Suar

Aksi Meschac Gaba di Eropa: Seni Rupa, Postkolonialisme dan Politik Internasional

Meschac-Gaba

I

Dimulai dari sebuah pertanyaan “dimana seni kontemporer Afrika?”, Meschac Gaba membangun sebuah pameran temporal yang berjudul Museum of Contemporary African Art dan dilaksanakan di berbagai negara di Eropa yakni: Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris. Meschac Gaba merupakan seorang seniman kelahiran kota Cotonou, Benin suatu negara Afrika Barat. Pameran ini menitkberatkan kepada penciptaan ruang konseptual yang temporer dengan interpretasi ruang yang tidak sebatas interpretasi geografis. Gaba mencoba untuk melakukan konfrontasi terhadap struktur seni kontemporer yang terlalu western- centred dan batasan antara western dan non western art.

Ide Gaba terbentuk saat ia tengah melakukan residensi di Belanda, lebih tepatnya Rijksakademie pada tahun 1997. Pengalamannya dalam melakukan residensi membuat ia menyadari bahwa selama ini praktik museum yang ada di Eropa tidak merepresentasikan variasi budaya yang seharusnya menjadi poin vital dalam diskursus seni. Berangkat dari kekhawatiran ini Gaba melakukan suatu konseptualisasi ruang yang sanggup merepresentasikan seni kontemporer Afrika tidak dari sudut pandang Eropa, melainkan dari sudut pandang warga Afrika sendiri. Pameran tersebut merupakan suatu perkembangan konseptualisasi dan diskursus wacana Gaba yang berjalan selama kurang lebih lima tahun dengan menghadirkan berbagai interpretasi artistik terhadap ruang dan visual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Meschac Gaba

Melalui praktik ini Gaba melakukan konfrontasi terhadap social boundaries dan political boundaries yang secara tidak langsung dibentuk oleh museum Eropa (Jones, 2013). Dengan begitu, Gaba dapat dilihat sedang melakukan penilaian kritis terhadap relasi power yang menimbulkan ketegangan bahkan dalam dimensi seni kontemporer. Pertanyaannya, dari sudut pandang kajian hubungan ternasional, bagaimana seniman yang merupakan aktor non-negara melakukan resistensi politik terhadap struktur hegemon yang sebelumnya memiliki power dalam mendefinisikan realitas ?

Seni dan Perspektif Pasca Perang Dingin

Perang dingin sebagai sebuah fenomena internasional telah mengubah interpretasi politik sebagai sebuah praktek menjadi jauh lebih kompleks. James Der Derian dalam The (S)pace of International Relations  menjelaskan bahwa telah terjadi suatu perubahan pada tatanan politik internasional yang tidak lagi menekankan kepada interpretasi territorial sebagai kenyataan geografis, namun lebih kepada interpretasi abstrak yang diakibatkan bermainnya dimensi waktu dalam politik dan semakin relevannya teknologi dalam keterhubungan sehari-hari.

Der Derian menekankan pada kemunculan chronopolitics dan technostrategic yang diakibatkan oleh interpretasi power sebagai sesuatu yang diskursif sehingga praktik politik representasional menjadi jauh lebih dilematis dan secara tidak langsung menantang pendekatan klasik terhadap ilmu hubungan internasional (Der Darian, 1990:295). Hal ini membuat Der Derian menyarankan pendekatan baru terhadap politik internasional yang ia harap mampu menjelaskan kompleksitas yang terjadi dalam hubungan antar negara yakni pendekatan post-strukturalis.

Ide bahwa tatatan internasional telah berkembang menjadi suatu yang lebih kompleks disuarakan juga oleh Cerwyn Moore dan Laura J. Shepherd (2010) yang menganggap bahwa terdapat kekakuan epistemologi dalam studi hubungan internasional (HI) yang membuat pemahaman ilmu HI terhadap fenomena kontemporer menjadi sempit (2010: 300). Bleiker juga mengutarakan kesempitan paradigma konvensional dalam mengkaji dinamika internasional yang cenderung hanya fokus kepada tema state-centric sehingga pendekatan lain, salah satunya pendekatan terhadap peran estetika dalam praktik politik representasi, seringkali dinormorduakan. Hal ini dikemukakan secara langsung oleh Bleiker, “Alternative approaches, including those that investigated or relied upon aesthetic sources, were ignored at best, resisted and ridiculed at worst (2017: 259).

Kebutuhan akan pergeseran dari pemahaman kaku terhadap hubungan internasional juga disuarakan oleh Michael Saphiro yang menjelaskan terdapat linguistic turn dalam ilmu HI. Menurut Saphiro, dengan mengadaptasi pendekatan tekstual maka kemungkinan untuk tercapainya pemahaman yang lebih holistik dalam melihat politik internasional, “exploring “textualizing practices” affords space to introduce “an alternative epistemological vocabulary” so as to explore and critique “frames of meaning that detextualize and thereby sequester forms of power and authority (dalam Moore, 2017, 303).

