Fiksi

Alifia dan Menjadi Wanita Seutuhya

Meraba Diri (1988), Ivan Sagita. Foto: Galeri Nasional

Kapan kamu nyusul? Pertanyaan itu sudah berkali-kali masuk ke telinga Alifia. Pertanyaan favorit teman-temannya, yang sudah melepas masa lajang, untuk mengejek perempuan berambut ombak itu. Tapi dasar Alifia, sesering apa pun ia mendengar pertanyaan –ledekan– tersebut, ia hanya nyengir. Cuek. Masuk dari telinga kanan lalu keluar dari kiri. Padahal bagi perempuan seumuran dia, harusnya khawatir. Di usianya yang sudah matang belum ada tanda-tanda melepas masa lajang.

***

“Bu, kenapa ibu menikah?” tanya Alifia di sela makan malam bersama ibunya.

Perempuan paruh baya yang ditanya terlihat bingung. Bukan karena dia tidak tahu jawabannya. Tapi lebih karena heran, kenapa anaknya tiba-tiba bertanya mengenai pernikahan. Bukankah biasanya dia menghindari topik pembicaraan tersebut.

“Ke-na-pa ibu menikah?” perempuan paruh baya itu memastikan pertanyaan dari anaknya.

Alifia mengangguk.

“Hmm… karena ibu ingin menikah.”

Alifia tidak puas dengan jawaban ibunya. “Maksud Alifia apa alasana ibu menikah?”

“Hmm… Ibu ingin menjadi wanita seutuhnya dan wanita terbahagia sedunia.” Senyuman tersimpul di bibir perempuan yang dipangil ibu oleh Alifia.

“Seutuhnya? Bahagia?” Alifia meminta penjelasan.

Ada jeda sebelum perempuan paruh baya itu mejawab. Sebanding dengan satu sendok nasi yang masuk ke mulut Alifia.

“Ya. Ketika berkeluarga, ibu menjadi wanita seutuhnya. Yang senantiasa berbakti pada suami. Merasakan repotnya hamil. Susahnya mengurus anak. Dan capainya membersihkan rumah… Bukankah kodrat wanita, seperti itu, sayang?” ibu Alinea tersenyum. “Tapi walaupun repot, susah dan capai, percalayalah semuanya terasa indah saat dijalani… Bagi seorang wanita tidak ada yang bisa melebihi bahagianya menjadi seorang istri dan ibu, sayang.” Perempuan paruh baya itu kembali tersenyum.

Alifia mengambil gelas kaca berisi air putih, yang berada tidak jauh dari piringnya. Ia meminum air itu hingga habis. Lalu bertanya kembali, “Apakah selama ini ibu bahagia?”

Perempuan paruh baya itu mengangguk. “Tentu saja ibu bahagia. Sangat bahagia, sayang.”

“Bahagia?” Air muka Alifia berubah masam. “Bukankah laki-laki itu sering menyakiti Ibu. Berkata kasar. Memukul. Dan tanpa malu meninggalkan Ibu, meninggalkan kita. Apakah itu yang disebut bahagia?” Entah kenapa emosi Alifia meninggi. Ia tidak mau menyebut “lelaki itu” dengan sebutan “ayah”.

Meja makan yang biasanya terasa cair oleh tingkah Alifia, kini membeku.

Perempuan paruh baya di hadapan Alifia menghela napas panjang. Ia kaget mendengar perkataan Alifia. Meskipun bukan kali pertama putri semata wayangnya berkata seperti itu, tetap saja hatinya teriris. Perih.

Ia tahu Alifia akan menghadapi masa-masa sulit. Ya, putri semata wayangnya itu melihat sendiri bagaimana seorang lelaki menyiksa ibunya. Menangis dan memohon agar ibunya tidak dipukuli lagi. Tapi, bukankah kejadian itu sudah tertinggal belasan tahun lamanya? Sekarang Alifia beranjak dewasa, hampir 30 tahun usianya. Butuh waktu berapa lama lagi agar dia bisa berdamai dengan masa lalu?

“Bu, maafkan Alifia membentak Ibu. Seharusnya Alifia tidak bertanya hal itu. Seharusnya kita tidak membahasnya.” Alifia menundukkan kepalanya. Entah karena ia menyesal telah membentak ibunya atau karena luka dihatinya terbuka lagi. Luka yang belasan tahun berusaha ia sembuhkan, tapi tak kunjung bisa. Malah terasa semakin sakit.

Perempuan paruh baya berwajah teduh menatap putri semata wayangnya, Alifia, yang sedang menunduk. “Tidak sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf,” kata perempuan itu, “Kita memang seharusnya membahas ini. Ibu tahu kenapa kamu bertanya mengenai pernikahan. Ibu mengerti bagaimana perasaanmu. Selama ini kamu tidak mau menikah karena membenci laki-laki, bukan? Kamu membenci ayahmu.”

Meja makan hening beberapa saat. Hanya menyisakan detak jarum jam yang semakin mendekati angka 8.

