Suar

Adu Domba #6: Permainan dan Selera Yaksa Agus VS Luddy Astaghis

Seri Pameran Adu Domba a la Sangkring Art Space telah memasuki putaran yang ke-6. Perlu menarik ingatan kembali bahwa perhelatan ini merupakan simulasi –meniru situasi adu domba, untuk mengetengahkan dua perupa dalam satu arena pameran. Karena bukan kompetisi, maka kemampuan teknis dan ketajaman konsep yang diadu bukan untuk memunculkan pemenang dan menyingkirkan yang kalah, melainkan untuk memberikan kondisi bagi seniman untuk siaga berkarya dan siap berwacana.

Pameran seri ke-6 ini menampilkan lukisan-lukisan Luddy Astaghis dan Yaksa Agus, dua perupa yang berbeda gaya melukis (how to say) dan berbeda penggunaan bahasa visualnya untuk menyampaikan pesan (what to say). Namun keduanya sama sepakat bahwa karya rupa tak bisa berdiri sendiri tanpa konteks sosial atau imun dari problematika kehidupan sehari-hari.

Yaksa:

Berpijak dari ajaran Jawa dari RM. Panji Sosrokartono “menang tanpa ngasorake”, bahwa kontestasi bukan sekedar perkara menang dan kalah, tetapi hendaknya menghidupi moralitas tentang bagaimana bersikap ksatria, jika menang maka tidak untuk merendahkan yang kalah. Untuk itu Yaksa lebih memilih dam-daman sebagai wahana kontestasi dalam karya-karyanya kali ini.

Berbeda dengan catur, permainan yang dalam bahasa lain dikenal sebagai bas-basan atau checker ini mengalahkan lawan dengan lebih santun. Tidak perlu menyingkirkan lawan untuk mendapatkan posisi atau ruang yang diinginkan, tetapi cukup hanya dengan melampauinya. Demikian moralitas yang diajarkan dalam permainan tradisional ini dan begitu pula pesan yang ingin disampaikan oleh Yaksa dalam lukisan-lukisan akrilik di atas kanvasnya. Ia membuatnya dalam dua sekuel yang masing-masing terdiri dari tiga panil. Seri pertama berjudul “Kopi Darat” yang masing-masing berukuran 100 Cm X 310 Cm.

Tiga panel ini merupakan gambaran ruang interaksinya bersama Goenawan Mohammad yang di dalam lukisannya itu ditampilkan sebagai pria dengan baju dan celana putih, duduk menghadap pembaca lukisan dan di sampingnya tergelar papan dam-daman yang diaminkannya bersama Yaksa di ujung papan yang lain. Pada suatu kesempatan GM –demikian sebutannya, pernah mengatakan bahwa jika dengan menggambar dan berpameran tidak laku maka ia akan kembali menulis. Pernyataan ini memberikan ide untuk berseloroh tentang dirinya, bahwa menulis itu sebagian ekspresi saja, sedangkan menulis dan melukis, keduanya sama-sama dilakukan.

Kopi Darat (2017), Yaksa Agus

Tiga lukisan dengan judul yang sama “Kopi Cangkir Blirik”, masing-masing berdimensi 145 Cm X 100 Cm, menjadi gambar permainan dam-daman Yaksa dengan tokoh seni rupa lainnya di Yogyakarta. “Kopi Cangkir Blirik #1” melawan Djoko Pekik yang lukisannya berjudul “Hari Pahlawan 10 November” dibuat tahun 2014 menjadi pemantik ide mengangkat dam-daman ke dalam Adu Domba #6. Sedangkan “Kopi Cangkir Blirik #2 merupakan momen ia melawan Heri Dono yang hanya terlihat gestur tubuh bagian belakangnya saja. Nasirun pun dilawannya di lukisan “Kopi Cangkir Blirik #3”. Ketiga seri ini merepresentasikan arena seni rupa Indonesia, di mana seorang perupa berkontestasi dengan perupa yang lain. Namun dari sekian banyak macam jenis kontestasi, Yaksa memilih karakter dam-daman, alih-alih pertandingan catur.

Setiap orang bisa sama kedudukannya/kekuatannya dan haknya. Setiap orang atau bidak hanya bisa melangkah satu langkas saja. Maju mundur kiri kanan seorng sesuai jalan garisnya. Ada kesempatan menyingkirkan atau memakan musuh, namun tidak secara langsung. Hanya bisa melompati/melewati tanpa merebut kedudukannya. Namun apabila ada kesempatan satu dua tiga lawan bisa dilewati sekligus.

Di permainan dam-daman, setiap bidak sama kedudukannya tanpa hierarki seperti bidak catur yang kedudukannya menentukan pola langkahnya. Dengan egaliter, setiap bidak sama dan setara dalam geraknya, yaitu ke kanan dan kiri, serong atau maju. Ia, mengasumsikan dirinya sebagai bidak di papan dam-daman yang bergerak melompati bidak lawannya untuk menang. Sebagai seniman, ia tak perlu menempati posisi perupa lain dengan cara menjatuhkan. Setiap perupa hanya perlu strategi yang terukur untuk melampaui perupa lainnya, bukan menyingkirkannya dari posisi yang telah diperjuangkan.

“Kopi Hari Ini” berukuran 140 Cm X 100 Cm merupakan karya yang berbeda namun menampilkan satu subyek yang hadir di semua karya Yaksa, yaitu kopi. Secangkir kopi dianggap sebagai medium strategi sosial yang lunak di tengah papan percaturan hidup yang makin keras. Karena secangkir kopi selalu layak mendampingi pertemuan-pertemuan, yang menghubungkan diri dengan orang lain, di ruang tamu, angkringan, pos ronda, café, di manapun. “Pertemuan” 145 Cm X 180 Cm merupakan deskripsi dari keterhubungan satu manusia dengan manusia lain tersebut untuk membentuk ikatan sosial.

