Suar

Benteng Merah dan Rumah Tua di Garis Demarkasi

[….] Sesampai di Gombong hati saya makin kecut membayangkan kesulitan menerobos penjagaan pihak Belanda di seberang kali. Saya memutuskan menginap dulu di sebuah losmen dan tidak segera ikut rombongan-rombongan kecil yang dengan bantuan penunjuk jalan akan menyeberang. [….] Gombong, dekat garis pertempuran, bertambah sepi, bersuasana desa seakan-akan tak dilanda perubahan yang dibawa oleh kejadian. Terbayang anak-anak Siliwangi dengan topi-topi pandan barunya dalam khayal menyusup ke seberang kali dimalam gelap…

Suasana mencekam itu diceritakan Sitor Situmorang dalam buku otobiografinya Seorang Sastrawan ‘45 Penyair Danau Toba (Sinar Harapan, 1981: 169). Ia menggambarkan situasi Kota Gombong, ngelangut, tegang dan waspada pada masa “berjoang”. Ketika itu Gombong menjadi garis demarkasi antara Republik Indonesia dengan Belanda berdasarkan Perjanjian Renville (1948). Di barat Sungai Kemit adalah wilayah Belanda, sedangkan di bagian timur wilayah RI yang tinggal “sejengkal” dengan Yogya (150 km ke timur) sebagai kantong perjuangan. Garis demarkasi itu dikenal sebagai Garis Van Mook atau Garis Status Quo.

Sebagai wartawan, Sitor bermaksud ke Jakarta, namun harus melewati pos perlintasan Sungai Kemit yang dijaga ketat tentara Belanda. Tak semua orang diizinkan lewat, sebagian menyusup, tertangkap atau tertembak. Sitor menggambarkan perasaannya ketika melalui malam yang sepi di Gombong. Debur ombak pantai selatan terdengar di kejauhan, menyusup ke ruang tidurnya di losmen. Bahkan penyair yang wafat di Apeldoorn Belanda itu mengaku ditimpa perasaan getir, seolah hidup tanpa kepastian dan tanpa tujuan yang terang.

“Sembari termangu menikmati suara laut itu, saya mendadak diliputi rasa ‘tak berada di mana-mana’”, tulis Sitor sebelum akhirnya ia kembali ke Yogya karena “paspor” wartawannya ditolak tentara Belanda.

Sepenggal kenangan “Si Anak Hilang” tersebut  jadi pemantik yang mendorong saya ingin mengenal kota “garis depan” itu lebih dekat. Saya sekeluarga memutuskan berkunjung ke kota kecil di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah itu, beberapa waktu lalu.

Perjalanan berlangsung di tengah hujan lebat. Sejumlah ruas jalan tergenang air dan saya harus ekstra hati-hati mengemudi. Namun justru lebih terasa nikmat terutama saat melewati kota-kota kecil yang mengharu-biru di balik kaca jendela. Kota-kota itu berperan penting pada zaman kolonial seperti Kutoarjo, ibukota Bagelan (Purworejo sekarang); Kotawinangun dan Prembun yang memiliki stasiun kereta api cukup besar; dan tentu saja Gombong, kota dagang sekaligus pusat pertahanan Belanda di pinggang Pulau Jawa.

Lorong penghubung Benteng Van Der Wijck, foto Raudal Tanjung Banua

Ya, jauh sebelum Perjanjian Renville diteken wakil Indonesia, Amir Syarifuddin Harahap, dan wakil Belanda, Abdulkadir Widjojoatmodjo, Gombong sudah menjadi “Kota Militer” Hindia Belanda. Hal ini ditandai keberadaan Benteng Van Der Wijck yang didirikan tahun 1818 yang menjadi kubu Belanda menghadapi Mataram serta berfungsi signifikan dalam Perang Jawa pimpinan Pangeran Diponegoro (1825-1830).

***

SELEPAS 27 km dari Kota Kebumen, kami akhirnya sampai di Kota Gombong melalui Jembatan Sungai Kemit yang disebut masyarakat setempat sebagai “Jembatan Demarkasi”. Ini mengingatkan saya pada film The Bridge on the River Kwai berlatar Birma-Thailand yang sama-sama beraroma perang di garis depan. Saya merasa tercekam. Namun karena hujan masih lebat, kami tidak turun di jembatan bersejarah itu. Hanya lewat dengan mengklakson tiga kali sebagai tanda hormat. Kemudi  langsung saya arahkan  menuju Benteng Van Der Wijck di Jalan Sapta Marga.