“Bahagia? Tentu saja sampai detik ini ibu merasa bahagia. Meskipun kebahagiaan ibu tidak sempurna. Seperti apa yang ibu katakan sebelumnya, kebahagiaan tertinggi bagi wanita ialah menjadi seorang istri dan ibu. Dalam hal ini ibu kehilangan kebahagiaan sebagai seorang istri. Tapi ibu masih mempunyai kebahagiaan lain, menjadi ibumu. Jadi ibu masih bahagia.” Perempuan paruh baya itu tersenyum.

Alifia berusaha membendung air mata. Ia sudah berjanji tidak akan menitikan air mata di hadapan ibunya.

“Dulu ayahmu lelaki yang bertanggung jawab. Dia romantis, perhatian dan bawel,” perempuan paruh baya itu mengembuskan napas perlahan. “Ketika Ibu mengandungmu, tidak henti-hentinya ayahmu mengingatkan untuk minum susu. Tak bosan ia memenuhi keinginan ibu, yang terkadang aneh. Seperti, Ibu ingin makan mie, tapi harus bikinan ayahmu. Kalau ayah lagi di rumah tidak masalah. Tapi pekerjaan menuntut ayah untuk tidak berlama-lama di rumah. Pernah tengah malam ayah pulang dari Jakarta ke Bandung, hanya untuk memasak mie. Mungkin karena itu pula rambutmu berombak, mirip mie, hehe.”

Alifia masih membisu.

“Ayahmu berubah sedikit banyak karena kesalahan Ibu. Saat itu usiamu sepuluh tahun. Ayahmu terpuruk. Jalan layang yang sedang ia bangun ambruk. Kejadian itu merenggut banyak nyawa. Tak lama kemudian sikap ayahmu berubah. Dia menyalahkan dirinya atas kejadian tersebut. Bodohnya ibu malah bawel. Terlalu sering menasihati ayahmu. Ibu keliru, ayahmu tidak butuh nasihat, ia hanya memerlukan banyak waktu sendiri. Sejak saat itu ayahmu tidak betah di rumah. Kalaupun ada di rumah, ia sering marah. Ibu sering mengeluh karena hal itu. Ayahmu semakin tidak betah. Kemudian hari, ibu tahu kalau dia betah di rumah yang lain. Dan…” perempuan paruh baya itu tidak sanggup melanjutkannya.

Meraba Diri (1988), Ivan Sagita. Foto: Galeri Nasional

Alifia menatap perempuan paruh baya di hadapannya. Dia tahu ibunya –sedikit– berbohong. Sekarang ia sudah dewasa. Alasan kenapa lelaki itu memukuli ibu dan menghianatinya tidak sesederhana itu. Intinya lelaki itu pergi karena wanita lain. Ya, karena wanita lain. Alifia tidak mengerti kenapa ibunya menyalahkan dirinya sendiri? Kenapa dia bisa menceritakan semuanya tanpa garis benci di wajahnya. Sebegitu mudahkah memaafkan?

“Sayang,” kata perempuan paruh baya itu, “Ibu sudah memaafkan ayahmu sedari dulu. Ketika hati ibu hancur berkeping-keping, tawamu yang menyatukannya lagi. Kamu menjadi penyemangat hidup ibu. Karenamu ibu bisa melewati semua ini. Sayang, ibu sudah berjanji akan membesarkanmu dengan apa pun yang ibu miliki. Termasuk nyawa ibu… Ibu tidak ingin kamu selamanya memiliki rasa benci… Sekarang kamu sudah dewasa. Usiamu sebentar lagi tiga puluh tahun dan usia ibu lebih dari setengah abad. Ibu belum tenang untuk meninggalkanmu sebelum kamu menjadi wanita seutuhnya. Ibu tidak mau meninggalkanmu sendirian, sayang.”

Alifia melanggar janjinya, matanya kini basah. Selama ini ibu memberikan semua yang ia miliki untuk membesarkannya. Tapi apa yang ia berikan untuk ibunya?

“Sayang, maafkanlah ayahmu. Anggap saja ia mimpi buruk. Seperti hantu yang bergentayangan di mimpimu, lantas kamu lupakan saat membuka mata –bangun. Buka matamu, sayang. Buka hatimu. Sadarlah tidak semua laki-laki seperti ayahmu. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kamu…”

“Maafkan aku, Bu,” Alifia memeluk ibunya, “Selama ini aku menyusahkan Ibu. Selama ini aku dibutakan kebencian.” Air mata membanjiri pipinya.

Malam itu Alifia mengikis kebencian yang selama ini menyiksanya. Dia mencoba untuk membuka mata. Melupakan semua kejadian yang menyakitkan itu. Berdamai dengan masa lalu. Mengisi episode baru di hidupnya dengan pemahaman baru. Semoga saja dia juga membuka hatinya. Supaya esok lusa kita bisa membaca cerita tentang pernikahnnya. Tentang Alifia yang menjadi wanita seutuhnya.

To Top