Yaksa Agus, pelukis cum penulis dan kurator seni rupa ini memanisfestasikan wacana yang penting dalam situasi politik, ekonomi dan sosial aat sekarang ini ke dalam gaya melukis yang segar dan cenderung bermain-main. Di saat strategi licik penuh tipu daya menjadi panglima, dan upaya mengaburkan kebenaran dengan wacana yang seolah benar diviralkan tak terbendung, Yaksa menawarkan strategi bermain di arena sosial secara santun yang bisa diinisiasi kembali dari permainan tradisional dam-daman.

Luddy Astaghis

Tiga seri panil masing-masing berukuran 37 Cm X 129,5 Cm dengan cat akrilik di atas kanvas berjudul “Kamu Suka Yang Mana?” merupakan pertanyaan sekaligus tawaran Luddy sebagai pelukis kepada para penikmat seni untuk mempersoalkan selera. Pria yang pernah menerima penghargaan Pratisara Affandi Adi Karya Yogyakarta dan Indofood Art Award tahun 2002 ini membuat ketiga panil tersebut dengan narasi yang seolah berlapis-lapis. Seri “Kamu Suka Yang Mana” #1, terdiri dari tiga lapis narasi yaitu sepotong kepala ikan berkualitas fotografis, dua figur berhadapan berkarakter karikatur dan lapis ketiga berupa lukisan monokrom biru sebagai latar. “Kamu Suka Yang Mana” #2 merupakan tiga lapis kesatuan antara ayam panggang tampak seperti foto, dua figur karikatur dan latar berwarna monokrom salem. Sementara yang terakhir “Kamu Suka Yang Mana” #3 adalah rangkaian lapisan apel hijau, tiga orang figur dengan latar monokrom hijau.

Kepala ikan, ayam panggang dan apel hijau, masing-masing dimaksudkan oleh Luddy sebagai representasi simbolik dari selera. Dari sekian banyak hal tersedia, mengapa orang memilih yang berbeda dengan orang lain? Apa yang membuat selera satu orang dengan lainnya tidak sama? Mengapa Luddy menggunakan apel, ayam panggang dan kepala ikan sebagai preferensinya sendiri dari sekian banyak hal yang sebenarnya mampu mewakili wacana yang sedang diangkatnya, yaitu selera.

Pecinta Ikan Koi (2017) karya Luddy Astaghis

Studi tentang selera dan diskursus yang berkembang telah cukup tua dipelajari orang. Kant menyatakan bahwa selera adalah murni tanpa kepentingan dan tujuan, serta niscaya. Tetapi Bourdieu dalam surveinya yang panjang berhasil menganalisis bahwa selera, termasuk preferensi terhadap seni, dikonstruksi secara sosial dan merupakan produk adanya perbedaan kelas. Ia membedakan kelas selera tinggi atau disebut sebagai selera aristokrat dengan selera popular atau jelata. Kelas selera tinggi memandang dari aspek estetika semata yaitu bentuk dan perspektif, yang dipelajari di lembaga-lembaga pendidikan. Sehingga ia berjarak dan meniadakan kondisi obyektifnya. Sedangkan selera populer atau jelata berkembang lebih alamiah akibat persentuhan obyek tersebut dengan kehidupan kita sehari-hari, sehingga lebih dibaca atau dipahami aspek fungsinya.

Lebih jauh Bourdieu menyimpulkan bahwa selera merupakan relasi antara habitus, kapital dan arena sosial. Sehingga selera bukan sesuatu yang personal atau privat dan berorientasi pribadi, melainkan penanda orientasi sosial. Jika selera konsumsi seseorang menunjuk pada apel ketimbang ayam panggang dan ikan sebagai preferensi, maka sesungguhnya ia tidak sedang memilih secara bebas. Secara sederhana, pilihannya ini terbentuk dari produksi interaksi antara pola perilaku (habitus) tertentu, mungkin telah sejak lama mendapatkan manfaat mengkonsumsi apel bagi tubuh; kapital (sosial, budaya, ekonomi, politik) mungkin secara ekonomi mampu membeli; dan arena sosial di mana individu ini mungkin berada di lingkungan vegetarian.

Dengan kompleksitas yang berkelindan seperti di atas, Luddy menggelitik kesadaran kita bahwa selera orang niscaya berbeda karena konstruksi sosial yang melatarinya pun berbeda. Meskipun kemudian, muncul ide untuk mengelompokkan orang-orang dengan selera yang sama pada lingkungan yang lebih luas. Dengan cara bagaimana kita akan melihat karya Luddy? Dengan selera tinggi atau rendah? Apakah kita akan membacanya dengan kacamata yang hanya melihat forma estetis (perspektif dan bentuk) atau mengapresiasi fungsinya sebagai bahasa ungkap realitas sosial yang ada di sekiling kita? Distingsi tinggi-rendah ini mungkin tak bisa kita abaikan, tapi kita tak harus tunduk padanya. Sebab kita bisa mengapresiasi karya Luddy secara tinggi dan rendah, dari forma estetis sekaligus fungsinya.

Di karyanyanya yang lain “Pecinta Ikan Koki” berukuran 145 Cm X 200 Cm menggunakan cat akrilik di atas kanvas, Luddy menggiring ke alam imajinasi. Ia melukis banyak hal di dalam satu bidang kanvas yang terbuka untuk diterjemahkan, teks-teks berupa subyek-subyek yang lepas menggugah para pembaca karyanya untuk mencoba menemukan sendiri kaitan-kaitannya dalam konteks yang melingkupi.

Selamat menikmati permainan (dan) selera Yaksa dan Luddy!

To Top