Fiksi

Emas di Hadapan Kesempatan Emas

Heri Dono, The New Chair | Sumber: Syakib Sungkar, Ang Lee

Aku keluar dari tempat itu karena aku ingin memandang dunia dengan cara yang berbeda. Aku memulai semuanya dari nol. Ketika di sana untuk pertama kalinya, tubuhku telah memberi sinyal, bahwa aku tidak aman. Lalu ketidaknyamanan menyusul kemudian. Orang memandangku bekerja dengan baik, pendapatan baik, tapi bila mereka mau mengenalku lebih dekat, mereka akan tahu aku berada dalam keadaan sengaja membuat diriku nyaman agar aku tetap bisa bekerja. Walau sebenarnya, aku tak fokus, tak bisa tenang.

Apa yang ku kejar selama ini adalah keuangan yang stabil, sesuatu yang selalu diinginkan banyak orang. Ketidakstabilan keuangan, sesuatu yang tak diinginkan semua orang. Aku memiliki hal lain yang ingin aku lakukan, sejak dulu, namun kulupakan ketika tawaran Emas itu jatuh di depan mataku dan hanya untukku, tak ada pesaing. Aku mengambilnya dengan rasa bangga dan sekaligus penasaran akan seperti apa jadinya Emas ini ketika ditempa nanti.

Dan sebelum ada satu tahun, aku melihatnya, yang ku kira emas ternyata hanya sebuah kuningan, bersinar seperti emas tapi bukan Emas asli. Sehingga aku tahu, aku telah tertipu dengan rupanya. Emas yang kulihat itu hanyalah bentuk, namun jiwanya tidak. Ketika umurnya baru setengah tahun, Emas itu ternyata tak mampu membentuk dirinya sendiri. Ia terbentuk oleh pasar, Raksasa yang jauh lebih kuat dari Emas. Raksasa ini mengambil hatinya, untuk mencapai dunia yang bersinar, Emas itu memilih berada di tangan kanan Sang Raksasa.

Aku, mungkin hanya aku yang tak bisa melihat dengan jelas bukit apa yang menjadi tumpuan tempat duduk Emas itu. Aku hanya melihat kegelapan, namun aku masih tetap bertahan di antara orang-orang yang mengerumuni Emas dengan hiasan-hiasan, bunga-bunga, tanah-tanah, dan kata-kata yang mereka punya. Aku mendengarkan mereka bicara, mendengarkan satu sama lain dan membuat Emas semakin tinggi duduknya, namun aku masih tak bisa melihat cahaya.

Di mataku, kegelapan justru menelan Emas, menjadi semakin gelap dan tak terlihat. Tubuh besar Raksasa itu seperti menenggelamkannya, sehingga Emas hanya bisa dilihat oleh mereka yang bisa ikut memeluk Emas di antara tangan-tangan Raksasa.

The New Chair, 2002, Heri Dono | Ang Lee

Aku terdiam di tempat yang tak terlihat. Mereka juga tahu aku hanya tetap diam di tempatku, bagi mereka aku mungkin takkan ke mana-mana karena aku telah dimanjakan oleh Emas. Mereka tahu aku butuh Emas itu, untuk hidupku, untuk kestabilan keuanganku.

Suatu hari, pada suatu malam yang dingin, pada saat aku tenggelam dalam kesendirian, aku mendengar sebuah Suara bertanya, “Benarkah kau bahagia melihat Emas dipeluk oleh Raksasa?”
Aku terhenyak mendengar pertanyaan dari Suara itu. Aku mencari-cari di mana ia berada, agar aku bisa melihat wajahnya, kubuka mataku baik-baik. Aku menemukannya, Suara itu, yang kedudukannya ada di dalam tubuhku, menegurku.

“Kalau kau mencariku di luar dirimu, sampai kiamat kau takkan menemukanku, kau hanya akan mendengar suaraku dan menjadi gila karenanya,” ujarnya.

Aku tersenyum meski tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku ingin berkilat lidah dengannya, namun mendadak, kata-kataku hilang di kerongkongan. Semua itu terjadi karena dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuterjemahkan.

Aku menjawab pertanyaannya di dalam pikiranku, akankah kata-katanya benar? Pada saat itu pula ia berubah menjadi sekumpulan film dari masa lalu yang muncul di hadapanku. Suara masih bersuara, katanya, “Setiap kejadian memiliki konsekuensi, terlalu lama kau tak menyadari, kau bisa terlambat.”

