Suar

Edward Hopper, Pelukis Keterasingan dan Melankolia Kaum Urban

Hotel by the Railroad by Edward Hopper

 

Pada tanggal 22 Juli, adalah hari ulang tahun Edward Hopper (1882-1967), pelukis modern Amerika. Ia seorang pelukis realis yang unggul dalam melukiskan suasana urban, dan karya-karyanya mencerminkan visi personal atas kehidupan orang Amerika di era modern.

Meskipun saya bukan pengamat seni rupa, tidak ada salahnya kalau saya menulis sedikit tentang pelukis kondang ini. Saya pertama kali mendengar nama Hopper ketika suatu hari saya menonton rekaman ceramah Alain de Botton. Filsuf  ini memperkenalkan karya-karya Hopper sambil secara antusias menerangkan bahwa makin signifikan dan rawan sebuah karya seni, makin kuat pun ia memancarkan kekuatan di hati kita karena kita tahu bahwa karya ini menyentuh apa yang terluput dari perhatian kita. Ia memang berusaha membuka mata kita pada nilai kehidupan sehari-hari yang terabaikan. Tidak berarti segalanya selalu punya nilai, tapi memang banyak sekali karya seni yang melukiskan objek sehari-hari yang telah kita lihat ribuan kali namun tanpa pernah kita cermati secara semestinya.  Ia mencontohkan bahwa Automat (1927), Morning Sun (1952), dan Nighthawk (1942) sebagai jenis karya yang seperti itu.

Automat by Edward Hopper

Menyimak ceramah ini dan melihat lukisan-lukisan tadi, saya terkesan dan jadi penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang pelukis Hopper. Hanya dengan sekali pandang sudah terasa betapa dalam maknanya, dan secara pribadi saya suka. Kesukaan ini mengingatkan saya pada sensasi ketika saya pertama kali melihat lukisan-lukisan Vermeer belasan tahun lalu.  Kita disuguhi suasana tenang sebuah interior, dengan satu atau dua orang atau lebih figur yang ada di dalamnya. Namun bedanya, tak seperti pada Vermeer, ketenangan di sana justru secara kuat menyerbakkan perasaan kesepian, keterasingan, keputusasaan, dan penyesalan yang mencekam. Kita dibuat betah berlama-lama memandangi figur-figur itu sambil menebak-nebak peristiwa atau pengalaman apakah yang sedang atau baru saja melanda mereka dan bagaimana mereka memandang diri dan menghayati lingkungan sekitarnya.

Hopper yang dilahirkan di New York 135 tahun yang lalu itu sudah menunjukkan bakatnya waktu ia masih berusia lima tahun. Orang tuanya memberikan dorongan dan mensuplai alat-alat lukis, majalah majalah seni, dan buku bergambar. Beranjak remaja, mereka membujuknya agar melukis untuk kepentingan komersial saja, seperti reklame atau advertising, agar ia mendapat banyak penghasilan. Namun kemudian ketika dewasa obsesi untuk menjadi seniman yang independen dan orisinil tumbuh kian menguat.

Salah satu guru Hopper ketika belajar di New York School of Art and Design adalah pelukis Robert Henri, yang menasehatinya bahwa ‘bukan subjek lukisanlah yang penting, melainkan apa yang kau rasakan tentangnya.’ Perenungan tentang subjek lukisan ini tentulah terus ia simpan dan kembangkan dalam sekian banyak lukisan yang terlahir di masa kematangannya. Seperti nasehat orang tua, memang Hopper mencobakan tangannya di bidang desain periklanan. Tapi selanjutnya ia benci lukisan ilustrasi. Dalam kebosanannya, pemuda likuran tahun ini berpesiar ke Eropa –dalam hal ini Paris- untuk menangkap ruh gejolak seni yang sedang berkembang. Namun sebenarnya arus seni itu bisa dibilang tak membawa pengaruh baginya. Ia bahkan mengklain tak mengenal nama Picasso.

