Kawat

Berkat Rembulan, Pelukis Rustamadji Menemukan Tuhan

Rembulan, potongan lukisan Rustamadji | galeri Nasional

Bulan yang kita saksikan pada zaman kita ini adalah bulan yang sama dengan yang disaksikan manusia pada zaman prasejarah. Pula, sama dengan bulan yang disaksikan oelh para filsuf Yunani, para nabi di Timur Tengah, para pertapa Himalaya, dan para insan modernis di Manhattan dan Tokyo. Hal yang membedakan adalah makna yang dilahirkan oleh berbagai generasi dan peradaban.

Di Indonesia, bulan memiliki makna khusus bagi pelukis Rustamadji. Ia dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, mempelajri seni lukis kepada pelopor seni rupa modern S. Sudjodjono, Hendra Gunawan, Batara Lubis, dan Sudarso. Setelah cukup lama tinggal di Jogjakarta dan Jakarta, Rustamadji kemudian pulang ke desa kelahirannya di Klaten dan menjadi seorang pelukis yang asketis.

Pada suatu hari pada tahun 1962 Rustamadji berkeinginan melukis rembulan. Ia lantas membuat teropong untuk dapat menyaksikan bulan secara lebih gamblang dan jelas. Dari peristiwa itulah ia lantas merasa lebih dekat dengan Tuhan Sang Pencipta Alam. Pengalaman spiritual itu lantas ia tuangkan dalam berlembar-lembar kertas. Bulan telah membantu mengbuah Rustamadji dari insan seniman menjadi insan spiritual.

Karya-karya Rustamadji berupa hal-hal yang dekat dengan kehidupan orang desa: gerobak, pasar burung, nangka, buah pisang, sepeda, dan semacamnya. Di tangan Rustamadji, benda-benda itu mendapat sentuhan firdausi sebagai cerminan jiwa sang seniman. Berkat pengalaman spiritualnya, Rustamadji tak ubahnya seorang yuang menemukan surga di pekarangan rumah, dan berbagai keindahannya dengan kita melalui karya-karyanya yang sederhana, agung, bersahaja, dan sempurna.

 

To Top