Nama jalan ini niscaya mengingatkan kita akan sumpah setia prajurit. Lokasi itu memang kawasan militer. Hanya saja, dulu pusat militer kolonial, sekarang milik Tentara Nasional Indonesia. Asrama bercat hijau tua serta rimbunan trembesi juga berwarna hijau tua, membuat suasana terasa kelabu, apalagi dalam curah hujan yang tak berhenti sore itu.

Namun di hadapan kami ada yang kontras: bangunan warna merah tegak perkasa!

Saya terbayang foto-foto bangunan tua di Jaipur, India, yang digelari “Kota Merah” karena dibangun dengan bata merah. Tapi ini bukan India, Mas Bro! Ini Benteng Van Der Wijck van Java!

Kami tak sabar ingin segera memasukinya. Sayang loket sudah tutup. Saya lalu turun menembus hujan mendatangi seorang satpam. Saya “bernegosiasi” sambil membayangkan Sitor Situmorang pada masa revolusi bernegosiasi di pos komandan jaga. Bedanya, Sitor gagal melintas, sedangkan saya diizinkan masuk oleh Pak Satpam yang berlogat Jakarta itu.

Harga tiket normal Rp 25.000/orang (sudah termasuk karcis kolam renang dan kereta yang mengantar pengunjung berkeliling). Sementara saya hanya membayar Rp 50.000 untuk empat orang dewasa sebab semua fasilitas sudah tutup. Saya juga diperbolehkan membawa mobil masuk hanya dengan tambahan Rp 5000 untuk parkir.

“Ah, memang enak zaman merdeka,” kata saya lega.

“Enaknya tetap bayar,” sahut istri saya. Kami pun tersenyum penuh arti.

***

TIBA di gerbang utama benteng, aroma militer terasa menyergap karena ada pajangan sepasang meriam sungguhan dan patung prajurit bersenjata. Uniknya, atau lucunya, prajurit tersebut masih berkostum kompeni. Dan sebagaimana patung-patung di kompleks militer yang jauh dari sentuhan estetik seni rupa, sepasang patung “kompeni” di gerbang itu juga tampak kaku dan kurang proporsional.

Barak di Benteng Van Der Wijck, foto Raudal Tanjung Banua

Namun suasana jadi terasa cair karena di sekitar benteng terdapat taman bermain, bangku-bangku panjang, ayunan serta patung-patung hewan yang dekoratif-animatif. Pohon sawo, klengkeng dan palem, juga bikin nyaman, meski belum terlalu tinggi tapi cukup merimbuni pelataran. Maklumlah, kompleks benteng baru dipugar setelah lama terlantar.

Meskipun demikian, fasilitas wisata sudah terbilang lengkap. Selain taman, ada kolam renang, kantin, masjid, bahkan hotel. Di atap benteng ada kereta kelinci yang bisa disewa untuk berkeliling. Jadilah Benteng Van Der Wijck sebagai destinasi sejarah yang juga menyasar anak-anak serta orang tua mereka alias wisata keluarga. Toh, saya masih sempat membatin apakah kereta di atas atap benteng itu aman bagi pengunjung atau bagi bangunan bersejarah itu sendiri?

Dari jarak dekat terlihat gurat dinding benteng tersusun atas ribuan, jika tidak jutaan, batu bata. Saya bayangkan bata itu merupakan hasil produksi masyarakat Kebumen sendiri, sebab daerah ini terkenal sebagai penghasil bata dan genteng seperti di Sokaraja. Bata-bata itu dibiarkan terbuka, tanpa polesan semen. Bahkan untuk cat merah tampak langsung digoreskan sebagaimana cat tembok biasa, tanpa pelitur. Warna jadi doff (tidak mengilap), dan itu menguntungkan sebab tidak sampai menyilaukan mata.

Dinding bata setebal 1,4 m itu juga berjodoh dengan jendela-jendela besar berkusen kayu, sebagian berteralis besi, sebab jendela jadi terkesan ramping. Meskipun sebagian jendela mulai rapuh, tapi tidak mengurangi kekokohan benteng secara keseluruhan. Di bagian dinding dekat jendela besar terdapat susunan bata tegak diagonal membentuk setengah lingkaran, seolah-olah itu bekas jendela yang sebenarnya. Apakah itu bagian dari variasi atau memang merujuk jejak jendela yang lama, entahlah.