Saya senang ketika membaca bahwa Hopper mengagumi lukisan Rembrandt, Night Watch, yang ia nilai sebagai ‘hal paling mengagumkan yang pernah kulihat.’ Salah satu tokoh novel Proust, Mme.Verdurin, juga menganggap bahwa Night Watch adalah masterpiece terbesar alam semesta. Pelukis ini tambah memikat ketika saya dapati bahwa dia seorang pembaca sastra yang hebat. Penulis favoritnya adalah Emerson, dan ia membacanya berulang kali. Melihat bahwa Hopper adalah pribadi yang introvert, pendiam, introspektif, konservatif, dan suka mengasingkan diri, saya mendapati korelasi antara mereka berdua. Ada sugesti kuat pula bahwa ia juga pengagum Hemingway, dan itu berpengaruh pada salah satu lukisannya, Nighthawk (1942).

Nighthawk by Edward Hopper

Setelah tiga kali berpesiar ke Eropa, ia menyewa sebuah studio di New York City dan berjibaku berusaha merumuskan style lukisannya. Hal itu dirasakannya sungguh berat, sehingga dengan terpaksa ia kembali jadi tukang ilustrasi. Bagi Anda para penulis yang kerap merasa buntu harus menulis tentang apa, seharusnya Anda bisa tetap tenang, karena pelukis sehebat Hopper pun dalam masa likuran tahun ini pernah bilang ‘sukar bagiku untuk memutuskan apa yang ingin kulukis. Kadang sampai berbulan-bulan lamanya aku tak sanggup memutuskan. Ide itu datang teramat lambatnya.’ Maka ia ngelayap ke Massachusetts untuk mencari inspirasi dan membikin lukisan-lukisan pertama yang ia kerjakan di luar studio.

Selain melukis dengan car air, Hopper juga membuat etsa; dan pada masa awal 1920-an lukisan etsanya mulai dikenal publik. Ini menyusul penghargaan yang mulai didapatkannya sejak tahun 1918 dalam lomba lukis poster dan etsa. Enam di antara sekian banyak lukisan cat air yang ia buat di Massachusetts dipamerkan tahun 1923, dan salah seorang kritikus terkagum-kagum: ‘Betapa kuat daya hidup, intensitas, dan kejujuran terlukis di sana! Lihatlah apa yang bisa ia lakukan dengan subjek-subjek yang paling bersahaja sekalipun.’ Tahun berikutnya, semua lukisan cat air Hopper terjual dalam sebuah pameran tunggal, dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menjadi tukang ilustrasi.

Ciri Khas Karya

Tak ada seorang pelukis pun yang mampu membawakan suasana keterasiangan kaum urban modern sehebat Edward Hopper. Figur figur lukisannya dalam setting urban bukan sekadar bagian dari pemandangan kota modern, namun juga mengekspresikan sisi lemah pengalaman manusia. Tidak jarang kita dapati figur-figur Hopper berada dalam kondisi vulnerable, rawan dan sangat terbuka bagi perubahan internal. Mereka tenggelam dalam masalah mereka sendiri, resah, cemas, ragu-ragu, namun juga kadang nampak pasrah. Dan karena lukisan-lukisan itu dibuat pada masa antara dua perang besar, maka kita bisa pula meraba segala subteks yang memancar dari gerak-gerik, posisi tangan, atau sorot mata yang mencerminkan ketakutan sebagai dampak dari terdengarnya genderang perang. Ada suspense yang mengambang di udara, imaji tentang sesuatu yang bisa kapan saja meledak secara tiba-tiba.

Hotel by the Railroad by Edward Hopper

Hopper tidak suka melukiskan detil secara berlebihan. Bahkan ia cenderung menaruh pikirannya pada apa-apa yang tidak ditampilkan dalam kanvas. Ia gemar memotret suasana hotel, apotek, pom bensin, dan gedung bioskop atau teater. Menjauhi detil, lukisan Hopper nampak sederhana, namun memancarkan kompleksitas dan kedalaman. Kurangnya detil mengajak kita melengkapinya dengan tafsir tentang apa yang mungkin telah lenyap dari ruangan itu, juga menerka-nerka relasi antar figur atau individu dalam kanvas.

