatai dengan panggilan-panggilan pengadilan yang kerap meringankan bebannya. Di akhir program itu, Murrow berkata:

Kita harus mampu mengartikan ketidaksetiaan. Kita harus selalu ingat bahwa tuduhan bukanlah bukti dan keputusan bergantung pada bukti dan melalui proses hukum. Kita tidak akan berjalan dengan rasa takut, satu sama lain. Kita tidak akan dikendalikan oleh rasa takut menuju era tak-beralasan jika menggali dalam-dalam pada sejarah kita dan doktrin kita, dan ingatlah bahwa kita bukanlah keturunan dari para penakut, bukan pula keturunan dari orang yang takut untuk menulis, untuk berbicara, untuk berteman dan untuk membela alasan-alasan yang dalam sekian waktu tidak memasyarakat“.

McCarthy bereaksi dengan penampilan seperti biasanya menjawab atas penunjukan terhadapnya. Murrow menetapkan kembali sasarannya pada setiap pernyataan satu demi satu secara hati-hati, akurat dan sabar dalam menolak prosedur-prosedur yang memalukan dari investigasi yang dilakukan Senator. Pada akhirnya, arogansi McCarthy telah menggiring dirinya sendiri dalam memprovokasi AD AS dengan menyebut George C. Marshall seorang pengkhianat. Di akhir tahun, tamatlah karir politiknya.

Program See It Now tetap bertahan hingga empat tahun kemudian. Keberanian dalam mengungkap berita dan pilihannya yang baik terhadap subjek permasalahan, menorehkan sejarah dalam dunia pemberitaan televisi.

Ambruknya Uni Soviet pada tahun 1988 memaksa AS untuk menetapkan ulang obsesi nasionalnya dengan anti-komunisme sebagai dalih sentral yang layak, kebajikan yang tak perlu dipertanyakan lagi dalam kultur AS ketimbang kebajikan mengumpulkan uang. Meskipun AS berdiri berkat Revolusi, akan tetapi pada era ini kata ‘revolusi’ menjadi identik dengan suatu ancaman jahat. Revolusi yang terjadi di negara Rusia, China dan Kuba amat mengancam kelas penguasa karena komunisme dianggap akan melengserkan status kelas superior mereka. Keberadaan komunisme menjadi momok yang dengannya segala sesuatu dapat dibenarkan. Komunisme menjadi musuh bersama yang digembar-gemborkan pemerintah sehingga dapat dimanfaatkan untuk mobilisasi massa.

Film Good Night, and Good Luck sangat baik dalam memaparkan fungsi media yang membentuk opini publik. Nilai-nilai edukasi, informasi, persuasi dan hiburan sangat subtil ditunjukkan dalam berbagai aspek sinematografi di dalamnya. Secara tematis, film ini sangat relevan dan identik dengan ‘(peng-)kondisi(-an) massa’ yang terjadi di Indonesia di kurun waktu yang sama dan pada masa belakangan ini.

***

Pada awal abad ke-20, sebenarnya banyak jurnalis dan redaktur yang sadar akan bangkitnya propaganda dan munculnya peranan agen hubungan pers. Para wartawan sebagai salah satu pelaku media massa, mulai sibuk dalam mengembangkan pemahaman tentang subjektivitas manusia. Pada 1919, Walter Lippmann dan Charles Merz, seorang redaktur harian New York World, menulis analisis yang berpengaruh dan tajam yang mengecam bagaimana orang-orang yang kurang berpengalaman telah memutar-balikkan liputan New York Times tentang Revolusi Rusia. “Secara umum, tulisan tentang Rusia itu adalah laporan tentang apa yang mereka ingin lihat, dan bukan apa yang sesungguhnya terjadi di sana“, tulis Lippmann dan Merz.

Dalam dunia yang penuh dengan selubung hiper-realitas ini, perlu adanya kemampuan literasi (membaca) media dan sikap kritis yang konsisten terhadap semua nilai yang dihadapkan pada kesadaran kita.

Sumber Bacaan:

  • People’s Witness –The Journalist in Modern Politics oleh Fred Inglis. Yale University Press, New Haven and London, 2002.
  • “Newspaper Arrive at Economic Crossroads”, oleh Lou Urenick, Nieman Reports, edisi khusus, musim panas 1999,
  • Elemen-Elemen Jurnalisme, oleh Bill Kovach & Tom Rosenstiel, terj.Yusi A. Pareanom, Penerbit Isai dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, 2001.
  • Chomsky untuk Pemula, David Cogswell & Paul Gordon, Resist Book, Yogyakarta, Maret 2006.
  • Kuasa Media, Noam Chomsky, terj. Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda (Seven Stories Press, New York, 1997) oleh Nurhady Sirimorok, Penerbit PINUS, Yogyakarta, September 2005.
  • Majalah ANGKASA, edisi Kedigdayaan Nazi Jerman (1933 – 1945), Cetakan Kedua, Penerbit Gramedia

Majalah.

  • Ensiklopedia Indonesia edisi khusus, oleh Hassan Shadily,PT. Ichtiar Baru–Van Hoeve, Jakarta, 1992.
To Top