Setelah berkeliling mengitari sisi luar benteng, mobil lalu saya bawa masuk ke pusat benteng melalui pintu utama. Pintu ini diberi sentuhan dekorasi berupa variasi kotak-kotak dari semen yang dicat hitam sehingga terkesan “kalem” di tengah hamparan warna merah. Ada empat pintu serupa yang membentuk benteng jadi heksagonal—jenis benteng segi delapan satu-satunya di tanah air.

Pelataran dalam yang dikepung lingkaran dinding, membentuk semacam plaza yang luas. Dulu, berdasarkan foto di sebuah ruangan, ada air mancur dan taman kecilnya. Di halaman dalam ini pula dilakukan pengambilan gambar film The Raid 2: Brandal, video klip Slank, acara masak Farah Quinn dan lain-lain.

Hanya berapa ruang di lantai dasar yang sanggup kami jelajahi, saking banyaknya ruangan yang ada. Sebagian kecil ruangan difungsikan sebagai galeri foto para tokoh dan pejabat saat berkunjung, foto-foto benteng sebelum dipugar, proses pemugaran dan aktivitas pengambilan gambar acara televisi atau film layar lebar. Dari ruangan itulah saya tahu tentang keberadaan air mancur dan aktivitas lainnya di situ.

“Cocok memang tempat bikin film, sorga fotografer, dan seharusnya juga pameran seni rupa dan pagelaran seni,” kata istri saya antusias. Saya membayangkan hal yang sama.

Menurut data yang saya telusuri di sejumlah link, lantai pertama ini memiliki 16 kamar, 72 jendela, 63 pintu penghubung dan 8 tangga ke lantai dua. Ada pun luas total bangunan mencapai 3606,625 m2, tinggi 9,67 m ditambah cerobong 3,33 m.

Melihat banyaknya kamar, pintu dan jendela, lengkap dengan cerobong asap, sebagian pihak menganggap Benteng Van Der Wijck bukanlah benteng pertahanan melainkan benteng logistik. Apa pun, logistik tentu bagian penting dari pertahanan!

Benteng Van Der Wijck, foto Raudal Tanjung Banua

Lewat tangga setengah lingkaran, kami naik ke lantai atas. Di ruang ujung tangga, foto Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla tersenyum menyambut. Tampaknya itu dimaksudkan sebagai ruangan “resmi”, meskipun tanpa properti. Suara dan langkah kaki kami jadi bergema saat menyusuri ruang-ruang dengan plafon melengkung.

Di lantai dua ini terdapat 70 pintu, 84 jendela, 16 kamar super besar serta 16 barak berukuran 7,5 x 11,32 m. Menariknya, di ruang barak masih terdapat tempelan kayu dan pengait besi bekas menggantungkan kain pembatas tempat tidur.

Berbeda dengan dinding luar yang merah menyala, dinding bagian dalam benteng berwarna putih. Sebenarnya menilik foto-foto lama, dinding luar juga berwarna putih, tapi dilabur warna merah saat pemugaran. Simbol merah-putih? Hmm…boleh jadi!

***

HUJAN masih belum reda ketika kami keluar dari lokasi benteng. Dari benteng merah itu, saya mengarahkan laju mobil menuju sebuah rumah tua yang menjadi warisan budaya Gombong, yakni Roemah Budaya Martha Tilaar di Jalan Sempor Lama no 28. Rumah kelahiran pengusaha jamu dan pakar kecantikan itu menggenapkan khazanah Gombong sebagai kota garis depan.

Lagi-lagi tempat ini pun sudah tutup saat kami datang. Sekali lagi saya coba jurus negosiasi, kali ini dengan Sigit Tri Prabowo, manager Roemah Budaya Martha Tilaar. Sigit Tri, wong Klaten yang lulusan Sastra Inggris Sanata Dharma Yogyakarta, itu mengizinkan kami masuk. Tentu setelah membeli tiket Rp 15.000/orang.

Saya mengira rumah itu dijadikan museum jamu dan produk kecantikan, hal yang identik dengan Martha Tilaar. Ternyata bukan.

