Fiksi

Baju Pengantin Terkutuk

The Maiden, Gustav Klimt

Setiap pagi aku menemukan secarik kertas mungil di samping bantal tidurku. Secarik kertas yang membuat aku siap untuk melihat calon pengantinku di langit, bergaun matahari terbit dan matahari senja.

Secartik kertas itu adalah catatan perjalananku. Berisikan persentase sampai di manakah aku, sudah sejauh apakah aku melepaskannya agar langkahku sendiri bisa lebih ringan?

Aku masih sering pergi ke danau kesukaannya. Danau yang dinamainya sebagai danau berkilau. Danau tempat kami pernah bertengkar karena aku mengejek warna rambutnya yang merah1. Tidak ada anak perempuan di desa ini yang berambut merah, sehingga buatku dia sangat aneh.

Aku katakan rambutnya seperti wortel waktu itu, padahal sebetulnya semua orang tahu rambutnya tak semerah penggambaranku, hanya berwarna cokelat, namun aneh bila mengoloknya dengan sebutan cokelat. Orang yang mendengarnya bisa jadi salah paham dan mengira aku sedang merayunya dengan cokelat.

Karena tak ada niat untuk merayu, hanya mengejek untuk bersenang-senang, makin menjadilah aku menyebutnya anak perempuan berwambut merah wortel.

Setelah dipikir-pikir, sekarang ini, ketika aku sudah dewasa, aku telah berbuat di luar kewajaran. Anak-anak lain tak segigih aku selama mencemoohnya. Jika dia menangis aku semakin bersemangat, begitupun bila dia balas mencemoohku.

Sekarang, aku semakin malu terhadap diriku sendiri, sebab aku menyadari diam-diam aku memperhatikannya dari kejauhan. Waktu itu, mencemooh menjadi satu-satunya cara yang bisa kulakukan agar bisa mendengar suaranya.

Dalam pandangan orang dewasa, kelakuanku saat itu bisa disebut dengan mencari perhatian dari gadis yang sebetulnya sangat disukainya.

Aku masih ingat, danau berkilau ini yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Aku selalu lega jika dia sedang sendirian di sini, karena danau itu akan memantulkan senyumnya kepadaku.

Pernah pada suatu hari, aku teramat kesal dengan seorang anak lai-laki yang bermain dengannya di dekat danau itu. Seorang anak laki-laki berambut hitam lurus, aku tidak yakin kalau senyumnya lebih manis dariku. Aku juga tidak yakin bahwa kacamatanya membuatnya terlihat lebih pintar dariku. Tapi semua itu menggangguku.

Aku melihatnya selama seminggu bersama gadis wortelku. Aku ingin sekali mengerjainya, tapi selalu tak pernah bisa kulakukan karena gadis wortel ada di dekatnya. Aku menyimpan kekesalanku pada anak laki-laki itu sampai aku tahu kalau anak lelaki yang bersamanya hanyalah seorang sepupu yang sedang berlibur.

Saat kami sama-sama masuk sekolah menengah, dia selalu berjalan kaki saat berangkat sekolah, sementara aku bersepeda. Suatu hari ingin sekali aku memboncengnya. Saat masih jauh aku berusaha membuat kalimat yang tepat agar dia bersedia aku bonceng sampai di sekolah, itung-itung untuk memperbaiki hubungan.

Akan tetapi ketika aku sudah dekat, kata-kata “Rambut wortel!” keluar dari mulutku dengan sangat nyaring. Setelah mengucapkan itu, aku melewatinya begitu saja sambil mengayuh sepedaku lebih kencang. Aku dengar dia mengumpat-umpat di belakang. Ekspresinya saat marah membuatku tertawa, terlebih rambutnya yang kemerahan itu terlihat seperti api kemarahan yang berkobar dari dalam tubuhnya.

Pernah sekali, aku ingin berbalik tapi niat itu urung aku lakukan.

Jarak itu terus berlanjut sampai sekolah menengah atas. Sayangnya aku selalu kangen dengan danau berkilau yang disayanginya. Maka suatu hari, aku datang ke sana. Aku nikmati pemandangan langit yang terpantul di muka danau. Pada saat yang sama, aku bisa mendengar suara yang teramat lirih pelan-pelan mendekat dalam keadaan hening seperti itu. Oleh karenanya, aku bisa tahu dia datang dengan langkah perlahan.

The Maiden, Gustav Klimt

Waktu itu, aku lihat dia tidak menguncir kuda rambutnya. Dia tidak mengenakan rok mungilnya lagi. Dia tidak membawa bekal makanannya lagi. Dia datang memakai sandal jepit. Dia mengenakan celana pendek selutut dan berkaos putih polos. Dia jadi agak tomboy, tapi senyumnya masih semanis dulu.