Lukisan lukisan Hopper minim tindakan, tak mengandung mobilitas, dan permainan cahaya yang ada di dalamnya menimbulkan suasana klaustrophobia. Suasana dalam ruangan dengan demikian mencerminkan suasana dalam jiwa, kelengangan internal yang berkepanjangan, penantian tak berkepastian, bahkan pula hilangnya segala harapan. Dengan demikian, ia memberi bobot besar pada masalah eksistensial para individu tersebut. Ekpresi figur-figur dalam berbagai lukisannya adalah ekspresi yang tertahan, tegang, sedang dalam proses namun tidak nampak beranjak dari kondisinya, sehingga pemirsa harus menebak-nebak sendiri narasi lanjutannya. Mereka membekaskan jejak-jejak misteri. Sejumlah pengamat menganggap gaya seperti ini memberi jalan pada munculnya ekspresionisme abstrak.

Namun secara umum, jika kita melihat betapa terasing dan terputusnya figur-figur dalam lukisan itu dari lingkungan sekitarnya, bukan hanya melankolia akibat peranglah yang muncul dalam imajinasi kita, melainkan pula kesunyian jiwa manusia modern di tengah derasnya gerak perubahan yang mempengaruhi segala sendi kehidupan. Ini mengingat pula betapa karir Hopper terulur panjang hingga jauh sesudah perang, yaitu hingga pertengahan tahun 60-an. Memandangi lukisan itu berlama-lama, pemirsa akan melarutkan diri dengan figur-figur itu dan mendapatkan revelasi sehingga bisa mengalami pengalaman ‘berbagi kesedihan’ dengan mereka. Pengalaman emosional menjadi sebuah jalan komunikasi.

Retrospeksi

Pertengahan mei lalu, tepat 50 tahun meninggalnya Edward Hopper, surat kabar daring Inggris, The Independent, menurunkan laporan bertajuk ‘Edward Hopper: Seniman Yang Mengangkat Kesunyian Jiwa Dan Kekecewaan Kaum Urban Dengan Kejernihan Yang Indah’. Dalam sub judul, media itu menyebutkan pelukis realis Hopper adalah tandingan (counterpoint) bagi optimisme Amerika. Lima puluh tahun sepeninggalnya, warisan Hopper terus bertahan hidup.

Morning Sun by Edward Hopper

Ada apa gerangan dengan brand melankolia Hopper sehingga ia banyak menyerap penggemar? –tulis harian itu di pembuka tulisan. Mereka menyatakan keheranan, karena Tate Modern, galeri seni di London berhasil menjual 420.000 lembar tiket ketika retrospeksi Hopper digelar awal Mei hingga awal September 2004. Sampai kini, hanya Matisse dan Picasso saja yang sanggup mencapai angka ini.

The independent mensejajarkan lukisan-lukisan Hopper dengan film noir tahun 30-an hingga 40-an dan karya fiksi Raymond Chandler. Seperti kreator film noir dan pengarang detektif itu, Hopper mengolah efek negatif urbanisasi dan meningkatnya kesenjangan ekonomi. Dalam visi urban Hopper, lanjut the Independent, ada paradoks dari mitos fondasi demokrasi.  Kita semua diciptakan  setara, dan apa yang membuat kita setara adalah keunikan dan individualisme kita yang absolut dan tak tergoyahkan (inviolable). Meski melankolia dan penantian menghantui lukisan-lukisan Hopper, popularitas dan pengaruhnya terus bertahan hingga kini.

Dalam budaya pop, ia telah mempengaruhi sutradara film detektif Alfred Hitchcock yang beroleh inspirasi untuk film Psycho (1960) setelah menyaksikan lukisan House by the Railroad (1925) – jangan dirancukan dengan Hotel by a Railroad. Jejak pengaruh Night Windows (1928) bisa ditemukan dalam film Hitchcock yang lain, Rear window (1954).

Edward Hopper

Pelukis sesudahnya, Mark Rothko (1903-1970), pun menunjukkan keterpengaruhan pada gaya lukis Hopper. Bahkan ketika dimintai keterangan tentang apa yang ingin ia ungkapkan dalam seninya, nada bicara Rothko terkesan Hopperesque: ‘Lihat, kau punya kesedihan dan aku punya kesedihan. Maka dengan kesedihan bersama ini maka beban kita jadi sedikit terkurangi.’

 

To Top