“Kita justru ingin jadi pintu masuk untuk mengetahui kehidupan sosial masyarakat Gombong. Karena itu, selain sebagai heritage, tempat ini kami jadikan Museum Sosial,” kata Sigit. Menurutnya, Gombong kota paling kosmopolit dibanding kota-kota lain di jalur selatan Jawa. Bandingannya hanya Lasem di pantai utara. Pada zaman Revolusi, masyarakat Gombong saling menolong. Liem Siauw Lam, kakek Martha, sering membawa pejuang yang terluka dengan pedati dan ditutupi kelapa, bahan dagangannya. Di rumahnya yang dibangun tahun 30-an itu juga diadakan pertemuan dan penggalangan dana perjuangan.

Rumah besar itu memiliki banyak kamar. Ranjang kuno, kursi dan lemari antik masih terawat seperti sediakala. Kamar Martha sendiri bukan di rumah induk, melainkan di paviliun sebelah kiri. Itu lantaran Martha Hediana merupakan cucu dari anak perempuan Liem Siauw Lam. Berdasarkan tradisi Tionghoa, hanya anak laki-laki yang berhak menempati rumah induk.

Plaza Benteng Van Der Wijck, foto Raudal Tanjung Banua

Tapi ada kelebihan Martha yang tak dimiliki cucu-cucu lain. Dia adalah cucu kesayangan yang sering diajak berjualan oleh sang kakek. Pengalaman masa kecil itu menempa jiwa wirausaha Martha Tilaar kemudian.

Suasana yang tenang meresap ke dalam pikiran di setiap ruang yang kami masuki. Wajarlah banyak pejabat tinggi dan mantan pejabat yang memutuskan singgah di tempat ini, hanya untuk duduk berlama-lama menikmati suasana. Tri menyebut beberapa nama pejabat penting dan menunjukkan di mana saja tempat favorit mereka.

“Ada mantan Kapolri tahan duduk berjam-jam di tempat itu hanya dengan rokok dan kopi,” katanya mencontohkan, sambil menunjuk bangku dan meja di ruang belakang.

Saya pun setelah puas berkeliling, lalu memesan secangkir kopi Lintong di koffe shop. Duduk di kursi kuno, di bawah cahaya lampu antik, pikiran memang terasa lapang. Dan merasa bahwa di kota kecil Gombong, sungguh banyak kisah yang terlupa, terasa penuh warna ketika disingkap sedikit saja.

***

YA, baru sedikit yang saya singkap. Padahal Gombong berada di jalur utama Pulau Jawa, antara Yogya-Jakarta atau Yogya-Bandung. Karena itu, jika mau menikmatinya kembali, cukup mudah. Ia bisa dicapai dengan berbagai kendaraan. Lintasan Yogya-Purwokerto misalnya, biasa menggunakan bus Efisiensi bertarif Rp 70.000 jauh-dekat. Juga mobil travel. Stasiun Gombong melayani penumpang dari dan ke segala jurusan. Keretanya antara lain Gajayana, Lodaya, Bogowonto dan Mutiara Selatan.

Banyak sekali titik eksplorasi di Gombong. Misalnya, kawasan Pecinan sepanjang Jalan Sempor Lama di mana bangunan tua berjejer. Selain rumah keluarga Martha Hediana atau Martha Tilaar, juga terdapat Gedung Cung Hwa Tsung Hwi (gedung perhimpunan komunitas Tionghoa) dan pabrik rokok klembak-menyan bernama Sintren.

“Itu sisa kejayaan tahun 40-an. Pekerjanya tua-tua sebab tak ada pensiun atau PHK, kecuali Malaikat Israil turun tangan,” selorohnya.

Pada hakikatnya, berkunjung ke Gombong memang tidak hanya bersua Benteng Merah di salah satu sudutnya yang bersejarah, melainkan juga mendekat ke banyak titik destinasi Kabupaten Kebumen, mulai pegunungan hingga laut. Bisa direnteng dari Waduk Sempor, Geopark Karangsembung, Pesantren Somlangu (pondok tertua di Jawa bahkan tanah air) hingga Gua Jatijajar. Jangan lupakan Pantai Ayah, Manganti, Karangbolong hingga Patanahan karena itu adalah deretan pantai yang unik di tepi Laut Selatan. **

To Top