Apa yang akan terlambat? Apa yang harus aku laksanakan?

Pertanyaanku tak dijawabnya, Suara menghilang bersama dengan suaranya pula.

Setelahnya di dalam kesendirianku, dengan tetap beraktivitas di dekat Emas, Aku pun memikirkan ulang keberadaanku. Satu per satu kuperhatikan baik-baik setiap wajah, karakter, dan setiap perkataan yang dilakukan oleh mereka, para pendukung Emas. Nyatanya, setelah lekat-lekat aku memperhatikan mereka aku tak memahami kenapa aku tak jua memahami atau pun sedikit saja mengenal mereka, kecuali aku mengetahui bahwa mereka adalah kebalikan dariku.

Mereka menikmati memutarbalikkan harga emas. Mereka bangga ketika emas-emas pesaing saling berkonfrontasi, mereka merasa memiliki peluang untuk mengambil posisi yang kosong untuk menarik perhatian para penikmat emas.

Pelan-pelan aku menyadari, para penikmat emas ini pun menikmati harga emas dikala emas itu sendiri menguntungkan bagi mereka, sedangkan Emas yang ku kenal tak sungguh-sungguh ingin menjadi dirinya sendiri, sehingga aku melihat kemungkinan bahwa ia akan membunuh dirinya sendiri di masa depan dan yang membuatku takut adalah darah Emas akan diminum oleh semua orang yang yakin bahwa Emas adalah sebuah kebenaran.

Para Emas akan meminum darah Emas, para Emas ini lalu menjadi mirip satu sama lain karena darah Emas mulai mengalir ke dalam DNA mereka. Pelan namun pasti, mereka lalu satu pemikiran, mereka kemudian tidak lagi bersaing, mereka memandang satu arah yang sama, pada Raksasa yang mereka anggap telah membuat mereka menjadi sosok-sosok yang lebih hidup dan menjadi panutan bagi semua orang.

Aku terdiam di bibir anak tangga, memikirkan kemungkinan yang lebih buruk lagi setelahnya, perang saudara yang tak pernah berakhir. Ketika kelak mencapai puncak, lalu terdiam karena lelah, setelah lelah hilang mereka kembali lagi, bangkit dengan kebanggannya masing-masing dengan satu kealpaan, lupa pada siapa harus mempersembahkan hidup.

Purnama 15, Nasirun|

Dan aku, akankah jadi salah satu dari mereka, ataukah kupilih untuk menjadi penyaksi saja?

Tanpa sadar aku telah mengambil tempat yang lebih gelap untuk melihat lebih jelas perang dingin antar Emas itu. Diam-diam aku berharap mereka bisa menjalani drama yang cerdas dan elegan agar si Raksasa tak mengibaskan tangannya pada mereka.

Aku masuk ke sebuah lorong, di ujung lorong itu ada sebuah pintu. Sebelum aku jangkau pintu itu, aku membalik badan dan menyaksikan para Emas sekali lagi. Betulkah masih ada harapan di antara mereka?
Selama menjadi bagian dari mereka, aku bersyukur bisa mengetahui banyak hal, meski di sisi lain aku frustasi karena setelah mengetahui aku tak bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk membuat Emas berpaling dari emas yang lain. Aku sempat berpikir agar para Emas ini memberi perhatian tidak pada emas-emas, tapi pada tanah, air, api, dan udara, unsur-unsur kehidupan sejati yang dibutuhkan oleh mereka.

Aku melihat pintu di ujung lorong. Sebelum melangkahkan kakiku sampai di depan pintu, aku mengingat kembali alasanku mempelajari para Emas sebelumnya.

Dahulu, ketika aku masih anak-anak, aku suka membaca cerita rakyat. Cerita-cerita di dalamnya kala itu kuanggap sebagai dongeng semata, suatu keajaiban yang sengaja disajikan untuk anak kesepian sepertiku agar bisa memiliki harapan.

Selain cerita rakyat, aku juga membaca cerita-cerita detektif di dalam komik. Aku senang pada cerita-cerita itu, bagiku cerita-cerita itu tak ubahnya cerita superhero ketika ada tokoh baik yang bisa meringkus penjahat. Ketika tokoh baik bertindak sebagai pembela kebenaran, sepertinya seperti itulah seharusnya semua manusia.