Dalam kutipan di atas, Moore menjelaskan bahwa Saphiro menekankan kepada pentingnya epistemologi non-konvensional dalam melakukan decoding terhadap meaning yang hadir secara tidak terlihat dalam excercise of power--yakni suatu ranah yang kurang dikaji karena dominasi riset terhadap pandangan politik klasik dan kajian sosioekonomi. Bleiker dalam Aesthetic and World Politics (2013), kemudian melanjutkan bahwa pemahaman estetika sebagai sebuah praktik mempunyai definsi yang berbeda dengan estetika sebagai sebuah kreasi final. Menurut Bleiker estetika mempunyai peranan penting karena estetika menambah interpretative repertoire yang memperkaya pendekatan alternatif, reflective understanding, dan sensibilitas dalam bagaimana hubungan internasional sebagai sebuah ilmu mengkaji interaksi antar aktornya. Dengan kata lain aesthetic insights memberikan suatu pendekatan alternatif dalam memahami praktik hubungan internasional yang lebih menekankan kepada sensibilitas terhadap power politics yang sekarang jauh lebih abstrak dan subtil, dalam pengertian Foucaldian dan Ranciere (2013: 9).

Pentingnya seni sebagai sebuah praktik politik simbolik imajiner untuk dimengerti melalui pendekatan interpretatif terlihat dari bagaimana seni bertindak sebagai sebuah black box. Mengutip pendekatan Foucault dalam Cerella (2016: 2),  “art opens a void, a moment of silence, a question without answer, provokes a breach without reconciliation where the world is forced to question itself. ” Seni menurut Foucault dengan begitu dapat dilihat sebagai sebuah instrument epistemologis dan signatura of an age dalam artian ia bertindak sebagai representasi dari kesadaran kolektif masyarakat terhadap modernitas dan kenyataan dunia dalam waktu tersebut. Seni, melalui pemahaman ini, bertindak sebagai sebuah tuntutan untuk mereflesikan diri. Hal ini didukung oleh Bleiker lebih lanjut dalam melihat kenyataan seni yang senantiasa berkorelasi dengan etika, sebagai sebuah praktik politik,  “Aesthetics is neither good nor bad, progressive nor regressive. It works more like an amplifier. Aesthetics adds a different dimension to our understanding of the political and, by consequence, to the ethical discourses that are central to waging political debates” (2013: 11).

Peranan seni dalam politik di satu sisi memang seringkali dianggap kurang relevan dan penulis akui tidak terlihat. Namun seiring dengan semakin berkembangnya kompleksitas politik representasi dan perkembangan isu transnasionalisme yang mengacu kepada deliberasi apa yang etis dan tidak etis, maka relasi seni sebagai sebuah praktik politik yang senantiasa konfliktual dengan struktur hegemon merupakan suatu sudut pandang yang seharusnya dipertimbangkan.

Meschac Gaba – Museum of Contemporary African Art by Meschac Gaba

Bagaimana memahami fenomena tersebut?

Dalam rangka menjawab pameran Meschac Gaba dalam konteks pasca perang dingin dan perspektif yang muncul terkait seni sebagai sebuah praktik politik, maka setidaknya perlu  digunakan konsep yang dianggap mampu memberikan analisis yang mendalam mengenai fenomana tersebut. Konsep-konsep yang cukup relevan digunakan disini adalah Hidden Script, Constructive Representation dan Visual Sovereingty.

Terdapat sejumlah alasan menggunakan konsep-konsep di atas. Pertama, konsep ini menghadirkan pendekatan alternatif terhadap kompleksitas tatanan politik internasional. Dalam tulisannya yang berjudul Cyberwar, Video Games and the Gulf War Syndrome, Der Derian melakukan revelasi atas bagaimana kompleksitas tatanan dunia internasional berkembang secara radikal dengan penekanan terhadap restrukturisasi meaning (2013:123). Ia melanjutkan bahwa terdapat persepsi visual yang tengah dipolitisasi–politisasi ini secara lambat namun pasti menciptakan persepsi realita baru yang disepakati secara bersama dan terkesan representatif (2013:127).  Mengacu kepada Der Derian, semakin diskursifnya nosi power dalam kehidupan sehari-hari maka diskursus yang terjadi adalah diskursus tentang apa yang seharusnya menjadi topik diskursus. Dengan kata lain, terdapat kontestasi terhadp apa yang menjadi realita kontemporer yang di mana melalui ini struktur hegemon melakukan dominasi secara subtil.

Kedua, terhadap logika yang paralel dalam melihat seni sebagai praktik politik yang seringkali dinomorduakan dalam kajian HI melalui statusnya sebagai praktik low politics. Berangkat dari sini, perlu dilakukan pendekatan kritis terhadap apa yang sebelumnya tidak dilihat dalam pendekatan HI konvensional melalui ketiga konsep yang dipaparkan di atas.

