Puisi

Dear Georg Trakl

Edvard Munch, Two Human Beings. The Lonely Ones, 1905 | Foto: Vanity Fair
Dear Georg Trakl

1/
graffity yang kau tinggal di tubuh sajak
mulai menyergapku, Trakl
menjelma pelukan dan lagu pujian
pada detak isya, ketika gelap tetiba
dan aku berantakan
seiring anggun bayangmu diingatan
menjelma bintang hijau
sewarna cinta tak terjangkau
bukan saja sebab kita berpapas di abad berbeda
tapi ketampanan tuturmu adalah mantra
membuatku tak berani membilang rasa
untuk mencantumkan suka
pada elegi jingga
di jiwamu
2/
Sekali lagi saja, Trakl
ijinkan aku istirah di abjad dadamu
sebagai kekasih rahasia
yang disetubuhi merah dupa
biar dalam pilu sejarah, aku bisa mengecup biru kemurungan
menandai jantung
: kasmaran

Solo, 2017

 

Sore Itu di Balapan

: Bapak

Terakhir kali bertemu, mendung langit berdandan kelabu. Angin merintih, debu-debu berfatehah lirih
Pada rel yang hilang di kelokan, kita hanya bersitatap. Seribu bahasa tak bicara
Tapi riuh dalam dada, isyaratkan nyeri tibatiba
Dan aku tak paham, setelahnya jarak seolah keji
Membiarkan rindu sekarat liar
Membiarkan rindu tanpa pernah khatam
Sore itu di Balapan, nyata kusulam ketololan
Demi tiket solo-yogya, kuabaikan sebentuk cinta
Kusia-siakan perhatianmu untuk kali pungkasan
Sore itu menjadi awal pilu
nisan bertulis namamu

Solo, 2017

 

Pertemuan dalam Kopi

Kubayangkan, aku datang padamu
membawa rindu lugu, pemberian almarhumah ibu
berharap kau menyambut
dengan tatapan lembut
disertai secangkir kopi untuk ku sruput.

Ku bayangkan, kita habiskan malam
hingga tandas tanpa sisa
dalam pekat itu, aku dan kamu saling berpagut
seperti gula dan arabica yang larut
menimbulkan manis, doa gerimis

Tapi bulshit ! aku terlalu penakut untuk menujumu
pertemuan dalam kopi hanya menjelma imaji
sedang jarak kita tak lebih sejengkal
namun aku memilih berdiam
zikir pelan
demi mengurungmu di kenangan

Solo, 2016/2017

To Top