Aku membaca lagi buku-buku itu menjelang usia 20 tahun, aku menemukan persepsiku terhadap cerita-cerita itu telah berubah. Aku menyadari bahwasanya dalam cerita rakyat ada kebohongan dan kejujuran yang disampaikan orang dewasa pada anak-anak. Karena kebohongan itu menyedihkan, karena kejujuran itu ternyata menyakitkan, maka mereka membuat cerita, kadang dengan gambar-gambar yang terlihat ramah dan menggemaskan.

Pada cerita detektif, aku lalu menyadari pembela kebenaran itu tak selamanya melakukan kebaikan. Ia hanya orang yang menyadari kepedihan orang lain. Pembela kebenaran itu orang yang selalu bisa mengabaikan fakta-fakta traumatik orang lain, mereka selalu kasihan pada orang lain tapi kehilangan cara untuk mengasihi orang lain. Penjahat ialah seorang monster.

Ku pikir para komikus itu menyadari setiap manusia di dalam dirinya terdapat bibit monster. Hanya jika disemai, bibit itu akan tumbuh, membesar, berbuah, dan bahkan ada yang tak punya rasa takut menjadi gulma.

Bagiku saat ini, Emas, terlihat seperti penjahat yang mengenakan kacamata kebenaran.

Aku membuka pintu di ujung lorong itu. Pintu berwarna putih itu terlihat seperti pintu-pintu biasa lainnya. Tak ada kekutan magic yang bisa membawamu berpindah dari Jakarta ke London atau dari masa kini ke masa lalu. Pintu itu juga tidak bisa membuatmu kembali ke dalam rahim.

Hanya saja, aku melihat seseorang di hadapanku setelah kubuka pintu itu. Seseorang itu mengenakan kaos berwarna putih yang sangat panjang, seperti baju terusan sampai ke lutut. Ia mengenakan celana dan sepatu yang juga berwarna putih.

“Kau siapa?”

Ada semburat cahaya yang menutupi wajahnya, sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas siapa dia sebenarnya.

“Aku sudah menunggumu,”

Suara? Pekikku dalam hati.

Dia mengangguk, seperti bisa membaca pikiranku. Dia juga mempersilahkan aku berjalan di jalan yang ditunjukkannya. Dia membawa sebuah kunci, berwarna emas.

Aku tak bertanya ke mana dia akan membawaku, tapi dia berkata, “Aku akan mengantarmu sampai ke tujuanmu, tapi aku akan sering tak terlihat olehmu,” katanya.

Suaranya terdengar ramah. Meski tak bisa dengan jelas melihat senyum di wajahnya, aku bisa merasakan dia tersenyum dengan lembut di sana.

Aku pun berjalan sesuai dengan arahannya. Dalam perjalanan itu aku bisa melihat beberapa hal, orang-orang yang ku kenal tapi mereka sebetulnya telah meninggal. Lautan berwarna merah yang ku kira itu adalah darah. Ada pula air terjun berwarna cokelat.

“Apa semua ini?” tanyaku.

Seperti yang kukatakan tadi, pintu itu pintu biasa saja, takkan membawamu berpindah dari Jakarta ke London, atau pun kembali ke alam rahim. Pintu itu….

“Lihat saja, nanti kau akan tahu setelah membuka mata,” katanya, misterius.

Aku turuti kemauannya. Satu per satu ku lihat lagi sampai kami sampai di depan sebuah jembatan. Aku menoleh padanya karena ingin bertanya, namun dia sudah menghilang, seperti kata-katanya dia akan mengantarku ke suatu tempat tapi aku takkan sering-sering bisa melihatnya.

System Failure oleh Igor Morski

Aku seperti baru saja melihat hantu, datang tak diundang, pergi tanpa kata.

Aku mengamati jembatan putih itu baik-baik. Ku rasa tak ada jalan lain untuk sampai ke seberang, aku juga tak ingin kembali berada di dalam perang dingin para Emas, maka aku pilih untuk melanjutkan langkah.

Selama berjalan di atas jembatan, aku hanya bisa merasakan angin, sesekali semburat cahaya menerangi langkahku. Meski sendirian, aku tak merasa takut sama sekali. Meski tak mengetahui aku berada di mana sebetulnya, aku tetap merasa nyaman di sana. Meski cahaya tak seterang di duniaku sebelumnya, aku merasa damai. Cahaya di tempat itu, tak ada bedanya dengan cahaya senja atau pun fajar. Inikah dunia kematian? Pikirku.

Aku sampai di ujung jembatan dan aku bisa melihatnya lagi.

“Kau menunggu di sini?”

Suara mengangguk, lalu kembali mengarahkan aku pada sebuah jalan.