Foucault dalam Discipline and Punish (1979) mencoba untuk menelaah nosi power yang meluruh. Walaupun perlu digaris bawahi bahwa luruhnya power bukan berarti tidak ada polarisasi struktur namun bukan berarti praktik resistensi politik yang hadir dari bawah tidak dapat dilakukan. Niko Besnier (2013: 12) yang meneliti gosip dalam masyarakat melihat bahwa terdapat percobaan negosiasi legitimasi power yang dihasilkan melalui praktek gosip. Poin yang ingin penulis tekankan bukanlah fenomena gosip namun praktik mikro atas reaksinya terhadap struktur. Perhatian yang sama juga ditekankan oleh Bleiker (1990) yang lebih lanjut melihat seni sebagai medium representatif dalam menegosiasikan etika politik yang hadir dalam aksi pengambilan keputusan aktor dengan legitimasi politik yang lebih besar. Mengacu kepada definisi seni sebagai praktik representasi ini, maka terdapat power yang hadir dalam eksekusinya. Mengutip Bleiker, representation is always an act of power (1990: 12).

Setelah memaparkan justifikasi atas mengapa ketiga konsep perlu diterapkan di sini, maka perlu penjelasan menengai konsep-konsep tersebut, yaitu hidden transcript yang dicetuskan oleh James C. Scott, constructive representation yang dicetuskan oleh Stuart Hall, dan visual sovereignty yang dicetuskan oleh Michelle Raheja.

Dalam observasi James Scott terhadap praktik resistensi politik, ia mengidentifikasi bahwa terdapat dua bentuk resistensi: yakni resistensi aktif dan resistansi pasif. Namun terdapat kecenderungan interpretasi terhadap praktik resistensi yang biasanya mengacu pada fenomena yang bersifat aktif, padahal menurut Scott secara empirik lebih banyak praktik resistensi yang dilakukan secara pasif dalam artian tidak melakukan konfrontasi secara langsung, seperti yang dilakukan dalam bentuk non-compliance, subtle sabotage, penghindaran dan penipuan 1985: 31-32).  Melalui definisi praktik resistensi politik yang pasif ini aktor subordinat menciptakan political presence mereka terasa, manifestasi dari aksi ini lah yang dikatakan oleh Scott sebagai everyday forms of resistance (ibid: 38-40). Scott di sini ingin mencoba,untuk menarik fokus kepada praktik resistensi yang dilakukan melalui konfrontasi subtil oleh para aktor subordinat.

Pendekatan tersebut ia lakukan salah satunya dengan cara melakukan pemisahan antara public transcript dengan hidden transcript, di mana hidden transcript didefinisikan sebagai suatu praktik diskursif yang terjadi di luar diskursus dominan. Konsep hidden transcript ini secara tidak langsung menghadirkan ruang bagi aktor subordinat melakukan praktik negosiasi power atas dirinya yang terlepas dari cengkraman struktur dominan. Mengutip Scott:

“The subordinate moves back and forth, as it were, between two worlds: the world of the master and the offstage world of subordinates. Both of these worlds have sanctioning power. While subordinates normally can monitor the public transcript performance of other subordinates, the dominant can rarely monitor fully the hidden transcript.” (1990: 191)

Ruang dari hidden transcript dengan itu menghadirkan suatu kebebasan bagi subordinat dalam melakukan definsi dan pembentukan wacana, dan melalui statusnya sebagai sesuatu yang hidden dan sulit untuk selalu dimonitor oleh hegemon. Dalam hidden trasncript terdapat penekanan terhadap peranan subordinat dalam melakukan subjektivitas atas aktor yang terlibat, dalam kasus ini adalah aktor subordinat dengan aktor yang subordinat pula. Walaupun praktik resistensi tidak berlangsung secara konfrontatif dan langsung akan tetapi terdapat penekanan kepada pencetusan wacana melalui interpretasi subordinat terhadap struktur dominan, yang salah satunya dilakukan oleh pendekatan constructionist representation.

Constructionist representation merupakan suatu konsep yang dibuat oleh Stuart Hall dengan mengacu kepada problematika representasi dalam konteks moderen. Dalam konseptualisasinya, Stuart Hall mengidentifikasi tiga model representasi yakni reflective representation, intentional representation dan constructionist repesentation (1997). Reflective representation melihat suatu konstruksi representasi yang berangkat dari kejadi faktual, intentional representation lebih menekankan kepada konstruksi representasi berdasar pada intensi dari aktor yang melakukan praktik representasi, terakhir adalah constructionist representation yang mengacu kepada sintesis dari reflective dan intentional representation. Constructionist dengan begitu mencoba untuk melakukan negosiasi terhadap kenyataan representasi yang berangkat dari realita namun dalam waktu yang bersamaan menyadari adanya celah subjektivitas dalam interpretasi realita yang dilakukan oleh aktor.