Aku sadari tingkahku lebih kikuk dari sebelum-sebelumnya saat menyaksikan rambut merahnya sudah berubah. Merahnya sudah lebih gelap dari terakhir kali aku melihatnya. Tidak lagi seperti wortel. Rambutnya tergerai panjang ke belakang bahunya.

Aku pun mencoba bersikap lebih ramah terhadapnya dengan cara tersenyum saat menyambut kedatangannya.

Dia diam dalam waktu lama ketika melihat aku berdiri di pinggir danaunya. “Sedang apa di sini?” tanyanya.

“Melihat pemandangan, bagus ya?” kataku, berusaha menguasai diri.

“Ya,”

Sore itu adalah pertama kalinya kami bicara lebih banyak. Kali itu pula untuk pertama kalinya aku tidak membuat kesalahan. Meski hanya percakapan persoalan kabar satu sama lain, tapi rasa senang melambungkan aku sampai di rumah.

Aku ingin bicara lebih banyak lagi dengannya.

Keesokan harinya, aku mulai berani terang-terangan berdiri di pinggir danau. Dia juga masih sering datang, kadang-kadang dia masih memakai seragam sekolahnya. Kadang-kadang mengenakan gaun panjang seperti baru saja mendapatkan kebahagiaan baru. Warna gaunnya sangat manis. Aku sampai dibuat cemburu olehnya. Aku tak bisa memikirkan diriku terjebak pada kemungkinan kalau dia sudah berkencan dengan seseorang.

“Kemarin, kamu tidak datang kemari, apa ada tugas sekolah yang harus kamu kerjakan?” Aku mulai menyamakan kesibukannya dengan kesibukanku.

Dia menggeleng. Pikiranku kacau melihat caranya menjawab pertanyaanku.

Dia sudah punya pacar, pikirku.

“Kemarin, aku pergi dengan teman mencari buku ke kota,”

“Oh, buku apa?”

“Sebuah dongeng, di sekolah sedang dibicarakan dongeng baju pengantin terkutuk, aku ingin membacanya, jadi aku mengajak temanku untuk membeli buku itu,”

“Apa kamu mendapatkannya?” tanyaku, sejujurnya pertanyaanku yang sebenarnya ingin aku ajukan adalah seorang laki-laki atau perempuankah yang menemanimu?

Dia menggeleng.

“Chris, apa kamu percaya ada baju pengantin yang dikutuk?” dia bertanya dengan nada suara malu-malu yang mengandung rasa yang dalam.

“Aku tidak tahu,” jawabku cepat-cepat.

Aku ingin bertanya, “Apa kamu ingin menikahi seseorang?” pertanyaanku itu hanya sampai di tenggorokan.

Aku memilih cepat-cepat pergi dari danau karena tidak tahan melihat rona merah di wajahnya.

Sekarang, aku ingat apa yang membuat kami lebih sering ngobrol daripada sebelumnya. Semua karena cerita baju pengantin terkutuk itu. Aku juga berusaha keras menemukan buku yang ingin dibacanya.

Buku itu sepertinya memang tidak pernah ada karena aku tidak pernah berhasil menemukannya. Aku bertanya padanya setiap hari, sudahkah dia mendapatkannya? Sebenarnya, aku tidak peduli dia sudah dapat atau belum. Aku lebih peduli pada siapa yang berhasil memberikan buku itu padanya?

Sampai akhirnya, dia menyerah untuk memiliki buku dongeng itu, aku gembira karena itu berarti tak ada orang lain yang mendahuluiku.

Dengan sangat aneh, aku memberinya pengertian kalau mungkin saja tak pernah ada yang mau menulis dongeng itu. Aku katakan padanya kalau dongeng itu sebetulnya kenyataan yang telah mengabadi dalam cerita lisan.

Mendengar penuturanku, dia lalu berniat menulis cerita itu, agar suatu hari anak-anak bisa membacanya ketika sudah dalam bentuk buku. Setiap hari dia duduk di bawah pohon di dekat danau untuk menulis cerita tentang baju pengantin terkutuk. Setiap hari dia juga mengeluh, karena cerita yang ditulisnya tidak seseram yang diceritakan orang tentang baju pengantin terkutuk padanya. Cerita yang dibuatnya justru membuat orang yang membacanya ingin cepat-cepat menikah.

Dia makin sering merengek, merajuk, dan merobek-robek sendiri cerita yang dibuatnya.

Karena semua itu, kami menjadi semakin dekat.

Diam-diam, aku takjub dengan kemampuannya bercerita, hingga tanpa sadar di suatu senja keemasan aku mengatakan aku menyukainya. Aku lihat dia terperangah. Aku sendiri kaget dengan keberanianku.

Dia berlari menjauhiku.

Mungkin dia sudah semakin benci padaku, pikirku.