“Kita akan menuju perputaran waktu,” katanya.

Aku tak mengerti, tapi aku yakin lebih baik tak bertanya, maka kuikuti saja langkahnya. Sesekali dia ada di depanku, kadang di sampingku, kadang juga di belakangku, tanpa bicara sedikitpun selama berjalan menuju tempat yang dikatakannya.

Aku ingin tahu apakah aku sudah mati? Dan kenapa aku tak bisa mengingat sebab kematianku selain rasa lelahku pada para Emas. Namun perawakannya membuatku menahan diri.

Lagi pula anehnya, aku tak memikirkan apa saja yang sudah kuperbuat untuk Emas selama aku berada di dunianya. Di pikiranku justru muncul berbagai macam kemungkinan yang bisa kuperbuat di tempat baruku. Segala sesuatu yang akan membuat diriku sendiri bangga pada keberadaanku. Yah, aku percaya akan menemukan tugasku yang sebenarnya ketika aku sampai di tempat tujuan.

Sekonyong-konyong setangkai bunga mawar hitam jatuh di hadapanku. Aku celingukan mencari tahu siapa pengirimnya. Aku juga tak melihat Suara di dekatku. Entah kapan dia menghilang, aku tak menyadari hal itu. Selain tak bisa melihat Suara di dekatku, aku juga tak menemukan siapa-siapa sebagai pelaku pelempar bunga mawar hitam itu.

“Bunga mawar hitam?” tanyaku pada angin di sekelilingku.

Aku teringat sebuah cerita tentang bunga mawar hitam, dia adalah simbol untuk dua sisi. Mawar hitam bisa berarti kematian, tapi juga bisa bearti kehidupan dengan awal yang baru. Mawar hitam bisa berarti cinta sejati namun juga bisa berarti kehilangan yang teramat dalam. Mawar hitam bisa berarti simbol kedatangan seseorang yang amat tepat untukmu sebagai pendamping hidup, namu juga bisa berarti kau akan mendapatkan musuh, seseorang yang sangat sulit untuk kamu atasi secara permanen.

Sehingga, arti dari bunga mawar hitam tergantung dari niat si pengirim. Keberadaan bunga ini teramat langka, sehingga kedatangan bunga ini dari seseorang juga dianggap bahwa niat pengirim tersebut telah direstui oleh Tuhan.

Aku menatap bunga itu dalam waktu lama. Bunga itu juga tak kunjung layu. Untuk mengetahui apa niat pengirim, aku mencoba mencari tahu di mana si pengirim berada.

Tak seorang pun terlihat di dekatku. Di sekelilingku yang terlihat hanyalah pepohonan, suara air terjun di belakang sana, dan suara-suara burung bercicit di dahan-dahan. Tak ada siapa-siapa, bahkan Suara juga masih tak kelihatan.
Pelan-pelan kabut mendekat, memudarkan keberadaan mawar hitam itu dan pelan-pelan memunculkan kembali sosok Suara di hadapanku lagi. Keberadaannya menggantikan keberadaan mawar hitam itu.

“Sebetulnya kamu ini siapa?” tanyaku. Aku masih tak bisa melihat wajahnya dengan baik. Ini sangat menyebalkan, karena bagaimana pun aku berusaha membuka mataku lebar-lebar untuk melihat seperti apa karakter orang yang ada di depanku sekarang, tetap tak berhasil. Dan kemudian, secara mendadak lengan kirinya terangkat. Aku tak tahu apa yang dilakukannya, hanya saja aku siap menerima apa saja.

Dia mengarahkan jari-jari tangannya ke kepalaku. Dia mengambil sehelai rambutku, dan memperlihatkannya padaku.

Rambut yang lemah itu pelan-pelan menjadi tegak berdiri. Rambut itu berubah. Sesautu juga menyusul muncul dari lengan kanannya dan sesutu tiba-tiba sudah tergenggam di tangan kanannya. Aku memicingkan pandanganku untuk melihat keduanya dengan jelas.

Itulah, busur dan anak panah dengan ukiran sederhana, dua benda yang kulihat di pegangnya, satu di tangan kanan dan yang satu di tangan kiri.

Aku mencoba melihat raut mukanya setelah kedua benda itu bisa kulihat dengan baik, namun sekarang aku justru semakin tak bisa melihatnya. Secara visual yang terlihat darinya hanya bahu kiri dan pinggulnya.

Semuanya kemudian memudar. Dia dan dua benda itu menghilang tepat di depan mataku.