Museum of Contemporary African Art Meschac Gaba

Konsep terakhir merupakan konsep yang berhubungan dengan kasus  resistensi politik Meschac Gaba dalam Museum of African Contemporary Art yang dilaksanakan di Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris yakni praktik visual sovereignty. Visual sovereignty merupakan suatu konsep yang hadir melalui pemaknaan seni atau medium populer sebagai suatu praktik politik yang menimbulkan suatu konfrontasi terhadap spectator atau struktur yang memang dominan dalam tatanan politik (Raheeja, 2007). Berangkat dari penelaahan Raheja terhadap film The Fast Runner yang menceritakan tentang dokumentasi suku Inuit, Rahejaa melihat bahwa presentasi yang dibawakan oleh The Fast Runner mempunyai kontribusi kepada diskursus tentang masyarakat Artik yang selama ini didominasi oleh interpretasi Hollywood terhadap indigenous people. Raheja melihat bahwa visual sovereignty merupakan suatu strategi dalam melakukan engaging dan dalam waktu yang sama deconstructing representasi yang dilakukan oleh orang lain. Mengutip Raheja,

“visual sovereignty as a way of reimagining Native-centered articulations of self- representation and autonomy that engage the powerful ideologies of mass media, but that do not rely solely on the texts and contexts of Western jurisprudence.” (2007: 22)

Di sini Raheja menekankan kepada visual sovereignty sebagai tindakan dalam melakukan restrukturisasi terhadap representasi atau definisi yang selama ini dilakukan dengan power yang tidak simetris antara satu aktor terhadap aktor lainnya yang dianggap subordinat—dalam hal ini melalui aesthetic practice, dimensi yang selama ini terbengkalai dalam kajian politik internasional.

II

Menjawab rumusan masalah yang telah dinyatakan sebelumnya dengan menggunakan konsep hidden transcript, constructionist representation, dan visual sovereignty yang sebelumnya telah penulis jelaskan dalam kerangka konsep, pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian: pertama menjelaskan tentang hidden transcript dalam diskursus estetika dalam praktik politik internasional, bagian kedua menjelaskan bagaimana konstruksi yang coba dibangun dalam Museum of contemporary African Art yang dibuat oleh Meschac Gaba, dan ketiga tentang bagaimana visual sovereignty hadir dalam Museum for Contemporary African Art.

Hidden Transcript dan Potensinya dalam Politik Representasi Internasional

Sebelumnya telah terlebih dahulu dijelaskan tentang hidden transcript, namun di sini saya mencoba terlebih dahulu menarik perbandingan terkait logika yang terjadi dalam teori hidden transcript James Scott dengan marginalisasi praktik seni dalam hubungan internasional. Secara singkat hidden transcript merupakan suatu diskursus yang terjadi off-stage di luar kendali langsung dari pemilik power (1990:4), dengan begitu hidden transcript merupakan suatu derivasi dari interaksi yang melakukan negosiasi terhadap relasi power yang tidak seimbang. Berdasarkan karakternya terdapat tiga kriteria dasar dari hidden transcript: pertama, hidden transcript sangat lah kontekstual dalam artian sangat bergantung terhadap konteks sosial dan juga aktor yang tengah menciptakan wacana baru. Kedua, hidden transcript tidak hanya mengacu kepada momentum speech act namun dapat terjadi melalui berbagai bentuk interaksi. Ketiga, terdapat relasi antara subordinat dengan struktur dan keduanya ini saling berinteraksi melalui constant struggle.

Dikotomi antara high dan low politics membuat praktik seni diletakkan dalam lingkup low politics, bahkan kadang terdapat keengganan bagi seni untuk mengasosisasikan dengan politik. Hal ini membuat wacana yang dibangun dalam dunia seni, dianggap tidak berdampak banyak terhadap realita politik kontemporer. Namun sifat seni untuk seni atau seni untuk keindahan ditantang oleh Arthur Danto yang melihat, bahwa seni telah memasuki fase the end of art dengan definisi seni sebagai suatu medium untuk menyuarakan kepentingan (1998: 37/4). Konseptualisasi ini juga sejalan dengan kenyataan seni kontemporer yang semakin lama semakin politis di mana eksekusinya dimakanai sebagai praktik melakukan komunikasi. Hal ini lah yang dilakukan oleh Meschac Gaba dalam penciptaan Museum for Contemporary African Art di Eropa atau Barat suatu penciptaan medium spasial dengan tujuan melakukan konfrontasi terhadap marginalisasi seni yang diterima oleh seni kontemporer Afrika. Melalui Estetika Gaba mencoba untuk melakukan provokasi black box yang menyulut suatu refleksi terhadap dominasi Barat dalam mendefinisikan karakter dari estetika.

Pendekatan Gaba melalui seni mencoba utnuk melakukan sesuatu yang “berjarak”dari struktur panopticon namun dalam waktu yang bersamaan menuntut feeling of agitation (1990: 45). Terjadi shift dari politik realis yang mengedepankan ke pada rasio menjadi praktik politik yang menekankan pada emosi. Kerapuhan dari emosi publik lah yang menjadi potensi bagi hidden politics praktek seni: menyasar dimensi unconciousness masyarakat dan menuntut mereka untuk melakukan refleksi terhadap struktur mereka sendiri, dengan kata lain, memanipulasi relasi power yang asimetris melalui konfrontasi yang paling subtil. Relasi antara seni, etika dan politik menjadi sangat relevan ketika dibawa ke dalam pertimbangan ini. Nosi di mana seni merupakan suatu hal yang murni menjadi tameng tersendiri bagi praktik politik yang terjadi di dalamnya secara independen –lepas dari cengkraman struktural.

