Suar

Agama dan Kesurupan Massal

Beberapa tahun yang lalu, sering terjadi kesurupan (kemasukan setan atau mahkluk halus) secara massal. Anehnya, kesurupan massal ini menyerang pelajar dan kebanyakan pelajar perempuan. Memang aneh, mengapa “setan” senang memilih perempuan muda dan berstatus pelajar. Tidak hanya itu, jam kerja setan sama dengan jam atau waktu belajar di sekolah-sekolah, sehingga kesurupan massal umumnya terjadi di sekolah-sekolah dan pada waktu jam belajar. Setan juga tidak suka bekerja sendiri-sendiri, mereka solid menyerang para pelajar putri. Oleh karenanya, kesurupan yang terjadi adalah kesurupan massal.

Kesurupan setan yang melanda para pelajar putri ini, rupanya sudah jarang terdengar lagi. Apakah setan sedang beristirahat, atau mempunyai rencana lain yang baru? Atau setan sudah bosan merasuki pelajar putri? Atau, manusia sudah menemukan penangkalnya, sehingga saat ini tidak terdengar lagi kesurupan massal. Masih banyak pertanyaan yang lain, tapi semuanya itu belum ada jawaban yang pasti… setan memang misterius.

 

Kini, kesurupan massal sepertinya sudah tidak menjadi trending topik lagi. Tapi, kita – manusia— jangan senang dulu, setan tidak pernah tidur dan bosan menggoda manusia. Eh, ternyata benar, mereka hanya istirahat sebentar. Hanya saja sekarang mereka tak ingin dikenali sebagai setan lagi. Sebab, manusia terlalu mudah mengenali mereka sehingga manusia juga mudah mengusirnya. Coba kita perhatikan fenomena belakangan ini. Banyak orang kesetanan, setiap hari banyak manusia mengumbar kebencian, hasrat untuk menyakiti, bahkan bernafsu untuk membunuh manusia lain, namun mereka tidak menyadari apa yang sedang atau telah mereka lakukan. Ini namanya kerasukan atau kesurupan, sebab yang bersangkutan melakukan tanpa menyadarinya. Mereka kesurupan…mereka kesetanan. Kalau, yang seperti ini cara kerja setan, maka masih mudah diidentifikasi oleh manusia…oleh dukun-dukun manusia atau yang sering disebut dengan “orang pinter”. Kadang, para pemuka agama juga bisa dimintai bantuan untuk mengusir setan tersebut jika para dukun tidak ditakuti lagi oleh setan. Rupanya setan belum berhasil menyamar, sehingga dukun dan pemuka agama mampu mengenalinya, dan dengan demikian dengan mudah pula untuk mengusirnya.

Namun, kembali lagi, setan terus penasaran…mengapa manusia selalu mengenali identitasnya, terutama dukun/orang pinter dan pemuka agama. Setan tak pernah putus asa. Inilah nilai lebih dari setan, selain solid, mereka itu punya semangat pantang menyerah. Rupanya, sekarang membawa hasil.

Akhir-akhir ini banyak orang kesurupan “tuhan”. Banyak orang tanpa sadar telah menjadi tuhan. Mereka menghakimi sesamanya, bahkan merasa punya kewenangan atas nyawa manusia lainnya (yang merupakan kewenangan Tuhan Sang Khalik). Rupanya setan sudah berhasil menyamar menjadi tuhan. Oleh karena itu, janganlah heran jika dukun-dukun/orang pinter atau para tokoh agama tak berhasil menangkap atau mengusir tuhan (setan yang menyamar) yang merasuki mereka yang sedang kesurupan.

Dukun dan pemuka agama, dalam fenomena kesurupan tuhan ini, tak mungkin kita biarkan berjuang sendirian untuk mengusir setan yang menyamar sebagai tuhan ini. Kita semua perlu bahu-membahu (harus juga solid. Tidak boleh kalah solid dengan setan), dan perlu instrument hukum untuk menjeratnya agar para sponsor (setan yang merasuki mereka, yang menyamar jadi tuhan) dibelakangnya bisa ditangkap, dan diungkap identitasnya guna menyadarkan mereka yang kesurupan. Tanpa kerjasama semua pihak (yang tidak kesurupan) dan upaya penegakan hukum, maka akan sulit menghentikan kesurupan tuhan secara masal ini. Dan, untuk pencegahan kedepan (jangka panjang) diperlukan pendidikan yang memberikan berbagai wawasan (bukan wawasan tunggal) dan ​nation building (menanamkan nilai-nilai Pancasila) kepada para generasi penerus bangsa (setan suka dengan kaum muda), agar mereka nantinya bisa lebih mudah mengenali siapa setan (yang menyamar jadi tuhan) dan siapa Tuhan sesungguhnya … sehingga tidak mudah kesurupan tuhan (huruf kecil). Selamat hari jadi Pancasila.

To Top