“Aku berada di alam mimpiku sendiri?” tanyaku.

Tidak, aku masih berada di tempat yang sama. Di depanku sekarang ada sebuah jalan. Satu-satunya jalan. Aku teringat kata-kata Suara, “Kita akan menuju perputaran waktu,”

Mungkin aku belum sampai di tempat itu, maka aku melanjutkan langkahku tanpa ragu karena ku pikir dia sudah ada di sana lebih dulu, menungguku, dan aku memiliki banyak sekali pertanyaan untuk dia jawab.

Aku berjalan di jalan itu dan mulai sejak itu tak ada yang menghalangiku atau mengajakku bicara. Sekelilingku hanya terdiri dari pohon-pohon. Hal itu terjadi selama beberapa saat, karena tiba-tiba ada banyak orang muncul dari balik pohon itu, orang-orang yang belum ku kenal, tapi mengikuti jalanku.

“Apa yang sedang mereka lakukan di sini?” tanyaku lirih. “Mungkin mereka juga memiliki urusan yang sama di atas sana,” pikirku.

Aku tetap berjalan. Sempat berharap bisa melihat seseorang yang ku kenal. Sampai kemudian, aku tiba di depan sebuah pohon besar, dengan akar-akar serabut yang keluar dari dalam tanah. Akar-akar itu juga besar-besar. Susunan akar-akar itu seperti jalan tol.

Aku menatapnya sejenak, aku tidak yakin bahwa aku harus berjalan di atas akar-akar itu sekarang juga. Aku menoleh pada orang-orang di belakangku. Kenapa tak ada satu pun yang mendahuluiku?

Tak ada yang menjawab pertanyaanku, hanya seseorang keluar dari antara barisan itu. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya saja, setelah kuperhatikan lekat-lekat wajahnya nampak mirip dengan yang lainnya, dia juga nampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Yang membedakannya dari yang lainnya adalah dia menggendong seorang bayi. Tak jelas apa jenis kelaminnya, namun setelah dia berdiri dekat denganku aku yakin telah mengenal wanita itu.

Selama beberapa saat kami saling tatap. Pada saat tatapan itu semakin dalam, aku menyadari, dia menungguku memanjat akar pohon itu terlebih dahulu. Aku tak yakin dengan permintaannya. Dalam waktu lama, aku menunggu kedatangan kepastian itu. Selama itu pula tak ada satu pun dari mereka yang memanjat atau berjalan di atas akar pohon itu.

“Bukankah ini persoalan individu? Kenapa kalian menungguku?”

Tak ada jawaban.

Aku naik ke sebuah akar, rasanya seperti menginjak jembatan gantung tanpa pegangan. Aku berjalan dengan mudah tanpa goyah, sesekali berpegangan pada akar-akar kecil yang menyembul di antara akar-akar besar. Langkahku di susul oleh perempuan yang menggendong bayi. Semakin jauh aku berjalan, satu per satu orang-orang di belakang kami juga berjalan di atas akar-akar pohon. Aku tahu, kami menuju tujuan yang sama, sebuah tempat yang dinamakan perputaran waktu.

Sepanjang perjalanan itu aku bisa melihat perubahan wajah dan tubuh mereka masing-masing. Aku seperti harus mengingat mereka satu per satu dengan jelas, sehingga aku tiba-tiba saja memiliki seribu pasang mata yang melakukan tugasnya masing-masing, dan seribu pasang mata itu hanya memiliki satu otak yang tersimpan di dalam kepalaku sebagai penyimpan memori.

“Inilah desa perputaran waktu,” kataku pada perempuan yang menggendong bayi itu ketika sudah sampai di puncak. Entah bagaimana aku langsung mengetahui nama desa itu.

Aku yang berpegangan pada batang pohon besar itu lalu memandang lama pada Wanita yang menggendong bayi yang berdiri di samping kiriku. Dia tersenyum, aku membalas senyumnya. Yang lainnya juga sudah berdiri di belakang kami saat kami sedang salin tersenyum.

Aku lalu melihat orang-orang yang sebelumnya menyusul kami. Banyak dari mereka telah berubah wujud, ada yang nampak seperti raksasa, bocah kerdil, wanita cantik, pria yang tampan, kakek-kakek dan nenek-nenek. Tak sedikit pula yang menjadi binatang.

Ini aneh, kenapa aku tak tak takut melihat perubahan itu, dan tak takut pula melihat mereka? Tanyaku hingga akhirnya aku mempersilahkan mereka memasuki desa, satu per satu sampai habis.