Temporalitas Museum of African Contemporary Art, menjadi poin vital dalam pembentukan narasi Gaba. Melalui interpretasi sublime yang mengedepankan permainan emosi dan kebingungan, Gaba menciptakan suatu limitasi yang membuatnya secara politik, hadir, tetapi kemudian menghilang untuk kembali berpindah. Layaknya gosip, transfer of knowledge yang dilakukan oleh Gaba dilakukan dari satu telinga, ke telinga lainnya tanpa menghardik struktur power yang berkuasa.

Meschac Gaba – Museum of Contemporary African Art & More, Kunsthalle Fridericianum / Kassel / 2009

Constructionist Representation oleh Gaba Melalui Museum of Contemporary African Art

Mengacu kepada definisi Stuart Hall tekait tentang representasi constructionist yang mengambil definisi sebagai praktek representasional dengan sintesis antar reflective representation dengan intentional representation di mana realita dan subjektivitas kepentingan digabungkan, Gaba mencoba untuk melakukan provokasi terhadap dua kenyataan refletktif: a.) dominasi politik barat dalam seni kontemporer global, dan b.) Ketidakberadaan ruang bagi seni kontemporer Afrika di Eropa. Hal ini dapat dilihat melalui historisitas seni kontemporer global yang dalam perkembangannya mengalami postkolonial turn. Okwui Enwezor menjelaskan bahwa globalisasi sebagai suatu fenomena modern mencoba untuk membangun keterhubungan yang berada di atas batasan dan konsiderasi geografis antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Namun hal tersebut mempunyai konsekuensi dalam menghasilkan standarisasi kultur dengan protokol yang sebelumnya telah ditentukan oleh negara Barat. Untuk menolak wacana homogenisasi tersebut maka seni kontemporer sebagai sebuah praktik politik dalam bentuk produk budaya mencoba untuk melakukan suatu resistensi dengan mulai mempertimbangkan kembali konsiderasi geopolitik dan sejarah awal yang menjadikan dirinya berbeda. Kesadaran untuk kembali kepada pertimbangan geopolitik ini menurut Enwezor mengacu kepada asas post-imperalism yang kemudian Enwezor sebut sebagai post-colonial constellation. Postcolonial Costellation secara perlahan tengah menciptakan rezim govermentality yang mencoba menciptakan ruang representasi politik yang lebih dekat dengan masyarakat dan lebih demokratis (2003:57-58). Mengutip Enwezor:

“the central problematic between art and the avant-garde begins when there is a breach in the supposed eternality of values that flow from antiquity to the present and the autonomy of art that suddenly has to contend with the reality of the secular, democratic public sphere that has been developed through a concatenation of many traditions. (2003:59)”

Postcolonialism costellation juga didasari oleh adaptasi estetika luar Eropa, salah satunya adalah Afrika. Dalam seni tradisionalnya, Afrika mempunyai kecenderungan untuk menghadirkan persepsi lain terhadap apa yang menjadi indah dengan melalui bentuk deformed yang sangat bersebrangan dengan konsep keindahan Eropa. Walaupun ide ini kemudian diadaptasi oleh seniman Eropa tetapi diskriminasi terhadap seni moderen Afrika masih kental terjadi. Salah satunya adalah keengganan Tate Gallery dalam menyediakan rubrik khusus untuk seni moderen dan kontemporer Afrika di saat mereka mampu (2003:59). Hal ini lah yang juga menjadi perhatian dari Meeschac Gaba yang membangun Museum of Contemporary African Art. Gaba melihat adanya relasi antara seni tradisional Afrika dalam  karya Henri Matisse dan Picasso namun sterlepas dari pengaruhnya, seni afrika baik kontemporer dan tradisional tetap tidak mendapatkan rekognisi yang ia harapkan .

Dikarenakan constructionist representation hadir dengan melalui sintesis antara reflective representation dengan Intentional Representation, maka pendekatan constructionist tidak dapat berdiri hanya melalui reflective representation. Elemen intentional representation hadir dalam praktik Gaba melalui bagaimana Gaba mencoba untuk melakukan transfer of knowledge tentang Benin dan seni kontemporer Afrika melalui kacamatanya sebagai seorang native yang mencoba untuk justifikasi terhadap representasi masyarakatnya. Hal ini akan lebih lanjut dijelaskan dalam penjabaran konsep visual sovereignty yang mencoba untuk mengupas Museum of Contemporary Art oleh Meschac Gaba scara lebih detail.

Visual Sovereignty dalam Praktek Resistensi Politik dari Struktur

Visual sovereignty merupakan suatu konfrontasi terhadap spectator dalam definisi Debord. Di sini Raheja menekankan kepada nosi sovereignty atau kedaulatan yang merupakan sebuah konsep yang bekerja baik secara filosofis dan ontologis sebagai manifestasi praktikal dan politis. Raheja juga menambahkan bahwa Visual Sovereignty merupakan suatu cultural ramifications yang menyatukan persepsi tentang pengalaman native terhadap dirinya sendiri (2007:1175-1178). Lebih lanjut, visual sovereignty dimaknai oleh Raheja sebagai suatu cara untuk melakukan restrukturisasi imajinasi yang kritis terhadap self-representation terlebih lagi terhadap under represented indigenous people. Dengan mengacu pada fondasi definisi ini, Raheja memperlihatkan bahwa terdapat pemaknaan yang lebih dalam terhadap nosi kedaulatan. Di mana kedaulatan mengindikasikan suatu cara untuk melakukan mobilisasi sosial dan praktik politik melalui solidaritas situasional dan temporer berdasarkan konsensus.

