Kawat

Bersama Puisi dan Musik, Kopi Menghangatkan Literasi

Foto: Wallpapersoc.com

Beberapa bulan lalu saya menghadiri simposium literasi Yogyakarta yang bertajuk MocoSik (12-14 Februari 2017). Sebuah kolaborasi kesenian antara musik dan buku yang diselenggarakan promotor musik Rajawali Indonesia Com dan promotor buku Kampung Buku Jogja. Dalam draf acaranya, pengunjung disuguhkan artis, pemusik, penulis, bahkan presenter: Sebut saja penyanyi Raisa, Glenn, Tompi, presenter Najwa Shihab, penulis FX Rudy Gunawan, Ahmad Nirwan Arsuka dan deretan penulis lainnya.

Para musisi itu sempat berkaca-kaca ketika ada sesi bercerita tentang kedekatannya dengan buku. Salah satunya datang dari Raisa: “Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, aku tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi”. Atau tamparan keras Najwa Shihab: “Membaca tak sebatas mengeja huruf. Membaca itu kerja menaut dan mengaitkan ide. Maka sebagai awal, bacalah buku sebanyak-banyaknya.”

Kisah sukses MocoSik, dengan buku sebagai tiket masuknya itu barangkali yang menginspirasi Ons Untoro, seorang penggagas acara “Puisi, Musik, dan Kopi” di Tembi Rumah Budaya Timbulharjo, Sewon, Bantul, Selasa (07/03) malam kemarin. Malam itu, puisi-puisi dilagukan, musik-musik dipuisikan, dan di tengah keheningan dan tamasya batin itu barulah kopi diseruput. Mintaraga Pakasi (pemilik PT Dua Gendhis yang bergerak di bidang perkopian), melayani tamu yang hadir dengan seduhan kopi kualitas estetis dan semantis.

Berbeda dengan kegiatan seni lain, misalnya Sastra Bulan Purnama juga di Tembi Rumah Budaya, lebih banyak diadakan di teater arena atau panggung. “Puisi, Musik, dan Kopi” di gelar di dalam ruangan dengan format round table. Rencana “Puisi, Musik, dan Kopi” kedepannya akan digelar tiga kali dalam satu tahun dengan menu yang selalu berganti-ganti. Puisi tak harus baru, bisa karya penyair tua maupun muda, tentu yang enak dilagukan (KR, 09/03).

 

Puisi, musik, dan kopi adalah benda mati. Puisi hanyalah kumpulan kata-kata pada tubuh kertas, yang berlembar-lembar kemudian dibendel. Musik, gitar misalkan, hanyalah enam buah kawat yang angkuh kemudian dipetik. Ataupun kopi, yang hanya ulekan gula, air, krimer nabati, dan kopi bubuk. Namun jika trilogi itu disentuh, puisi dibacakan, musik dibunyikan, dan kopi diseruput, seketika itu menggemalah orkestrasi kehidupan yang estetis dari ketiganya.

Pada konteks ini, kita dibawa untuk memadupadankan satu komponen dengan komponen lainnya yang sebelumnya belum tersentuh. “Puisi, Musik, dan Kopi” Tiga entitas berbeda, rekam jejak yang kurang begitu purna disatukan sebelumnya. Tapi pada fragmen lain membikin satu ornamen kokoh yang kalau dikembangkan akan menemukan kebaharuan dalam dunia kesenian dan dunia literasi. Antara musik dan puisi misalkan, kita tidak bisa berpaling dari kenyataan jikalau lirik lagu yang estetis dan memiliki makna mendalam adalah puisi. Atau puisi naratif yang panjang dengan anak-anak lariknya adalah lirik lagu. Keduanya mendialogkan modus budaya kreatif dalam satu rekayasa. “Membaca lagu dan menyanyikan buku” sebuah slogan cantik dalam simposium literasi MocoSik.

Tahun lalu, seorang Bob Dylan yang mempunyai latar musikus, sekonyong-konyong bisa menggondol hadiah prestisius Nobel Kesusastraan. Menyingkirkan Haruki Murakami yang adalah pesaing terberatnya, dibuktikan beberapa kali masuk nominator. Mungkin tidak hanya Murakami yang cemburu, penyanyi Katy Perry, Ariana Grande, dan Lady Gaga pun akan ngiler untuk kedepannya mengubah mazhab lirik lagunya lebih puitis dan romantis. Karena leluhur sastra sesungguhnya adalah musik. Tekslah yang membuatnya berbeda. Tanpa teks, yang ada ialah musik, sanggah Nirwan Ahmad Arsuka, suatu ketika.

Pertalian puisi dengan kopi juga tidak bisa diremehkan. Seorang penulis atau seorang alim begadang misalkan, ia tidak bisa mengeluarkan ide dan gagasan untuk menulis kalau tidak ditemani dengan secangkir kopi dan sealambum lagu. Maka tak ayal, kadangkala ia mengunjungi ruang-ruang inspirasi laiknya kedai kopi dan kafe hanya untuk menemukan ide yang kemudian dihadirkan secara imajiner, diolah, kemudian lahirlah satu karya monumental.

Sekaliber Abdurrahman Wahid, presiden dan intelektual muslim Indonesia itu adalah pecandu kopi. Dengan kopi atau berdiam di kedai kopi, adalah alasan beliau untuk mengasah kreativitas, dengan cara berdiskusi, menulis dan tentu ditemani sahabat setianya “kopi”. Masih tentang sosok Gus Dur, beliau sering mengunjungi kedai kopi saat menimba ilmu di Negeri Piramida (Mesir), tulis Greg Barton dalam buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid  (2003).

Ihwal tentang kopi, yang disebut penyair Inggris Sir George Sandys “sehitam jelaga dengan rasa tak biasa” itu telah memiliki pertalian simetris dengan sebuah gerak kesusastraan bahkan politik. Masih lekang dalam ingatan ketika pecahnya revolusi Perancis 1789 yang lahir dari kedai kopi, ide tentang pelepasan kejumudan ke arah tatanan kenegeraan yang modern tercipta dari sana.

Pada catatan penyair, Kopi juga dijadikan objek penciptaan puisi. Tomy Saleh salah satunya dengan puisi Catatan Kopi: “Mengunyah sore, menyesapi kerinduan/wangi kopi ini terasa senyap sayangku/aromanya menjelma dirimu/menari-nari di dalam cangkirku./Tepian cangkir kopiku sekadar tambatan perahu keluh/mampir sejenak membuah muatan galau/jika habis ini kopi, sayang/aku melaut lagi/ya, ke sana, ke samudera ganas.

Akhirnya, Trilogi “Puisi, Musik, dan Kopi” adalah protes akan Post-Cultural-Syndrome dari catatan masa silam yang menyesakkan. “Puisi, Musik, dan Kopi” bertujuan untuk menggemakan nafas kehidupan dari ketiganya. Event MocoSik, dan kuliner literasi di Tembi Taman Budaya adalah titik awal dari proses perjumpaan literasi dengan berbagai ornamen-ornamen kehidupan lainnya.

To Top