Aku menjadi orang terakhir yang memasuki desa setelah menjadi orang pertama yang sampai di bibir desa itu.
Suara kembali muncul. Aku masih tetap tak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat bahu, lengan kirinya dan pinggulnya yang dihiasi sebuah kain hitam dengan suatu hiasan tertentu di tengah-tengahnya, terletak di bawah pusar.

Aku memiliki banyak pertanyaan yang harus dia jawab, namun saat itu aku menyadari tempat dan waktunya belum tepat untuk menanyakan semua pertanyaanku.

“Kita akan bertemu lagi, bukankah begitu?” tanyaku, untuk memastikan di masa depan aku punya kesempatan menanyakan pertanyaan yang tersimpan di dalam ingatanku. Kata-kata itu juga menjadi tanda bahwa aku berpamitan. Meski dia tak menjawab pertanyaanku, aku sadar kehangatan tanpa kata-kata darinya adalah jawaban itu.

Aku sampai di desa. Di sana, hanya ada sebuah rumah sederhana terbuat dari kayu dan bamboo yang tersisa untukku. Seseorang telah menungguku di depan pintu rumah itu. Aku mendekat, ku kira dia akan membukakan pintu itu untukku, tapi tidak, dia menungguku untuk membuka pintu itu dengan tanganku sendiri.

Sebuah pintu terbuat dari kayu menjadi jalan masuk bagiku ke dalam rumah yang diterangi dengan cahaya yang tak jauh beda dengan cahaya senja. Langkahku langsung menuju sebuah kamar. Di sana, di dalam kamar telah menunggu sebuah busur panah lengkap dengan anak panahnya. Juga ada dupa yang menyala, dengan bunga mawar merah dan putih di sekelilingnya.

The Day After, 1894-95 by Edvard Munch

Si pengantarku menghilang setelah mengantarku sampai ke ruangan itu.

“Seseorang telah menungguku, ia ingin aku memahami busur dan anak panah, serta ubo rampe yang ada di sekelilingnya. Selama aku belum menemukan jawabannya, mungkin dia tidak akan pernah menemuiku,” pikirku.

Aku duduk bersimpuh di depan benda-benda itu. Aku belum tahu harus memanggil mereka dengan nama apa. Tapi, sepertinya aku akan segera tahu.

Setelah beberapa saat berada di dalam ruangan itu, aku keluar. Kini keadaan desa telah berubah. Orang-orang yang tadi mengenalku dan ku kenali, kini tak mengenalku dan aku juga mulai lupa nama mereka masing-masing.
Aku tak tahu harus memanggil mereka dengan cara apa dan bagaimana aku bisa menyapa mereka jika mereka tak mengenaliku?

Haruskah aku menunggu sampai mereka mengenaliku? Berapa lama aku harus menunggu?

Setelah keluar dari lingkaran setan Raksasa dan Emas, aku berada di dunia anomali. Meskipun demikian, aku merasa lebih baik, aku bisa mengamati mereka dari kejauhan atau dari dekat sakalipun. Di dalam mode kelupaan mereka, aku masih bisa berharap pada kemampuan mereka masing-masing.

Misalnya yang terlahir dengan jiwa pembunuh akan menyayangi anak-anak melebihi orang-orang yang terlahir sebagai dokter. Yang terlahir sebagai binatang akan membuat semua manusia di dunia ini introspeksi mengenai sifat kebinatangan mereka masing-masing, para binatang itu dalam suatu kondisi justru akan terlihat manusiawi.

Mereka yang terlahir sebagai pemberi jasa akan membuat mereka yang membutuhkan bersikap skeptis, dan dengan sikap itu mereka akan menjalin hubungan dengan orang-orang yang terlahir sebagai rohaniawan, dan para rohaniawan akan berhadapan dengan para ateis, kemudian para ateis akan berhubungan mesra dengan para pebisnis. Sedangkan para pebisnis, akan berhubungan mesra dengan para politikus, lalu para politikus akan berhubungan mesra dengan para mistikus. Sementara para mistikus akan berhubungan mesra dengan para spiritualis, dan para spiritualis menjalin kedamaian dengan kekosongan.

Di saat mereka semua sibuk menjalin hubungan, aku yang terlahir sebagai pendongeng menjalankan tugas untuk mencatat setiap perbuatan mereka yang kelak akan dibaca oleh mereka dan keturunan mereka.

To Top