Visual Sovereignty sebagai sebuah strategi resistensi bergerak berdasarkan persepsi individu dan komunitas yang kritis terhadap apa yang telah ditulis dan dipresentasikan sebagai mereka. Melalui pendekatannya kepada individu dan komunitas maka representasi ini bergerak berdasarkan logika didactic purpose yang ditunjukkan kepada spectator dan juga aktor yang melakukan. Dari sudut pandang aktor yang melakukan strategi ini dinilai sebagai cara untuk menguntungkan suatu kesatuan komunitas yang lebih besar baik dari aspek politik maupun ekonomi. Terlepas dari logika strategi ini yang memakai konseptualisasi dan sudut pandang indigenous communities di mana kedaulatan merupakan nosi sangat vital dalam keterwakilan mereka di masyarakat internasional namun karakter, konsekuensi logika dan artikulasi strategis yang dibawakan oleh konsep ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh Meschac Gaba akibat dikotomi low politics dan high politics. Gaba sebagai seniman mencoba untuk melakukan politik representasi terhadap Benin dan Afrika secara keseluruhan, negara dan kontinen darimana ia berasal. Laku dari Gaba juga mencoba untuk mengintegrasikan banyak komunitas lain yang secara geografis dan ekonomi berada dalam spektrum yang berbeda dari Eropa dan audience yang mengikuti karyanya.

Dalam pamerannya, Gabba membentuk suatu keruangan yang menekankan kepada komparasi lived experience dari spectator terhadap diskursus atas realita. Hal ini ia lakukan dengan membagi Museum of Contemporary African Art menjadi dua kelas: Ruang konvensional (The Library Room, Restaurant, dan Museum Shop) dan Ruang non-konvensional (Draft room, Architecture Room Artist Bank, Humanist Space, Marriage Room, Game room, Music Room, Religion Room, Salon) (Pantazis: 2014) di mana di sini Gaba mencoba untuk melakukan diskursus pedagogi atas praktik museum yang selama ini west-centred. Melalui gambaran yang lebih besar, Gaba menghasilkan sebuah ruang konseptual yang menghadirkan dua pedagogi besar: pedagogi Barat dan pedagogi Afrika.

Museum of Contemporary African Art Meschac Gaba

Dalam praktiknya masing-masing ruang memiliki fungsinya sendiri dalam melakukan konfrontasi. Dalam pegelarannya di Amsterdam Gaba menaruh Draft Room sebagai introduction dari gagasan yang ia lakukan Draft Room berisi suatu representasi tentang Afrika di mana Gaba meletakkan patung keramik bentuk ayam di dalam kulkas. Gaba di sini mencoba melakukan kritik terhadap over production makanan yang dilakukan dalam sistem ekonomi kapitalis. Di sini Gaba juga memperlihatkan dedikasinya dalam menguak system of values dengan cara mempresentasikan kumpulan uang bekas yang dibiarkan terlantar. Dengan menggunakan objek yang mempunyai korelasi dengan ekonomi dan uang sebagai bentuk simbolik Gaba menantang masyarakat tentang devaluasi yang hadir bersamaan dengan sistem uang tersebut.

Di Architecture Room dan Library Room di sini masyarakat diajak untuk bermain dan interaktif terhadap objek yang diletakkan oleh Gaba, bongkahan mainan kayu dalam berbagai bentuk dan dalam Library, Gaba menyediakan kumpulan buku terkait dengan seni Afrika dan koleksi dokumentasi kuratorial terhadap pameran terdahulu Gaba. Gaba menata perpustakaan dengan mengimitasi cara pasar tradisional di Benin yang menjual buku dengan cara meletakkan dalam palet. Di sini Gaba melakukan penekanan terhadap kurangnya buku tentang yang menjelaskan tentang seni di Afrika sehingga menarik pengujung untuk mau mendonasikan bukunya ke anak-anak di Afrika.

Ruang selanjutnya adalah Artist Bank, dan Marriage Room. Artist Bank merupakan ruang di mana Gaba meletakkan gambar Picasso yang dibingkai sebagai presiden dari Ghana. Gaba di sini sejalan dengan pandangan Enwezor yang melihat bahwa terdapat korelasi estetika antara seniman moderen dengan seni tradisional Afrika dengan warna yang seringkali kontras. Ruangan ini mendikte suatu pemahaman bahwa terdapat korelasi antara seni moderen Eropa dengan Afrika dan bahwa seni Afrika telah membantu inovasi praktik estetika di Barat, membuatnya menjadi aktor penting dalam pembangunan ide estetika di Barat. Marriage room merupakan suatu ruang di mana Gaba merekam pernikahannya dengan kurator keturunan Belanda Alezandra van Dongen di Museum Stedelijk, Amsterdam pada tahun 2000. Dalam ruangan ini Gaba mencoba untuk menyentuh isu imigran di Eropa yang dikenal hostile terhadap imigran yang datang bahkan ketika imigran tersebut adalah pengungsi ataupun buruh migran yang datang dikarenakan krisis ekonomi yang terjadi di negaranya akibat kapitalisme tanpa regulasi yang jelas (Ibid: 124-125).