Pernyataanku atas perasaanku padanya tak terjawab sampai tibalah waktu di mana aku akan segera pergi ke kota yang lebih jauh untuk menempuh pendidikan di universitas. Aku ingin berpamitan padanya, sehingga aku mengundangnya datang ke danau.

Dia datang ke danau berkilau sambil menundukkan wajah. Mungkinkah dia malu atau tak bersedia melihat wajahku lagi? Pikiran buruk menyelimutiku.

“Di kota nanti akan ada banyak perempuan yang lebih cantik,” katanya.

Aku tak ingin membuatnya ragu, jadi kukatakan, “Tapi tak ada yang berambut wortel sepertimu,”

Lagi-lagi aku membuat kesalahan.

Aku mengumpati diriku sendiri dalam hati. Mulutnya terbuka, mungkin dia ingin membalas kata-kataku dengan kata-kata yang lebih kejam. Aku menunggu. Tapi, dia justru memalingkan wajahnya dariku.

Kupikir dia sudah membenciku ribuan kali.

“Aku akan jadi suster,” katanya, kata-katanya membuatku seperti terbangun dari tidur nyenyakku sepanjang tahun.

“Maksudmu?”

“Ya, aku ingin jadi pelayan Tuhan,” katanya.

Aku melongo.

“Kamu yakin?”

“Ya, sejak kecil aku selalu memohon agar Tuhan mau menerimaku sebagai pelayannya,”

Aku tahu dia amat suka diberi tugas membawa sibori berisi hosti yang akan dibagi-bagikan oleh pastor di setiap penghujung Misa pada para jemaat. Aku senang melihatnya begitu hikmat saat membawa mangkuk itu. Kadang-kadang aku bermimpi menjadi pastor yang diam-diam meminta pada Tuhan agar senyum itu selalu dimilikinya. Saat kecil, dalam hati aku berkata, aku bersedia melakukan apa saja asalkan bisa melihatnya bahagia. Akan tetapi, aku tak pernah tahu kalau dia ingin hidup hanya sebagai pelayan Tuhan.

“Apa itu akan membuatmu bahagia?”

Dia mengangguk.

Tiba-tiba dia bicara dengan suara yang berat, “Kamu ingat kejadian itu? Saat Ayah dan Ibuku dibantai oleh orang-orang yang mengatakan dirinya dari golongan putih? Saat itu orang tuaku sedang melangsungkan pernikahan, tapi orang-orang itu membantai semua orang yang ada di dalam gereja dengan tuduhan telah melahirkan anak-anak haram!” kemarahannya jauh entah ke mana.

“Kamu masih ingat bagaimana mereka menyebut kita para jahanam penghuni neraka?” semua hal yang dipendamnya dalam-dalam dalam dendam, entah kenapa pada saat itu bisa kuketahui sedang mendesaknya.

“Aku membaca semua alkitab dan semua alkitab memberikan kita jalan untuk menjadi kekasih Tuhan karena Tuhan tidak pernah membedakan apapun dari seseorang yang ingin menjadi kekasihNya,” suaranya terdengar amat dalam.

Dalam waktu yang cukup lama, ada jeda yang berisikan angina di antara kaim. Meski begitu, lamat-lamat aku bisa melihatnya tersenyum seperti waktu dia masih kecil dulu.

Saat itu juga impianku melihatnya berjalan di sampingku mengenakan baju pengantin seperti cerita-cerita romantis, dengan kemeriahan tari-tarian dan tawa para kerabat berubah menjadi film hitam putih nan bisu yang pelan-pelan hilang dari rekaman.

Kenangan itu tak mungkin akan dapat kulupakan, karena aku bersamanya saat kami sama-sama bersembunyi dari yang mengaku golongan putih itu. Hari di mana, pernikahan ayah dan ibunya berubah menjadi kuburan. Dan tak hanya kedua orang tuanya yang jadi mayat, tapi keluargaku pun juga demikian.

Bila kuingat lagi, sebetulnya karena kenangan itulah ia jarang bicara dan kami jadi bisa sama-sama diam ketika berjumpa di danau. Aku kehilangan selera untuk mengolok-oloknya dengan sebutan rambut wortel bila sudah berada di sekitar danau berkilau.

Di dekat danau yang dinamainya sebagai danau berkilau ini, sesungguhnya ada tanda bekas berdirinya gereja yang dibantai itu. Dua diantaranya adalah pohon yang menjadi sandarannya saat ini dan lubang persembunyian kami yang sekarang sudah berganti menjadi tugu peringatan.

Dia memilih tinggal di gereja untuk memaafkan kejadian itu, sementara aku memilih perjalanan di dunia ini untuk memintal kenangan baru, menyisipkan kejadian itu sebagai pertimbangan, akankah aku memaafkan mereka, para pembantai, di hari penentuan nanti?

Cerita ini erinspirasi dari Novel Anne of Green Gables karya Lucy M. Montgomery

To Top