Kawat

Cinta dan Ideologi yang Bekerja Setelahnya

Adegan dalam film Anna Karenina, novel karya Leo Tolstoy

“Tidak ada karena di dalam cinta. Karena cinta adalah cinta,” kata Vronsky kepada Anna Karenina di dalam novel fenomenal Leo Tolstoy yang berjudul “Anna Karenina”,

Seringkali hal ini tidak disadari oleh kebanyakan orang. Dalam pacaran, dalam menjalin hubungan percintaan, tak jarang muncul pertanyaan-pertanyaan yang demikian: “kamu cinta aku karena apa?” “kenapa kamu mencintaiku?” “apa alasan yang membuatmu mencintaiku?” dan sebagainya, dan seterusnya.

Padahal cinta, sebagaimana faktanya, adalah ledakan perasaan yang hadir begitu saja dalam diri seseorang kepada seseorang lainnya tanpa alasan-alasan tertentu. Saat timbul rasa suka dan kemudian jatuh cinta, manusia secara alamiah merasakan sengatan magnetik yang membuatnya kehilangan daya nalar kognitif atau kekuatan berpikir rasional.

Kalau belakangan ditanya alasannya, baru kemudian si subjek yang ditanya mulai mencari-cari alasan untuk menjawabnya. Padahal pada dasarnya cinta tak punya alasan. Cinta tidak membutuhkan landasan pertanggungjawaban secara argumentatif. Sebagaimana bahasa klise yang dipopulerkan oleh Agnez Mo atau lebih jauh lagi dilagukan oleh Vina Panduwinata bahwa cinta atau asmara tak pernah kenal logika.

Tapi sebenarnya bukan hanya dalam hal cinta interpersonal saja, dalam berbelanja pakaian, makanan, dan lain-lain manusia juga cenderung tidak pakai logika, khususnya perempuan. Logika baru dipakai setelah barang akan diputuskan mau dibeli atau tidak. Singkatnya, logika baru berfungsi di akhir pengambilan keputusan jadi atau tidak barang itu dibeli.

Beda Cinta sebagai Cinta, Beda Cinta sebagai Kesetiaan
Kalau tadi kita menyinggung cinta sebagai murni cinta. Lantas bagaimana dengan cinta dalam bentuk kesetiaan? Sebab kalau dibilang cinta bisa timbul kapan saja berarti cinta pun bisa hilang kapan saja dan berpindah ke siapa saja, bukan?

Ya, cinta sebagai letupan “kegilaan” perasaan memang bukanlah cinta yang bisa menjamin seseorang akan terus-terusan merasakan perasaan tersebut sampai tua dan mati. Cinta yang demikian itu pada saatnya bisa kedaluwarsa. Ada waktunya perasaan itu meredup dan mungkin hilang. Namun pada subjek yang menjalani hubungan, kehilangan perasaan seperti itu tidak terlalu disadari dan hampir mulai sudah tak penting lagi. Hal ini biasanya kalau antar subjek sudah merasa saling memiliki, menyayangi, mulai menyisipkan ideologi di dalam hubungan yang mereka jalani.

Obsesi kepemilikan ini, sadar atau tidak disadari, perlahan-lahan menggeser perasaan asmara tadi. Biasanya pada tahap ini, subjek penjalin hubungan sudah mulai berkomitmen dan membangun sebuah ideologi kecil yang di dalamnya berisi (minimal) rencana, tujuan, dan strategi apa saja yang akan mereka jadikan sebagai pedoman dalam menjalani hubungan. Maka dengan demikian, dari imaji para subjek mulai muncul kreasi, visi-misi, family, dll.

Itulah yang menjadi ramuan pelanggeng hubungan percintaan. Selama elemen-elemen ideologi itu hidup maka selama itu pula para subjek penjalin hubungan jauh dari kebosanan. Apalagi kalau sampai family sudah terbangun. Punya anak, punya kesibukan baru, punya mainan baru, fokus para subjek sudah tak lagi soal cinta-cinta sebagaimana saat masa-masa pacaran. Kesetiaan bukan sebagai manifestasi dari cinta melainkan konsukwensi dari komitmen.

Maka kalau di zaman-zaman sekarang ini banyak terjadi perceraian, itu bukan karena sudah tak cocok, (halah, itu alasan klise dan asal-asalan), melainkan sudah tak peduli lagi pada komitmen, tak peduli pada tujuan, dan tak peduli lagi perasaan antar pasangan, mungkin karena antar mereka merasa pasangannya sudah membosankan, tak ada kreasi sebagai pengawet rasa penasaran, dll.

Yang pasti, saat orang memutuskan bercerai, jangankan cinta, ideologi pun sudah tak ada lagi. Minimal, itulah yang bisa kita lihat dari rumah tangga yang dijalani oleh Alexei Karenin dan Anna Karenina. Alexei terlalu gila dengan kehormatan dan jabatan yang ia punya, sementara bagi Anna, Alexei tak lebih dari mayat hidup tak berhati. Meski status sosial, moral masyarakat, dan kehormatan selalu menjadi pertimbangan psikologis Anna untuk mempertahankan rumah tangganya, namun apa boleh buat, perasaannya kepada Alexei sudah terlanjur kering, sementara Vronski terlalu jernih untuk menjadi oase bagi Anna yang hampir mati kehausan.

Persoalan percintaan dan rumah tangga yang demikian tidak hanya ada di novel Anna Karenina, tapi juga bisa kita temui di novel “Madame Bovary” yang ditulis oleh Gustave Flaubert, atau di film “Double Idemnity” yang disutradarai oleh Billy Wilder, atau pada film-film Alfred Hitchcock di zamannya.

Memang, cinta dan segala persoalannya tak bisa kita pandang hanya dari satu sudut pandang saja. Tapi cinta selalu memiliki tempat di setiap mata yang memandang.[]

To Top