Ruang Museum Shop dan Restaurant Shop merupakan ruang yang diimitasi oleh Gaba dalam melihat praktik museum konvensional di Eropa. Selintas memang ruangan ini tidak mempunyai perbedaan dari praktik museum pada umumnya, namun Gaba menjual hasil karyanya sepeti raket tenis dan kursi yang ia buat dengan uang-uang rusak yang ia temukan di Benin. Souvenir ini dengan begitu bertindak sebagai pengingat dari konfrontasi Museum of Contemporary African Art yang dilakukan secara subtil dan sangat halus. Selain itu Gaba juga menjual karya-karya kreatif yang tidak dibuat oleh dirinya sendiri namun seniman kontemporer lain atau seniman Afrika yang baru saja membuat karirnya.

Hal ini juga Gaba lakukan dengan ruang humanist Space yang ia presentasikan di Documenta 11 di Kassel, Jerman. Sebagai sebuah wadah politik di mana seniman dapat melakukan addressing terhadap kekhawatirannya tentang dunia kontemporer internasional. Gaba menghadirkan 200 sepeda yang dapat dipinjam dengan terlebih dahulu membayar sepeda tersebut. Penarikan uang ini namun dilakukan Gaba dalam bentuk donasi di mana seluruh uang yang diterima dari sepeda tersebut akan disumbangkan kepada kasus humanitarian yang terjadi di kawasan Afrika. Ketiga ruang ini adalah manifestasi didactic purpose dalam resistensi politik Gaba yang dipaparkan sebelumnya oleh Raheja.

Ruangan selanjutnya adalah religion Room, Game room dan Salon. Religion Room merupakan suatu ruang di mana Gaba meletakkan simbol-simbol keagamaan yang paling dominan di dunia tetapi dalam waktu yang sama meletakkan kepercayaan tradisional Benin yakni Voodoo. Gaba mengkritik eksploitasi kultural yang dilakukan oleh Barat dalam melakukan koleksi artefak yang mempunyai niai sentimental terhadap kepercayaan Afrika (seringkali di beli dalam bentuk patung) tetapi dalam waktu yang bersamaan enggan untuk mencoba melihat seni kontemporer Afrika melalui light yang sama. Peletakkan Gaba terhadap simbol-simbol keagaaman yang hierarkis dengan simbol kristiani dalam tataran atas, merupakan kritik terhadap interpretasi religius yang tidak melihat bahwa terdapat elemen spiritual di benda sehari. Di sini Gaba lagi-lagi melakukan konfrontasi terhadap kecenderungan Barat untuk melakukan objektifikasi terhadap setiap hal.

Museum of Contemporary African Art Meschac Gaba

Untuk Game Room, Gaba membawa perhatiannya kepada tatanan politik internasional yang sarat dengan politik simbolis negara Afrika yakni bendera nasionalnya. Melalui pendekatan interaktif, Gaba mengkritik tenatng bagaimana negara dunia ketiga seringkali dikontrol oleh suatu struktur power yang berada di atas mereka. Dalam Ruang terkahir yakni Salon Gaba memakai logika yang sama dengan Museum Shop dan Humanist Space di mana Gaba memamerkan karya dari seniman kontemporer baru baik dari Afrika ataupun tidak. Gaba dengan itu melancangkan suatu kritik yang holistik dan sangat personal dan startegi visual soverignty yang menekankan kepada masyarakat sebagai unit politik yang seringkali terbengkalai melalui dikotomi low politics dan high politics. Dengan melempar wacana dan kritik terhadap praktik panopticon di tambah lagi melalui solidaritas komunitas—dimana kebanyakan benda yang dipamerkan merupakan benda yang juga dibuat di Cotonou, Benin, Gaba mendorong emosi dan sensitivitas untuk bermain dalam kedaulatan visualnya sehingga di saat publik keluar dari Museum-nya mereka dapat melakukan refleksi terhadap apa yang sebenarnya terjadi.

Gaba melalui Museum-nya yang berjalan dari tahun 1997 sampai 2002 secara nomaden dari Belanda, Perancis, Jerman dan Inggris merupakan bentuk resistensi politik terhadap struktur hegemon. Gaba melakukan ini dengan mengontraskan pedagogi ruang–lived space antara praktik diskriminatif museum Eropa terhadap seni kontemporer Afrika, kapitalisme dan struktur power yang dominan melalui interpretasi kreatif yang mempertimbangkan didactic purpose, transfer knowledge yang melakukan counter terhadap representtasi populer dan solidaritas komunitas.

