Suar

Cak Lontong dan Teori Kuantum Tentang Humor

Cak Lontong berdiri di tengah panggung. Sorot cahaya jatuh menimpa keningnya. Putih dan mengkilat. Sejenak ia diam, memasang wajah serius dan sorot mata tajam kepada khalayak yang memenuhi studio televisi swasta, lalu berkata, “Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras”. Gemuruh tawa menyambut ucapan yang dilontarkan Cak Lontong. Sejenak kita melihat, betapa kata-kata Cak Lontong mampu membawa penonton di studio dan di rumah terkocok perutnya.

Bagi psikolog yang mempelajari humor, kalimat Cak Lontong di atas terbilang klasik. Dalam khazanah humor berbahasa Inggris, kalimat di atas serupa dengan “Time flies like an arrow; fruit flies like a banana.” Untuk kalimat Cak Lontong, kata “mengarungi” dan “karung” berbeda maknanya, yang ketika masuk ke dalam kognisi pendengar akan menimbulkan konflik. Cara kognisi manusia untuk memahami konflik inilah yang menjadi inti dari humor

Humor menunjukkan kecepatan dan fleksibilitas kognisi manusia di titik paling mengagumkan. Dan jelas, kemampuan ini akan sangat berguna jika diimplementasikan ke dalam sebuah mesin atau kecerdasan buatan. Jadi adalah hal yang wajar jika kajian tentang humor ini telah dimulai sejak lama oleh para ilmuwan komputer dan psikolog, yang sayangnya perkembangannya demikian lamban. Tentu saja hal ini dikarenakan kesulitan untuk menciptakan model konflik dari kognisi yang mampu menghasilkan tawa.

Kini, kajian humor telah mengalami kemajuan signifikan, lansir Tech Review dari MIT. Hal ini berkat penelitian dari Liane Gabor dari University of British Columbia di Kanada dan Kirsty Kitto dari Universitas Teknologi Queensland, Australia. Kedua peneliti ini berhasil menciptakan model humor berdasarkan model matematis teori kuantum. Dan mereka pun telah menerapkannya ke dalam humor verbal dan kartun.

Tentu saja, keberhasilan itu datang bukan tanpa kesulitan. Masalah mendasar saat menciptakan model humor adalah menemukan momen dan konteks yang tepat dalam penyampaiannya agar bisa dipahami. Cukup  rumit memang, karena membutuhkan kemampuan untuk menangkap dua atau lebih makna yang muncul pada waktu bersamaan ketika kita tengah mengalami konflik dalam kognisi kita. Dan humor yang sama bisa terlihat lucu atau sebaliknya amat tergantung pada bagaimana humor tersebut disampaikan, di samping kondisi pendengar, dan lain sebagainya.

Dalam komedi di atas, pertama-tama otak akan mencerna makna dari pernyataan “jangan mengarungi lautan”, di mana “mengarungi” merupakan kata kerja. Selanjutnya pernyataan punch line “karena karung lebih cocok untuk beras”, di mana karung merupakan kata benda. Tentu jika kedua pernyataan tersebut dipisahkan tidak akan menimbulkan kesan apapun. Dan di situlah humor bekerja. Humor muncul ketika frasa pertama berbenturan dengan frasa kedua. Dan perbenturan makna ini membutuhkan kerja otak untuk memahami dua makna dalam waktu yang bersamaan.

Gabora dan Kitto berpendapat, proses kerja otak untuk memahami dua hal secara bersamaan bisa dianalogikan dengan proses superposisi kuantum, yaitu sebuah fenomena unik di mana satu benda bisa eksis di dua tempat secara bersamaan. Posisi obyek baru bisa dibatasi hanya ketika sudah terukur dan superposisi runtuh.

Kemiripannya adalah, proses kerja otak yang mencerna dua makna dalam waktu bersamaan dan proses produksi humor ketika kedua makna sudah dimaknai secara keseluruhan. Gagasan Gabora dan Kitto adalah model matematika superposisi kuantum juga bisa digunakan sebagai model dari cara berpikir ganda ini.

Sebelum melangkah menggunakan teori kuantum, Gabora dan Kitto terlebih dahulu menggunakan teori probabilitas klasik yang menjelaskan bahwa rata-rata humor lucu haruslah merupakan penjumlahan dari setiap interpretasi pendengar atas kelucuannya. Pembiasan dari hasil kontestatasi atas masing-masing interpretasi inilah yang diharapkan dapat membawa Gabora dan Kitto menuju penggunaan teori kuantum tentang humor.

Dalam proses pengumpulan datanya, mereka melibatkan 85 partisipan untuk mengisi kuesioner. Dalam kuesioner tersebut, para partisipan diwajibkan memberikan penilaian terhadap tingkat kelucuan humor dengan skala 1-5. Hasilnya, jumlah keseluruhan nilai tidak sebanding dengan jumlah kelucuan dari seluruh interpretan.

Lalu apa yang salah? Kemungkinannya adalah model klasik itu gagal mengukur humor atau ada yang salah dalam proses eksperimennya. Dan mereka pun berpendapat bahwa pernyatan pertamalah yang benar untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya. Lalu Gabroa dan Kitto berujar, “Kami  memiliki bukti awal yang mengarahkan humor haruslah dibaca dengan menggunakan pendekatan model teori kuantum, tapi ternyata bukti itu tidak bisa berbicara apa-apa di hadapan eksperimen yang sebenarnya.”

Untuk peneliti yang mengalami kegagalan dalam proses eksperimen, barangkali harus memiliki hati yang besar dalam menghadapinya. Dan kenyataannya bahwa proses pengumpulan data Gabora dan Kitto yang tidak sejalan dengan prediksi dari teori klasik menjadi salah satu bukti bahwa teori kuantum pun belum tentu bisa digunakan untuk memahami humor.

Untuk sementara ini, setidaknya kita bisa tersenyum membayangkan bahwa ada ilmuwan yang mencoba untuk meneliti humor dengan ukuran-ukuran yang pasti. Dan di waktu bersamaan Anda meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca artikel panjang berisi istilah-istilah ilmiah hanya untuk menemukan betapa di akhir kalimat ternyata penelitian tersebut ternyata. Itu merupakan lelucon, bukan? Sama halnya kelakuan Cak Lontong menyamakan arti “mengarungi” dengan “karung”.

To Top