III

Setelah membahas tentang aesthetic turn yang terjadi di disiplin ilmu HI. Hal ini dikarenakan semakin kompleksnya tatanan internasional yang membuat keterhubungan antara abstraksi dan realita menjadi semakin relevan dan kabur. Melihat semakin signifikannya praktik estetika yang bertransformasi menjadi sebuah praktik politik kontemporer internasional penulis mengambil studi kasu: Pameran Meschac Gaba yang berjudul Museum of Contemporary Art dan dilakukan secara nomaden ke beberapa negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Perancis, Belgia dan Inggris.

Museum of Contemporary African Art Meschac Gaba

Saya berargumen bahwa resistensi politik dapat hadir melalui representasi politik yang menggunakan medium seni kontemporer. Hal ini mempunyai nilai tersendiri ketika dilihat bahwa seni merupakan hidden transcript dalam diskursus politik Internasional di mana aktor dapat melakukan konstruksi representasi dengan tujuan mendorong refleksi publik terhadap tatanan politik kontemporer. Salah satu strategi dalam memaksimalkan potensi ini adalah melalui strategi visual sovereinty dimana representasi benar-benar dihadirkan oleh aktor yang secara langsung merupakan wajah sebenarnya dari representasi tersebut. Beranjak dari kasus tersebut penulis melihat bahwa terdapat kontestasi pedagogi ruang yang dilakukan oleh Meschac Gaba melalui kritik yang termanifes dalam pamerannya.

Saya berkesimpulan bahwa praktik resistensi politik terhadap struktur hegemon tidak dapat dilakukan secara langsung namun melalui hidden politics (derivasi dari hidden transcript James Scott). Hal ini dapat dilakukan melalui medium seni yang merupakan low politics—mengisukan masalah representasi. Dengan menyasar masyarakat yang terletak dalam low politics, resistensi dapat menginisiasi sebuah konstruksi dalam bentuk provokasi untuk melakukan refleksi terhadap tatanan yang ada transfer of knowledge dapat dilakukan melalui visual sovereignty, yang memberikan keleluasan politik bagi aktor terkait.

Pustaka

________, (2013) “Meschac Gaba: Museum of Contemporary African Art”. Tate Modern Exhibition: Past Events.

Besnier, Niko. 2003. Gossip and the Everyday Production of Politics. USA: University of Hawai’i Press

Bleiker, Roland. 2011. Aesthetics and World Politics. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Bleiker, Roland. (2017) “In search of Thinking Space: Reflections on the Aesthetic Turn in International Political Theory” Millenium:Journal of International Studies Vol. 45 No. 2 Hlm. 258-264

Cerella, Antonio. 2016 “Space and Sovereignty: A Reverse Perspective” dalam Howland, D., Lillehoj, E., Mayer, M. (eds.), Art and Sovereignty. Palgrave Macmillan.

Danto, Arthur C. (Dec, 1998) “The end of Art: A philosophical Defense” History and Theory Vol. 37 no. 4 Theme Issue 37: Danto and His Chritics: Art History, Historiography and After the End of Art. Hlm. 127-143

Derian, James Der. 2009. “Cyberwar, Video Games and the Gulf War Syndrome” dalam Critical Practices of International Theory: Selected Essays. New York: Routledge.

Derian, James, D. “The (S)pace of International Relations: Simulation, Surveillance, and Speed.” International Studies Quarterly Vol. 34 No. 3, Special Issue: Speaking the Languange of Exile: Dissidence in International Studies (Sep, 1990). Pp. 295-310

Enwezor, Okwui. 2003 “The Postcolonial Constellation: Contemporary Art in a State of Permanent Transition”Research in African Literatures. Vol.34 No. 4 hlm. 57-82

Foucault, Michel. 1979. Discipline and punish: the birth of the prison. New York: Vintage Books.

Hall, Stuart. 1997. The Work of Representation: Cultural Representation and Signifying Practices. London: SAGE Publications

Jones, Jonathan. (1 Juli 2013) “Meschac Gaba’s anti-museum shows the strength of modern

African art”. The Guardian. (diakses pada: 19 Mei 2017 pukul 17.12) https://www.theguardian.com/artanddesign/jonathanjonesblog/2013/jul/01/meschac-gaba- museum-african-art

Moore, Cerwyn & Laura J. Shepherd. 2010. Aesthetics and International Relations: Towards a Global Politics, Global Society, 24:3, 299-309

Pantazis, Steve. 2014 “Meschac Gaba: Museum of Contemporary African Art 1997-2002” Journal of Contemporary African Art Vol. 4. hlm. 124-129

Raheja, Michelle. (Dec, 2007) “Reading Nanook’s Smile: Visual Sovereignty, Indigenous Revisions of Ethnography and “Atanarjuat (The Fast Runner)”” American Quarterly Vol. 59 No. 4. Hlm. 1159-1185

Scott, James. 1990 “Behind the Official Story” dalam Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts. London: Yale University Press.

Scott, James. Weapons of The Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (USA: Yale University Press)

To Top